Ledhek dari Blora 02 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ledhek dari Blora 02 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:01 Rating: 4,5

Ledhek dari Blora 02

APAKAH sekarang warung-warung itu masi ada?

Apakah sekarang ’Kampung Perkutut‘ itu masih ada?

Air Kali Lusi tampak keruh. Sampah berupa dedaunan, rerantingan dan sampai modern seperti plastik ikut hanyut. Sepuluh tahun yang lalu sampah modern seperti itu belum ada. Tetapi begitu kali ini memasuki kawasan hutan jati, ketika banjir yang ikut hanyut adalah batang-batang kayu jati dengan berbagai ukuran dan diameter. 

Batang batang kayu itu biasanya dihanyutkan ketika hari mulai gelap. Nanti sebelum kali itu masuk ke kawasan Gobrogan sudah ada orang-orang yang menarik batang batang kayu itu ke tepi. Itulah modus pencurian kayu jati kala itu. sekarang mungkin tekniknya sudah sangat canggih. Kalau dihanyutkan dengan cara seperti itu mudah dideteksi aparat keamanan. Kecuali memang ada kerjasama dengan mereka maka akan aman-aman saja.

”Kamu pura-pura belum pernah masuk ke Kampung Perkutut ya Sam,“ pesan Karso yang masih kuingat. ”Pura-pura baru pertama kali ini datang.“

”Lho, bukankah memang baru pertama kali ini aku datang? Itupun karena ajakanmu. Kalau sendiri tidak mungkin aku tahu tempat terpencil di tepi hutan jati ini,“ kilahku.

Bagi orang luar tidak mudah menemukan ’Kampung Perkutut‘ ni. Karena harus melewati jalan tanah di tepi Kali Lusi. Lewat jalan setapak di tengah hutan jati. Menerobos kegelapan. Bisa saja tiba-tiba di tengah jalan motor kami dihentikan kawanan begal. Kalau sampai itu terjadi, seesai. Mau teriak sekencang apa pun tidak akan ada orang yang membantu atau menolong. Andai saja ada polisi hutan yang patroli dan tau kami dibegal, dia tidak mungkin mau menolong. Karena dia pun ingin selamat.

Ketika tiba di tempat parkir, di situ ada lampu minyak untuk menerangi. Begitu jug adua warung yang buka tak jauh dari tempat parkir. Masih menggunakan penerangan lampu minyak.

”Nanti kalau kita bertemu di rumah yang kita tuju, pasti ada laki-laki yang bertanya, mau cari kutut Mas? Jawab saja, iya. Begitu ya Sam,“ pesan Karso. Pesan itu sudah kudengar lebih dari lima kali.

Karena konon begitulah tatakrama yang berlaku di situ. Masih ingat kami berdua masuk ke rumah yang berada dekat pintu masuk kampung sejenak, laki-laki itu langsung menanyakan maksud kedatangan kami. ”Mau cari perkutut?“

Aku mengangguk.

”Sebentar ya Mas,“ kata lelaki itu. Ia masuk kamar, sesaat kemudian keluar lagi sambil menggandeng anak umur sekitar tiga tahun. ”Saya carikan burungnya ya Mas. Tenang saja, tidak usah terburu-buru,“ katanya kemudian sambil meninggalkan ruang tamu dan keluar rumah.

”Sebentar lagi perkututnya keluar Sam,“ bisik Karso.

Aku menahan napas. Baru pertama kali ini memasuki suasana kampung yang aneh. Tidak lama kemudian dari dalam keluar seorang wanita mengenakan daster. Rambutnya dibiarkan terurai sampai pinggang. Dalam keremangan cahaya aku bisa tahu wajahnya lumayan cantik. Kulitnya tampak kuning bersih. Aneh, pikirku, bagaimana mungkin di pinggir hutan jati ada wanita berkulit kuning bersih. Bukankah di kampung ini tidak mudah memperoleh air bersih?

”Mas berdua dari mana?“ tanya perempuan itu.

”Dari Blora,” jawab Karso cepat. 

”Ooo, dekat saja.“

”Teman saya ini dari Jakarta. Tapi aslinya orang Yogya. Baru pertama kali datang kemari,“ lanjut Karso.

Wanita itu mengangguk-angguk sambil melempar senyum. ”Mau cari perkutut juga?” tanyanya kemudian.

”Iya. Mosok jauh-jauh cuma cari daun jati, hahaha...“ seloroh Karso sambil menendang kakiku.

”Ya monggo, masuk. Boleh lihat-lihat dulu burungnya. Kalau cocok silakan dibeli. Kalau tidak cocok ya tidak apa-apa kok,” kata wanita itu. Ia lalu berdiri menunggu reaksi kami.

Karso memberi isyarat dengan kedipan mata agar aku mengikuti wanita itu masuk ke dalam. Namun isyaratnya kujawab dengan gelengan kepala. Tendangan Karso ke kaki lebih keras. Lalu kubalas dengan tendangan yang sama. Akhirnya Karso berdiri dan mendekati diriku. ”Bagaimana kamu ini Sam?“ bisiknya. Nadanya memaksa agar aku mengikuti wanita itu masuk ke dalam.

”Aku tidak mau!“ tukasku.

”Lalu?“

”Kamu saja yang masuk ke dalam. Siapa tahu ada perkutut yang cocok dengan seleramu.“

”Terus kamu mau ke mana?“

”Cari perkutut di tempat lain.“

”Ooo, begitu ya?“

Aku mengangguk. Karso tersenyum sambil menepuk pundakku. 

”Yang mau lihat-lihat perkututnya saya kok,“ kata Karso kemudian.

Wanita itu menyambut dengan senyum. Tapi sorot matanya nanar menatapku. Raut wajahnya tampak kecewa. ”Saya tak lihat-lihat ke dalam ya Sam?“ kata Karso.

”Silakan. Aku mau lihat-lihat di tempat lain,“ kataku sambil meninggalkan ruang tamu.  (bersambung)-c


Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Budi Sardjono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 29 Januari 2017

0 Response to "Ledhek dari Blora 02"