Ledhek dari Blora 01 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Ledhek dari Blora 01 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:27 Rating: 4,5

Ledhek dari Blora 01

Sinopsis: 

Sebagai seorang ghost writer, aku mendapat order membuat biografi seorang pengusaha di Jakarta. Tapi sebelum menulis aku diminta melacak jejak keberadaan ledhek terkenal dari Blora bernama Sriyati. Ketika aku berusaha mencari jejaknya, justru nyawaku teranca,. Seorang anggota polisi yang baik hati memberi saran agar aku hati-hati jika mau melakukan investigasi reportase soal pencurian kayu jati dan pencurian minyak mentah. Di Blora hal itu sangat sensitif. Taruhannya nyawa melayang. Tapi aku mau mencari jejak seorang ledhek, mengapa nyawaku juga terancam? Apa hubungannya antara pengusaha kaya tadi dengan ledhek Sriyati? Ikuti kisahnya!

Melacak Jejak

HUJAN baru saja reda ketika aku memasuki pusat Kota Blora. Tidak segera menuju ke hotel lalu tidur. Untuk apa jauh-jauh datang kalau hanya untuk tidur. Aku minta sopir mengantarku sampai pinggir Kali Lusi. Setelah itu aku ingin sendiri.

Hanya beberapa menit aku minta diturunkan di pinggir kota. Lalu berjalan beberapa meter, Kali Lusi sudah ada di depan mata. Jika Pegunungan Kapur Utara hujan deras, kali ini pasti banjir. Di pegunungan kapur itu hilir kali ini. Lalu mengalir melewati hutan jati, pedusunan, daerah persawahan, dan masuk ke Grobogan, Purwodadi. Di sana Kali Lusi bergabung dengan Kali Serang, sebagian cabangnya masuk ke waduk Kedongombo, sebagian lagi bermuara di Laut Jawa.

Hmm. Nama kali itu begitu menancap di kepalaku. Karena beberapa kali disebut oleh seorang pengarang di dalam cerpen dan novelnya. Tidak ada yang istimewa. Pada musim kemarau kali ini nyaris tidak ada airnya. Pegunungan kapur tidak menghasilkan sumber-sumber air yang besar. Tanah kapur di Blora dan sekitarnya juga tidak menyimpan cadangan air yang memadai. Praktis di musim kemarau masyarakat Blora sering kesulitan mendapat air bersih. Dulu mereka harus mencari sumber air di tengah hutan jati. Sekarang tinggal angkat telepon tanki-tanki air akan datang dengan sendirinya.

”Kalau sampai di Blora, segera cari Sersan Mayor Purnawirawan Darpo. Rumahnya di Dusun Tangkil, tidak jauh dari pemukiman orang-orang Samin. Mudah-mudahan dia masih hidup,” pesan Mas Don. Nama lengkapnya aku tidak tahu. Bertemu orangnya juga belum pernah. Komunikasi yang terjadi selama ini kami lakukan lewat telepon, WS atau SMS. Untuk foto profil di WA Mas Don memasang foto burung elang yang sedang menukik. Aku sendiri memasang foto kamera dan laptop. 

Sepuluh tahun yang lalu aku pernah memasuki wilayah orang-orang Samin. Bersama Karso orang asli Blora, niatnya aku mau diantar untuk melihat-lihat ’Kampung Perkututi. Semua dusun terpencil dan berada persis di pinggir hutan jati. Namun sebelum sampai di ’Kampung Perkututi itu kami melewati wilayah orang-orang samin.

”Kalau mau beli rokok ambil saja, lalu masukkan uangmu ke toples yang sudah disediakan,” pesan Karso waktu itu. 

”Kalau minta kemablian?”

”Ambil saja jika di toples ada. Kalau toples kosong ya jangan berharap kamu dapat kembalian.”

”Apa warung itu tidak dijaga?“

”Orang Samin tidak mau menjaga warung.“

”Kenapa?“

”Karena mereka tidak mau mencurigai orang lain sebagai maling. Mereka itu menjunjung tinggi nilai-bilai kejujuran. Pola pikirnya polos.“

”Mereka tidak takut dagangannya diambil begitu saja tanpa dibayar?“

”Tidak ada yang berani begitu.“

”Takut disantet?“

”Orang Samin tidak mengenal santet.“

”Aneh ya,“ celetukku waktu itu. 

”Bagi orang Samin tidak aneh. Mereka memang begitu.“

Waktu itu di samping warung yang menjual rokok, ada juga warung minuman dan makanan kecil seperti kacang rebus dan pisang goreng. Minuman teh dalam gelas diletakkan di atas meja, begitu juga kacang dan rebus dan pisang goreng. Pembeli boleh minum berapa gelas dan makan sepuasnya semua yang terhidang. Setelah itu mereka diminta menghitung sendiri lalu meletakkan uangnya di bawah piring. mungkin bisa kelebihan, mungkin malah kurang.  (bersambung)-c


Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Budi Sardjono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 22 Januari 2017

0 Response to "Ledhek dari Blora 01"