Lelaki Tua yang Memotong Lidahnya | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lelaki Tua yang Memotong Lidahnya Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:34 Rating: 4,5

Lelaki Tua yang Memotong Lidahnya

PADA akhirnya lelaki tua itu memutuskan memotong lidahnya. Barangkali penyesalan memang tidaklah cukup baginya, bahkan kehilangan separuh lidah tidak akan mampu mengembalikan sesuatu yang berharga dalam hidup.

AKU melangkahkan kaki dengan malas di sepanjang trotoar yang diterangi remang-remang lampu jalan berjarak sekian meter antara satu dan lainnya. Tak ada tempat yang bisa kutuju. Aku sendirian terlunta-lunta tanpa alas kaki.

Jika saja ibu tahu aku di sini sendirian, dia pasti tidak akan membiarkannya. Dia akan menjerit panik dan segera menjemputku. Mengingat kota besar bisa membuat seorang anak berusia 12 tahun ini tenggelam dalam pusaran arus lautan kemerlapannya, atau bisa saja diterkam makhluk-makhluk buas pengacau keamanan kota. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan selain Tuhan, dan kemungkinan-kemungkinan itu hanyalah setangkup kekhawatiran yang tiba-tiba akan datang di kepala ibu.

Segala sesuatu memang serba terbalik di kota ini. Bukannya semakin sepi, semakin malam jalanan bertambah ramai. Ada pasangan yang saling bergandengan tangan lalu tersenyum malu-malu, ada beberapa wanita berkumpul di tempat duduk taman sambil tertawa cekikikan menatap ponsel mereka, setelah tadinya mereka berpose dengan banyak gaya yang sulit kumengerti.

Mengapa mereka terlihat seperti anjing di samping rumahku yang bersimpuh dengan juluran lidah ketika kubawakan makanan sisa? Wanita-wanita aneh! Jika kelak dewasa, aku tidak akan meniru gaya-gaya berpose mereka. Menggelikan!

Aku mendesah berat dan melanjutkan petualanganku malam ini, biarlah kuikuti saja ke mana kedua kaki ini terseret. Sejak awal tidak ada ingatan yang menjelaskan di mana aku  sebelumnya. Tiba-tiba saja aku sudah mendarat dengan kecepatan tinggi dan jatuh tersungkur di jalanan kota. Yang berbesit di telinga hanyalah suara ibu yang terus saja memanggil.

"Riana, Riana, Riana...," suaranya parau lalu memekik histeris seperti tercekik. Hatiku getir mendengarnya.

"Kau sendirian?"

Aku terhenyak. Entah sejak kapan seorang anak perempuan sepantaran denganku berdiri di sampingku dengan senyum lebar menampakkan gigi yang berbaris rapi.

"Iya," jawabku sekenanya. Siapa anak perempuan ini? Dari mana datangnya? Kenapa dia berkeliaran di jalan malam-malam begini? Kini beberapa pertanyaan menyerbu dinding kepalaku.

"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," katanya lagi.

"Menunjukkan sesuatu padaku?" tanyaku penuh keheranan. Aku sama sekali tidak mengerti. Mengapa anak perempuan ini seolah sudah mengenalku sejak lama?

Kamu siapa? tanyaku lagi sebelum dia semakin jauh membuatku penasaran dengan perkatannya yang penuh teka-teki.

"Kau tidak perlu bertanya, seorang lelaki telah memotong lidahnya karenamu."

"A... apa? Me.. memotong lidahnya karenaku?" tanyanya terbata-bata. Aku semakin bingung.

Anak perempuan itu mengatakan hal yang tidak masuk akal. Apa yang sebenarnya ingin ditunjukkan padaku. Ayo, kita pergi! Tempatnya tidak terlalu jauh.

Dia menjawil lenganku kemudian menyeret langkah. Aku baru tahu anak itu jalannya seok. Satu kakinya tampak kecil --berbeda dari kaki sebelumnya.

Sedangkan aku hanya menuruti saja kemana dia membawaku, seperti kerbau yang dicocok hidungnya.

**
KAMI tiba di halaman rumah semipermanen yang dipagari bunga-bunga bougenville berbentuk tak beraturan. Sepertinya aku pernah melihat rumah ini di mimpiku semalam, mengapa anak pincang ini membawaku ke sini? Apa dia tahu tentang mimpi itu? Kulayangkan pandangan pada anak perempuan itu dengan tatapan penuh pertanyaan.

Lalu tanpa melontarkan sepatah kata dia menuntunku masuk ke dalam rumah itu.

Tadinya urung kulakukan, tetapi pintu masuk rumah itu otomatis terbuka dengan sendirinya menampilkan seorang lelaki tua yang duduk termenung di sisi jendela.

Mulutnya menganga mengalirkan tetes liur yang jatuh perlahan. Tak ada lidah memanjang yang terjulur keluar, hanya separuh daging tak bertulang itu yang melekat terkulai dikelilingi gigi-gigi keropos.

Sebagian rambutnya telah memutih, garis-garis di wajahnya pun tergambar tegas. Tatapan matanya kosong --menggantung sembap.

"Siapa dia," tanyaku pada anak perempuan itu.

Aku terkesiap. Ketika menoleh, anak perempuan itu telah raib entah ke mana.

"Hey, kamu... kamu di mana? Apa yang sebenarnya ingin kau tunjukkan?"

Beberapa saat kemudian terdengar suara menjerit kesakitan dari dalam ruangan lain di rumah ini. Aku pergi untuk mencari tahu, ketika tiba di tempat asal suara itu, aku dipaksa untuk menyaksikan kilas balik setiap kejadian di rumah ini.

Aku terlahir sebagai anak pertama yang dinanti keluarga ini. Tak ada seorang pun yang tak bahagia dengan kehadiranku. Tawa si kecil yang renyah dan tanpa dosa telah membawa suasana baru. Ayah bekerja sebagai buruh di pabrik makanan ringan. Dan ibu juga bekerja di tempat yang sama. Ketika usiaku 7 tahun, aku sadar, aku memiliki ibu yang lembut dan ayah yang pemarah. Sedikit saja kesalahan yang kulakukan, ayah akan memukulku tanpa maaf. Kehidupan kami yang sederhana membuat ayah ingin aku menjadi anak yang mandiri.

Ketika aku merengek pad aibu ingin dibelikan sesuatu yang sangat kusukai, ayah akan membentakku tiada ampun. Hari-hari terus berlalu, trauma psikis itu se makin dalam menancap sanubariku. Tak ada suara yang paling kutakuti di dunia ini selain gelegar suara ayah.

Suatu hari ayah membeli ponsel baru. Aku senang sekali ketika hari itu ayah memperlihatkannya padaku, bahkan meminjamkannya untukku. Ada banyak permainan di dalamnya. Aku tak pernah bosan untuk terus memegang benda canggih itu. Bahkan aku menolak ajakan Suli untuk bermain di lapangan seperti yang biasa kulakukan dengan sahabatku yang jalannya seok itu. Astaga aku baru ingat, anak perempuan tadi adalah Suli.

"Suli... Suli... kau di mana?"

Suli tak menjawab. Aku menabur pandangan ke kiri dan kanan tapi Suli telah hilang. Aku menunduk kemudian mengempaskan diri di lantai bersemen kasar itu.

Kenangan kian jelas menyibakkan sekat-sekat hitam yang kujorokkan di ruang terkecil otakku.

Aku memperlihatkan ponsel terbaru ayah pada Suli. Dia senang bulan kepalang.

Aku bangga karena Suli iri padaku yang bisa bermain dengan leluasa. Tapi tanpa sengaja ponsel itu dijatuhkan oleh Suli. Ketika ayah tahu semua itu, ayah sangat marah. Dia memukulku hingga betis dan pantatku tercetak garis merah kebiruan.

Sakit sekali hingga menembus ulu hati. Dadaku sesak. Rasanya ingin mati saja. Sesaat aku merasa aku bukanlah anak ayah. Namun hari demi hari berlalu begitu cepat, ayah tetap bersikap baik padaku ketika aku tidak melakukan hal yang menurutnya suatu kesalahan. Aku kembali menyayangi ayah.

Di usiaku yang ke 9 tahun. Ibu diberi anugerah Tuhan untuk melahirkan satu bayi perempuan lagi. Wajah ayah dan ibu berbinar-binar kala itu, tapi sikap ayah padaku tidak berubah sama sekali. Dia tetaplah ayahku yang pemarah.

Hingga suatu hari ketika adikku telah berumur 3 tahun. Aku membawanya bermain bersama Suli di lapangan dekat rumah, tak jauh dari aliran sungai kecil.

Sore itu ayah dan ibu belum pulang dari pabrik dan ayah lupa membawa ponselnya. Untuk itulah aku berinisiatif untuk membawa ponsel itu bersamaku jika tahu-tahu ada orang penting yang akan menghubungi ayah.

Cuaca sore itu sangat cerah. Suli mengajakku untuk bermain lompat tali. Ya... meskipun aku tahu Suli akan sulit melakukannya tapi dia bersikeras. Aku pun tak kuasa menolaknya. Kuuturunkan adik lalu kududukkan ke rerumputan lapangan beserta ponsel ayah digenggamannya. Ketika sudah bermain, kami --anak-anak selalu lupa waktu. Aku dan Suli bercelooteh riang hingga senja hampir tenggelam. Kami memutuskan untuk pulang sebelum ayah dan ibu tiba lebih dulu di rumah.

Kemudina kugendong adik. Seketika aku tersadar ponsel ayah tidak ada di genggaman adik. Aku panik.

"Harus bagaimana, Suli? Aku takut ayah akan marah. Sebentar lagi mereka akan pulang," setengah terisak aku mengeluh pada Suli.

"Ayo kita cari dulu! Barangkali adik melemparnya ke parit," ucap Suli mencoba menenangkanku.

Berulangkali aku dan Suli mengorek-orek parit yang becek dan berlumut itu, tapi benda yang kami cari tak menunjukkan keberadaannya. Aku menyodorkan adik pada Suli dan melanjutkan pencarian. Sementara aku pulang ke rumah mengecek keberadaan ayah.

Dadaku berdebar kencang. Napasku memburu. Ketakutan kian menyelimuti perasaanku. Sebentar lagi siang akan berganti malam. Pikiranku kalut dan kacau.

Sekelebat bayangan kemarahan ayah menerorku tiada henti. Tanpa berpikir lagi kuikat kerudung panjang ibu di atas kayu melintang di langit-langit kamar. Aku memutuskan mengakhiri hidupku di hari itu. Tak ingin lagi kudengar kemarahan ayah dan tangis ratap ibu yang membelaku di hadapan ayah. Tiidak lagi ayah, kau pasti akan membunuhku jika ponsel itu tak bisa kutemukan. Sebelum semuanya terjadi, kukabulkan saja apa yang ingin ayah lakukan padaku.

Menyaksikan pemandangan itu, aku menangis sejadi-jadinya --berteriak histeris sembari menelungkupkan badan di lantai.

Di depan sana kulihat ayah datang melihatku yang telah tergantung meregang nyawa, kemudian Suli datang sambil menggendong adik dan menceritakan kebenaran.

Ibu memekik histeris, airmata yang tumpah tak pernah cukup untuk membuat anak mereka bangun lagi. Ayah berdiri kaku tanpa tahu apa yang harus dilakukannya.

Dia hanya menurunkan aku yang tergantung lemas dengan tangisan tertahan. Sejak hari itu rumah sekana bungkam.

Setiap hari ayah hanyut dalam kebisuan dan ibu hanya bisa meneteskan sisa buliran hangat kelenjar di kelopak matanya. Rona bahagia sudah pupus sama sekali dari wajah kedua manusia itu.

Di setiap malam-malam yang sepi ketika kerap ayah terbangun karena mimpi buruk, lelaki tua itu akan memotong lidahnya sendiri yang memuncratkan darah kental. Barangkali penyesalan memang tidaklah cukup baginya, bahkan kehilangan spearuh lidah tidak akan mampu mengembalikan sesuatu yang berharga dalam hidup.

"Jangan lakukan itu, Ayah! Kumohon jangan lakukan itu!" pekikku lalu buru-buru berdiri dan berlari pada lelaki tua yang memotong lidahnya itu. Aku mendekapnya erat, mencegahnya melakukan kebodohan. Namun semuanya sia-sia, karena bagi ayah, aku hanyalah semilir angin malam yang menawarkan gigil***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Windyani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggi 15 Januari 2017



0 Response to "Lelaki Tua yang Memotong Lidahnya"