Mata Sunyi - Litani Terima Kasih - Sebuah Cerita untuk Gus Dur - Sajak Balsem untuk Gus Mus - Jalan-jalan Bersama Presiden - Hati Jogja - Suwung | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mata Sunyi - Litani Terima Kasih - Sebuah Cerita untuk Gus Dur - Sajak Balsem untuk Gus Mus - Jalan-jalan Bersama Presiden - Hati Jogja - Suwung Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:01 Rating: 4,5

Mata Sunyi - Litani Terima Kasih - Sebuah Cerita untuk Gus Dur - Sajak Balsem untuk Gus Mus - Jalan-jalan Bersama Presiden - Hati Jogja - Suwung

Mata Sunyi

Tempat terindah
untuk cuci mata
ialah matamu: mata sunyi yang memancar
di balik keriuhan hari-hari dan keramaian kata-kata.

Matamu: rona langit jam lima pagi,
masa kanak yang terlahir kembali,
doa cerah seorang bocah,
kecantikan yang hangat dan rendah hati,
warna hujan di cerlang senja,
lampu tidur yang tak mau tidur,
nyala rindu yang menerangi cinta,
indonesia kecil yang pandai berbahagia.

Matamu: mata air
yang menyembul di rahim waktu
ketika magrib menggema dan pengembara
singgah sejenak membasuh muka, membaca tanda.

(Jokpin, 2016)

Litani Terima Kasih

Hati hujan yang menenangkan
Terima kasih
Mata malam yang meneduhkan
Terima kasih
Bibir kopi yang menghangatkan
Terima kasih

Ibu hujan yang mendaraskan rincik-rincik merdu
Terimalah kasihku
Lampu malam yang memancarkan cahaya biru
Terimalah kasihku
Cangkir kopi yang menampung segala rindu
Terimalah kasihku

Hati ibu yang berpendar sepanjang waktu
Aku terima kasihmu
Mata lampu yang menerangi halaman buku
Aku terima kasihmu
Bibir cangkir yang tahu pahit-manisnya bibirku
Aku terima kasihmu

Hujan, malam, kopi, dan kamu
Terima kasih

(Jokpin, 2016)

Sebuah Cerita untuk Gus Dur

Saya penduduk baru di kampung itu. Setelah
seminggu mendekam saja di rumah, akhirnya
saya berkenalan dengan seorang penduduk lama
yang supel dan ramah. Ternyata saya dan dia
sama-sama penyuka kopi yang sulit bangun pagi.

Suatu sore ia mengajak saya ngopi di rumahnya.
Ia menghidangkan kopi tokcer dan kue enak.
Kami berbahagia bersama, berbincang tentang
hubungan antara kopi, rindu, dan insomnia.

Saat saya bersiap pulang, tiba-tiba ia bertanya,
“Eh, agamamu apa?” Kepala saya tuing tuing.
Saya berpikir apakah kopi tokcer dan kue enak
yang membahagiakan itu mengandung agama.
Sambil buru-buru undur diri, saya menimpal,
“Tuhan saja tidak pernah bertanya apa agamaku.”

(Jokpin, 2016)

Hati Jogja

Dalam secangkir teh
ada hati Jogja yang lembut meleleh.
Dalam secangkir kopi
ada hati Jogja yang alon-alon waton hepi.
Dalam secangkir senja
ada hati Jogja yang hangat dan berbahaya.

(Jokpin, 2016)

Jalan-jalan Bersama Presiden

Saya dan presiden menyusuri jalanan kota
yang tadi siang dipadati ribuan pengunjuk rasa.

Desember dingin dan basah. Negara lelah.

Payung bergelantungan di dahan pohon.
Malam menggigil bersama ribuan slogan
yang menumpuk di tempat sampah.

Saya dan presiden tertegun di depan patung
yang sedang merenung. Presiden tiba-tiba
membacakan sepotong sajak Rendra:

“Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta.”

Sepi setuju. Saya dan patung terharu.
Angin membelai-belai jaket presidenku.

(Jokpin, 2016)

Suwung

Kepalaku rumah sakit jiwa yang kesepian
ditinggal penghuninya mudik liburan.

(Jokpin, 2014)

Sajak Balsem untuk Gus Mus

Akhir-akhir ini banyak
orang gila baru berkeliaran, Gus.
Orang-orang yang hidupnya
terlalu kenceng dan serius.
Seperti bocah tua yang fakir cinta.

Saban hari giat sembahyang.
Habis sembahyang terus mencaci.
Habis mencaci sembahyang lagi.
Habis sembahyang ngajak kelahi.

Dikit-dikit marah dan ngambek.
Dikit-dikit senggol bacok.
Hati kagak ada rendahnya.
Kepala kagak ada ademnya.
Menang umuk, kalah ngamuk.

Apa maunya? Maunya apa?
Dikasih permen minta es krim.
Dikasih es krim minta es teler.
Dikasih es teler minta teler.

Kita sih hepi-hepi saja, Gus:
ngeteh dan ngebul di beranda
bersama khong guan isi rengginang,
menyimak burung-burung
bermain puisi di dahan-dahan,
menyaksikan matahari
koprol di ujung petang.

Bahagia adalah memasuki hatimu
yang lapang dan sederhana,
hati yang seluas cakrawala.

(Jokpin, 2016)

Joko Pinurbo, lahir di Pelabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat. Ia tinggal di Yogyakarta dan berkhidmat di Forum Permenungan Tunggal. Puisi-puisinya terhimpun dalam buku Surat Kopi (2014), Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016), dan Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu
(2016).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Pinurbo 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Sabtu 7 Januari 2017

0 Response to "Mata Sunyi - Litani Terima Kasih - Sebuah Cerita untuk Gus Dur - Sajak Balsem untuk Gus Mus - Jalan-jalan Bersama Presiden - Hati Jogja - Suwung "