Mbak Tri | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mbak Tri Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:37 Rating: 4,5

Mbak Tri

TIDAK  ada yang meragukan sama sekali kesetiaan Mbak Tri, terhadap Mas Darman, suaminya. Juga tidak ada yang meragukan Mbak Tri benar-benar mencintai suaminya itu. Di kampung kami Mbak Tri dikenal sebagai perempuan gandes, luwes, merak ati. Bertemu siapa saja ia selalu senyum. Ia tidak pernah membeda-bedakan. Para tetangga menyukainya. Mbak Tri seorang penari yang sering mendapat panggilan menari di hotel-hotel atau kalau ada orang hajatan. Ia memang lulusan Sekolah Tinggi Karawitan jurusan seni tari. Sekali pun ia menguasai banyak jenis tari, tetapi spesialisasinya tari Jawa.

Namun entah karena apa perempuan secantik dan seluwes itu menerima pinangan Mas Darman yang di kampung kami dikenal sebagai laki-laki thukmis. Orangtuanya memang kaya, tetapi menurut penilaian banyak orang, Mas Darman bukan laki-laki ideal. Bahkan di antara para gadis di kampung kami, tidak ada yang menyukai Mas Darman. Siapa yang suka pemuda luntang-lantung, bekerja tidak, sekolah pun tidak. Ternyata para gadis di kampung kami tidak pernah tertarik pada kekayaan orangtua Mas Darman.

Oleh karena itu ketika mendengar kabar Mbak Tri menerima lamaran Mas Darman, semua orang heran dan mencoba tidak percaya. Namun toh mereka tidak bisa menolak kenyataan ’pahit‘ itu. Bagi perempuan-perempuan di kampung kami, berita tersebut tidak saja pahit tapi lebih dari itu merupakan sebuah ’musibah‘. Banyak orang menduga, di balik ’penerimaan‘ itu terdapat misteri yang hanya diketahui Mbak Tri dan mungkin Mas Darman sendiri. 

Mbak Tri perempuan malang. Setelah usaha orang tua Mas Darman bangkrut dan mereka jatuh miskin, tidak ada juga perubahan dalam diri laki-laki itu. Mas Darman tak menyadari bahwa ia tidak lagi memeroleh subsidi dari ayahnya. ia masih juga luntang-lantung jadi pengangguran. Mbak Tri terpaksa mobat-mabit mencari uang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Sementara Mas Darman tenang-tenang saja, tiap hari meteti burung perkututnya yang tidak pernah keluar ’kung‘-nya itu.

Orang masih tetap melihat senyum Mbak Tri. Kendati siang malam ia harus bekerja keras. Siang mengajar di sekolah tari dan di sanggar-sanggar. Malam menari di hotel. Padahal berapa honor seorang penari solo tanpa manajemen seperti Mbak Tri. Bandingkan misalnya dengan penghasilan seorang penyanyi yang kendati hanya bermodal bokong besar dengan vokal pas-pasan. 

”Lha yok apa maneh, Dik. Sampeyan sendiri tahu Mas Darman tidak bekerja,” ujarnya kepada saya, suatu sore.

Mbak Tri pantang menceritakan kesulitan rumah tangganya kepada orang lain. Hanya kepada saya, ia mau sedikit terbuka.

”Kok ndak disuruh bekerja, Mbak?

“Kerja apa? Yah itulah susahnya kalau masa muda hanya dihabiskan untuk senang-senang. Dulu ada yang diandalkan. Sekarang? Mas Darman itu kan tidak punya keterampilan apa-apa. Apalagi keahlian. Apa ya pantas mantan anak orang kaya disuruh ngojek?“

Saya tertawa. Mbak Tri masih bisa melucu. Agak lama ia memadang saya. Matanya bulat indah, sesekali tampak gemerlap. 

Ada sementara ibu yang menyarankan agar Mbak Tri minta cerai. Tapi mana mungkin Mbak Tri menuruti saran itu. ”Saya kan sudah memilih Mas Darman sebagai suami. Saya harus menerima dia apa adanya. Itu merupakan konsekuensi dari pilihan saya.” Itu selalu dikatakan kepada setiap orang yang menyarankan cerai.

Barangkali memang tidak bisa diragukan kesetiaan Mbak Tri kepada Mas Darman. Orang-orang hanya menggeleng-gelengkan kepala ketika menyaksikan Mbak Tri tergesa-gesa naik mobil hotel yang menjemputnya pada sore hari. Sedang Mas Darman asyik dengan ayam jagonya di halaman, melirik pun tidak.

Mbak Tri baiknya seperti bidarari. Aturannya dia itu kan istri mentri, dirjen atau paling rendah bupati. Namun siapa yang bisa mengerti misteri kehendak Yang Maha Kuasa? Dulu memang ada cerita miring tentang pernikahan Mbak Tri dengan Mas Darman. Ada yang bilang Mbak Tri terkena guna-guna. Yang lain mengatakan Mbak Tri terpaksa menerima Mas Darman setelah diperkosa. Yang lain lagi mengatakan Mbak Tri hamil dengan laki-laki tak bertanggung jawab. Dan Mas Darman sanggup menutupi aibnya. Dugaan mana yang benar tidak ada yang tahu. Tapi dugaan yang terakhir itu banyak disangsikan. Buktinya sampai sekarang Mbak Tri belum punya anak. Jelasnya, mereka memercayai dugaan yang terakhir itu hanyalah rekayasa dari orang-orang yang tidak suka kepada Mbak Tri.

***
MEMANG mengejutkan kalau hari itu terjadi peristiwa mengerikan dalam keluarga Mbak Tri. Terdengar jeritan kesakitan dari rumah tersebut. Saya dan tetangga dekat lain menghambur ke rumah Mbak Tri. Tampak Mbak Tri menangis histeris sambil memegang sebuah golok berlumuran darah. Di dekat kakinya tergeletak seorang laki-laki  dengan penuh luka bacokan. Kami memang sudah mengenal laki-laki itu. selama ini dia kami kenal bernama Om Kajar, teman dekat Mas Darman. Om Kajar memang sering datang ke rumah Mbak Tri. Para tetangga menduga, Om Kajar orang kaya karena kalau sudah datang selalu membawa mobil bagus. Menurut pengakuan Mas Darman, Om Kajar kolega bisnisnya. Namun kami tidak tahu bisnis mereka. Yang terang Mas Darman sering pergi bersama Om Kajar dengan mobil bagusnya itu.

Melihat kedatangan kami Mbak Tri langsung menubruk aku dan memeluk tubuhku erat-erat. 
”Yok apa, Diiiik. Aku mateni uwong.“

Lalu tangis perempuan itu meledak. Namun ternyata Om Kajar belum mati. Karna kecekatan para tetangga, ambulans cepat datang dan Om Kajar dibawa ke rumah sakit. Beberapa saat kemudian kami memeroleh kabar, nyawa Om Kajar berhasil diselamatkan. Dengan cepat polisi datang lalu membawa Mbak Tri ke kantor polisi. Saya tidak sampai hati melepaskan Mbak Tri sendiri. Maka saya terus mendampingi. Apalagi para tetangga setuju kalau saya yang mendampingi Mbak Tri dalam rangka proses verbal. Barangkali karena saya sarjana hukum sehingga para tetangga memercayai saya. Padahal saya sarjana hukum yang kesasar jadi penyair. Sedang Mas Darman yang diduga dapat menguraikan apa yang terjadi malah menghilang tak tentu rimbanya. 

Dalam perjalanan dalam mobil polisi aku terus berusaha menenangkan Mbak Tri.

”Aku wis gak kuat, Dik. Mas Darman sudah sangat keterlaluan. Coba istrinya sendiri dijual. Aku iki kurang apa to, Diiiik? Kedungsangan golek pangan.”

”Sampai sebegitu, Mbak?”

”Mudah-mudahan Dik Bani percaya kepada saya.”

”Saya percaya, Mbak. Secara moral, Mbak Tri juga didukung para tetangga. Kami tahu betul siapa Mbak Tri dan siapa Mas Darman.”

”Terima kasih, Dik. Saya pasti dihukum berat. Saya ini pembunuh.”

”Mbak Tri bukan pembunuh. Sampeyan hanya melakukan percobaan pembunuhan.”

”Kok begitu?”

”Om Kajar masih hidup.”

Dengan serta-merta Mbak Tri menubruk tubuhku dan menangis sesenggukan. Saya tidak tahu makna tangis tersebut. Tangis sedih atau gembira.

Di depan polisi Mbak Tri terus terang mengakui perbuatannya menganiaya Om Kajar. Sore itu Om Kajar datang ketika Mas Darman tidak ad di rumah. Pada awalnya Om Kajar juga bersikap biasa-biasa saja. Mbak Tri juga tidak curiga apa-apa karena lelaki itu memang teman dekat suaminya. Tetapi lama-lama Om Kajar jadi ngelantur. Bahkan Om Kajar berani pegang-pegang tangan seagla. Klimaknya Om Kajar merayu Mbak Tri untuk berbuat layaknya suami istri. Tentu saja Mbak Tri menolak dengan keras. Dengan marah Om Kajar mengatakan bahwa yang dia lakukan sudah mendapat persetujuan Mas Darman. Mas Darman menerima sejumlah uang dari Om Kajar. Ketika Om Kajar mencoba memerkosa itulah penganiayaan itu terjadi. 

Selesai proses verbal Mbak Tri kembali menangis histeris. Dibantu beberapa polisi saya berusaha menenangkannya.

Tiba-tiba muncul perasaan aneh dalam diri saya terhadap Mbak Tri. Apakah aku sudah jatuh cinta? Dua hari kemudian tersiar kabar Mas Darman tewas tertabrak mobil. Aku tidak tahu apakah saya sedih atau sebaliknya, apakah saya justru gembira. Yang jelas muncul niat saya untuk setia mengunjungi Mbak Tri kalau ia harus menjalani hukuman. • (k)

Achmad Munif: mantan jurnalis, cerpenis, novelis, pernah mengajar mata kuliah penulisan naskah fiksi di jurusan KPI Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Novelnya yang telah terbit: Perempuan Yogya, Merpati Biru, Sang Penindas, Kasidah Lereng Bukit, Kasidah Sunyi, Lipstick, Primadona, Terbanglah Merpati, Tikungan dan masih banyak lagi. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Achmad Munif
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 8 Januari 2017

0 Response to "Mbak Tri"