Menabung Waktu - Pengentuk Rindu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Menabung Waktu - Pengentuk Rindu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:09 Rating: 4,5

Menabung Waktu - Pengentuk Rindu

Menabung Waktu

Gundukan waktu mulai kupintal
kumasukkan dalma celengan kecil
bernama harapan

Tidak ada yang bisa menyentuhnya
selain dengan tatapan teduh
dan lengkung senyum paling khas
milik lesung pipimu

Seperti airmata kecil yang tersebar
di tiap sudut mata kala tersenyum
tak pernah meminta jatuh dari peraduannya

Begitupun dengan pintalan waktu
yang kuniatkan untukmu nanti
ia akan mengembang menjadi istana
lengkap dengan bunga-bunga
dan manik-manik di tiap dindingnya

Di bagian tengah istana yang menghadap pintu
kuletakkan kursi paling istmewa untuk kita duduk dna berbincang
bersama ratusan pasang mata
yang tertuju pada kita

Aku yang masih terikat oleh waktu
dan kau yang belum bisa bersahabat dengan waktu
masih setia menungu waktu itu tiba

Pengentuk Rindu

Aku berbicara pada langit retak sore itu
sementara kau masih mendamaikan rindu

Aku merenungi rindu yang damai
lalu kau memasuki sebuah pintu 
kapan saja aku bisa ketuk pintu itu, katamu
tapi cuaca menggugurkan kayu
kemudian memasukkannya ke dalam saku celana waktu

Kau hadirkan jendela di bibir hatimu
agar kau bisa menembus poros dada ini
sementara kau lupa
kau masih bernapas di jantung hatiku


Hikmawan Nurdiansyah merupakan tenaga pendidik di SMA Insan Cendekia Madani BSD. Selama berkuliah menjadi anggota dan pengurus Bengkel Sastra UNJ.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hikmawan Nurdiansyah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi 29 Januari 2017


0 Response to "Menabung Waktu - Pengentuk Rindu"