Pintu Hijau 22 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pintu Hijau 22 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:52 Rating: 4,5

Pintu Hijau 22

DUA orang yang menyeret Imah sudah berhenti menyeretnya. Mereka seperti terkejut dengan perkataanku. Imah berkata keras, ”Mudinar itu kurangajar! Dia tidak punya perasaan. Tidak tahu Malina sedang hamil masih saja nafsunya melunjak. Binatang saja tidak begitu. Dasar, iblis!”

Suliman diam terpaku mendengar Imah berbicara begitu, Bang. Lalu dia beranjak pergi mengajak Mudinar dan dua orang lainnya keluar. Aku dan Imah dibiarkan begitu saja, Bang.

Dan sejak peristiwa itu Mudinar menghilang, Bang. Tak lama setelah itu, aku lihat selalu ada orang-orang berseragam abu-abu tua, semuanya laki-laki, mendatangi Pintu Hijau. Bahkan setiap hari. Sejak itu pula, Suliman berhenti menyiksaku dan dia lebih sibu menemui irang-orang berseragam itu.

Malina.

***
”ANTARKAN aku ke makam Nenekmu, Nak,“ kata kakek padaku beberapa saat setelah ibu membaca lembar surat terakhir Malina.

”Larut malam begini, Kek?“ Aku bertanya heran.

”Iya,“ jawab kakek singkat.

”Sama Ibu juga, Kek?“ tanyaku.

”Iya, Nak.“ 

Begitulah kami bertiga berangkat menembus larut malam menuju makam nenek. Selama di perjalanan menuju makam kami diam saja. ibu di samping kiriku menatap lurus ke depan dan kakek di jok belakang, kulihat dari spion tengah mobil, juga sama dengan ibu. Memandang lurus ke depan tanpa berkata-kata. Aku mengemudi mobil dengan dada berdebar.

Sepanjang perjalanan sebelum sampai ke pemakaman, aku merasa malam begitu mencekam. Terus mencekam ketika akhirnya kami tiba di pemakaman. Sekitar tiga perempat jam kemudian kami sampai di pemakaman umum kota. 

Mobil aku parkir di depan pintu pagar pemakaman. Kakek masuk ke kompleks pemakaman terlebih dahulu. Ibu menyusul di belakang kakek. Aku di belakang ibu. Angin malam pemakaman berhembus. Dadaku yang berdebar sejak dalam perjalanan, bertambah meningkat. Aku tiba-tiba takut pada makam dan malam.

Terus kami berjalan beriringan di tengah makam yang banyak dan membeku. Aku ingin bilang pada ibu bahwa aku takut, tapi lidahku terasa kelu. Sampailah kami di makam nenek. Kami berdiri di sisi kiri makam. Daun-daun pohon kamboja di sekitar makan berjatuhan. Suara jatuhnya terdengar keras di tengah malam yang sunyi mencekam.

Lampu-lampu di pagar pemakaman tak mampu menebar cahayanya ke makam nenek. Kondisi makam di tengah malam yang larut gelap remang-remang. Kuperhatikan kakek. Beliau menatap kuburan nenek dan tatapannya berhenti di nisan. Kakek menatap nisan sampai lama dan kemudian beliau menyentuh dan mengusap-ngusap nisan dengan tangan kanan.

Lagi-lagi angin berhembus. Buku kudukku berdiri. Ibu mematung melihat kakek. Kemudian kakek menghentikan usapannya lalu mengambil korek gas dalam saku jaketnya. Kakek menyalakan lampu di korek itu dan mengarahkan cahayanya ke nisan.

Tanpa berbicara apa-apa, kakek memberikan korek gas yang lampunnya menyala itu pada ibu. Ibu menerimanya dan tanpa diminta ibu mengarahkan lampu korek ke nisan nenek.

Kuperhatikan kakek. Beliau mengambil sesuatu dari saku kiri jaketnya. Sesuatu yang tak kutahu apa itu lalu didekatkan ke nisan nenek. Aku lihat, baru aku tahu itu cat semprot. Kakek menyemprotkan cat itu ke nama di nisan. Kakek diam beberapa saat. Lampu yang dipegang ibu masih bersinar di nisan. Nama nenek di nisa telah hilang. hanya tinggal tanggal lahir dan tanggal meninggalnya.

Kuperhatikan lagi kakek. Kakek masih diam, seperti mengumpulkan tenaga. Tangan kanan kakek bergerak, mengambil sesuatu dari saku dalam jaket. Sesuatu itu didekatkan ke nisan. Kulihat ternyata spidol.

Kuperhatikan ibu. Ibu melihat dengan seksama apa yang dilakukan kakek. Pandangan ibu terpaku pada nisan. Kulihat kakek menuliskan beberapa huruf di nisan yang tadi disemprotnya dengan cat putih itu.

Kakek menulisnya dengan pelan. Sangat hati-hati dan jelas kulihat tangan kakek bergetar ketika menuliskan huruf-huruf itu. kuperhatikan yang ditulis kakek. Saat memerhatikan, aku terbayang wajah nenek. Aku mengalami perasaan bercampur aduk ketika membaca nama yang ditulis kakek: takjub, heran, tak percaya dan entah apa lagi.

Huruf-huruf yang ditulis kakek seperti melayang-layang di mataku. Beberapa saat aku tak mampu mengucapkannya. Bahkan dalam hati tak bisa. Aku hanya melihatnya. Nama itu akrab dengan telingaku sejak tujuh malam lalu.

Ibu bergumam, lirih, seperti tanda sadar: Fa-ti-mah.

Aku mengucek-ucek mataku. Aku merasa tak yakin dengan yang kulihat. Masih tak berubah. Tetap Fatimah. Bukan lagi Salamah.

Ibu terpaku. Aku tak tahu apa yang tengah bergolak di dalam pikiran dan hati ibu. Kakek berdiri dan beliau beranjak lewat di belakang ibu dan aku. Kuarahkan pandangan ke kakek yang berjalan ke arah pintu pagar pemakaman. Ibu masih berdiri di sampingku. Korek lampu jatuh dari tangannya.  (bersambung)-c


Rachem Siyaeza: lahir di Pajagungan, 2 September 1988, sebuah kampung kecil di ujung timur Pulau Madura, Kuliah di  Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga tahun 2007 dan lulus 2015. Beberapa tulisannya termaktub dalam bunga rampai kumpulan ceriat pendek Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009), Tiga Peluru (Kummpulan Cerpen Pilihan Minggu Pagi Yogyakarta 2010, editor Latief Noor Rochmand) Riwayat Langgar (2011), Love Autumn (2012). Bermukim di Yogyakarta. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rachem Siyaeza
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 8 Januari 2017

0 Response to "Pintu Hijau 22"