Ranjang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ranjang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:41 Rating: 4,5

Ranjang

ENTAH mengapa akhir-akhir ini Sam merasa jauh sekali dengan istrinya. Betapa pun ketika bertemu di atas ranjang. Seperti ada sebuah pulau yang memisahkan mereka berdua. Pulau di atas ranjang. Dan Sam terombang-ambing sendirian di samudera kesepian.

”Bagaimana pamerannya, Mas?”

”Bagus. Ada tiga lukisan yang terjual dengan harga yang tak mengecewakan. Apresiasi para pengunjung juga positif. Bahkan ada sebuah koran nasional yang datang kepadaku, dan minta dibuatkan ilustrasi untuk salah satu cerpennya. Ada pula seorang pejabat yang memintaku melukis dirinya, dengan gaya khas lukisku.”

Tanpa diminta, perempuan itu kemudian ganti bercerita tentang dirinya sendiri.

”Kemarin aku mendapatkan undangan dari Kedubes Belanda, Mas. Untuk Festival tahunan di Tropen Museum. Aku dan Ira mesti mulai berlatih lagi, demi menciptakan gerakan-gerakan baru.“

Cerita itu berdengung dan melingkar-lingkar di dalam kepala Sam. Lalu entah bagaimana. Tiba-tiba saja ia merasa telah berada di sebuah pulau. Pulau yang luasnya hanya selebar ranjang mereka. Tak ada apa pun atau siapa pun di situ selain pasir putih dan mereka berdua, di tengah-tengah kepungan samudera raya. 

”Bagaimana kalau kita bercerita tentang senja saja.“ Sam menyela suara istrinya yang melingkar-lingkar itu, seraya menunjuk ke salah satu ufuk langit yang hendak menelan bulat-bulat matahari warna keemasan.

”Mari kita lupakan sejenak dunia tari dan dunia lukis yang membosankan.”

Tapi istrinya masih saja berceloteh tentang kehidupan lain, kehidupan asing di sebuah pulau asing yang tak Sam pahami. Istrinya ingin tinggal lama di sana, menjadi seseorang yang diperhatikan banyak orang di sana, menikmati hidup sebagai orang terpandang, keluar dari pulau kecil yang sempit dan menjemukan itu. 

”Takkah kau sesekali ingin sepenuhnya tinggal di sini? Kita bikin pulau kecil ini menjadi tempat yang menyenangkan, yang akan membuat kita betah berlama-lama tinggal berdua.“ Sam meraih tubuh sang istri.

Perempuan itu justru mengernyitkan kening, ”Bukannya itu terdengar akan sangat membosankan, Mas? Kita tidak seharusnya membatasi dunia dengan hanya definisi kau dan aku, milikku dan milikmu. Bukankah dunia itu amat luas? Aku juga ingin menjadi milik dunia.“

Sam terpaku.

***
PULAU kecil itu kini Sam sendirian. Hanya ada sepi yang menemani, yang kadangkala mengajaknya bercakap tentang dunianya sendiri, atau kadang hanya menjadi pendengar setia saja.

Di pulaunya itu kadangkala Sam juga bisa melihat pulau-pulau lain, yang timbul tenggelam terhalang samudera kesunyian, yang salah satunya ia kira tempat istrinya berada.

”Chungjangnaro, Mas. Aku akan tampil menari di sana. UNESCO yang mensponsori. Sudah lama juga aku memendam keinginan mengunjungi negeri ginseng. Ah, tak dinyana sekarang kesampaian juga,” tutur istrinya ketika itu, dengan mata berbinar-binar.

”Berapa lama?“ tanya Sam, pendek. Tak ingin rasa cemburnya terlihat. 

“Paling cuma tiga atau empat hari,” jawab perempuan itu seraya mendaratkan sebuah kecupan. Seperti sebuah kompensasi kecil yang ia berikan atas kesediaan Sam untuk mengalah.

Iya, cuma tiga atau empat hari. Tapi, harga yang harus Sam relakan untuk membayarnya justru lebih mahal. Hampir setiap malam, sejak undangan ia terima, perempuan itu akan berlayar ke pulaunya sendiri. Tanpa memedulikan Sam lagi. sebuah pulau terpencil, jauh dari pulau tempat Sam meratapi kesendirian. Sam harus menerima kesepian itu rela atau tak reala. Andai saja pernikahan yang sudah lima tahun berjalan ini dikaruniai kehadiran seorang anak, mungkin ia tak akan seperti itu. Mungkin Sam juga takkan mudah selalu menjadi bulan-bulanan sepi. 

Sesekali ia memang bisa menghibur diri dengan lari ke dunia lukis yang telah ia geluti sejak masih lajang. Sebenarnya ia sudah akrab dengan kesepian. Sam bahkan bisa mendapati riuh dalam sepi tatkala ide-ide kreatif singgah ke dalam kepalanya. Ide-ide itu selalu mengajaknya sibuk dan melupakan sepi yang sedang mengepuh, hingga waktu terlipa sempurna dalam ketidaksadaran.

Tapi, begitu sadar dan kembali kealam nyata, Sam harus teronggok sendirian dalam kehampaan. Pernikahan bukanlah apa-apa baginya. Anak-anak hanyalah kebohongan yang ia buat sendir demi memanggil harapan-harapan semu. Dan lima tahun pernikahannya telah berjalan seperti itu.

***
”NAMANYA Mona,” sahut Sam.

”Monalisa?”

”Tentu saja bukan.“

”Monalisa Indonesia.“ Lelaki muda berpenampilan parlente itu terpaku di hadapan sebuah lukisan cantik. Ia baru saja menyatakan perasaan jatuh cinta dan pinangannya di hadapan Sam. Sayangnya keinginan itu harus bertepuk sebelah tangan.

”Kenapa kau meletakkannya di situ jika tak boleh ditawar?“ bujuk lelaki muda itu, sembari mengedarkan pandang ke seluruh lukisan yang menghuni ruang galeri itu. Memang hanya ’Mona‘ yang sanggup menaklukkan hatinya.

”Aku hanya ingin jujur. Setidaknya, seluruh perasaanku sudah kuperlihatkan kepada dunia.“

”Apa ’Mona‘ begitu istimewa sekali buatmu? Foto istrikah?“

”Hahaha, bukan. Buat apa aku melukis wajah istri? Bukankah ia sudah menjadi milikku?“ Kalimat itu seperti bergema dalam ruang kosong tak bertepi dalam dada Sam. Hampa.

Tak hanya lelaki muda itu seorang yang kemudian menanyakan ’Mona‘. Dalam setiap pameran lukisan yang diisi Sam, pasti akan selalu ada penawar ’Mona‘.

”Aku tahu ini hanya lukisan. Tapi entah kenapa, sejak pertama kali melihatnya, aku merasa ’Mona‘ sepertinya hidup,“ komentar Pak Hendra, pensiunan pejabat yang kemudian menjadi seorang kurator lukisan. Pak Hendra juga semapt bertanya perihal proses kreatif saat Sam melahirkan ’Mona‘.

Lagi-lagi Sam hanyatertawa. Apakah itu penting? Tanyanya kepada Pak Hendra. Ia sendiri tak bisa menjawab dengan pasti pertanyaan itu. Entah. Yang ia ingat tentang ’Mona’ hanyalah detik-detik kesepian yang harus ia hadapi. Di pulau itu.

Hanya ’Mona’-lah yang menemani Sam selama kepergian sang istri. ’Mona’ pendengar yang baik, dan sahabat yang selalu mengerti segala keluhan Sam. Sekeruh apa pun cerita Sam, ’Mona’ selalu menampungnya hingga kemudian menjadi jernih dengan sendirinya.

”Katakan padaku, apakah aku harus melarangnya pergi dari sini?” tanya Sam seraya menatap kosong samudera sepi yang mengepung pulau kecilnya.

”Aku sendiri tak ingin terkurung sepi di sini. Bagaimana bisa aku melarangnya pergi?“ Dada Sam tergetar kalimatnya sendiri.

”Karena itulah aku membutuhkamu.“ Sam menatap ’Mona‘ dengan perasaan tak terjabar. ”Tanpa dirimu, mungkin mereka tak akan pernah lahir.“ Beralih memandangi deretan lukisan serupa bayi-bayi mungil yang memenuhi pulau kecilnya. 

Suatu hari, ketika kerinduannya tak bisa lagi dibendung, Sam pernah nekat berperahu ke arah pulau-pulau yang ia duga pernah disinggahi istrinya. Alangkah terkejutnya Sam tatkala baru tahu bahwa istirnya telah menjadi ikon kecantikan, keanggunan, dan segala yang berbau kemewahan di sana. Padahal selama tinggal berdua di sebuah pulau dengan Sam seorang, ia benar-benar merasa seperti orang termalang dan termiskin di dunia.

***
”AKU dan teman-teman akan mendirikan sanggar tari bersama, Mas. Yogya menjadi markasnya. Ada teman dari Sumatera barat, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Jawa Barat, Jawa Timur, bahkan dari Singapura juga bergabung. Jadi, kalau misal ada murid yang menginginkan belajar Jaipong sekaligus Pendet, sanggar tari bersama itu bisa membantu mewujudkan keinginannya.

”Jadi, kamu akan terbang ke Yogya sepekan sekali?“

”Iya. Aku kebagian jadwal hari Senin. Boleh ya, Mas?“ Menggoyang lengan kanan Sam. Langsung mendaratkan kecupan saat Sam lama tak mengeluarkan jawaban

Sam memunggungi istrinya yang tertidur setelah perempuan itu puas mengeluarkan semua cerita yang ia simpan. Dalam diamnya itu, Sam mulai terasa terdampar di sebuah pulau. Sebuah pulau kecil di tengah-tengah kepungan samudera kesepian. Sebuah pulau yang hanya seluas ranjangnya. Hanya ada dirinya dan ’Mona’ di pulau itu.

Tiba-tiba Sam ingin memeluk ’Mona‘ seerat mungkin, dan lalu berbagi kesepian yang selama ini amat menderanya. Sangat. 

• Kalinyamatan Jepara, 2015

Adi Zamzam (Nur Hadi): tinggal di Desa Banyuputih RT/RW 11/03 No 70 Gg Masjid Baitush Shamad Kalinyamatan Jepara 59868

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adi Zamzam
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 1 Januari 2016 

0 Response to "Ranjang"