Rotan Keh Pusri | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Rotan Keh Pusri Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:07 Rating: 4,5

Rotan Keh Pusri

DI halaman panjang beberapa naka lari kocar-kacir. Kelereng dibiarkan berserakan dan sandal mereka tinggalkan begitu saja saat melihat Keh Pusri dengan rotan di tangan menghampiri tempat mereka bermain. Tidak ada siapa-siapa saat Keh Pusri berada di halaman panjang itu, anak-anak lari speerti maling. Keh Pusri memunguti kelerang yang berserakan tanpa tersisa. Sementara, dari jauh anak-anak yang lari tadi mengintip dari rerimbunan pohon sambil menahan debar. "Habislah kita," ujar mereka.

Lari dan bersembunylah di lubang semut dari kesalahan. Tapi, jangan harap bisa lolos dari perihnya sabetan rotan Keh Pusri di tempat ngaji. Di tangannya, segala kesalahan akan disidang dengan sabetan rotan, tiga sampai lima kali.

Sungguh, bukan memar punggung yang membuatnya sakit. Tapi, tatapan juga cibiran orang-oranng serta teman-teman yang membuat perih itu bertahan. 

Awal 1990-1n, di kampung Jentampes sakitnya kibasan rotan bisa mengalahkan tajamnya celurit dan meluluhkan keangkuhan. Dan, Keh Pusri yang matanya juling itu lebih tajam dari penciuman dan pendengarannya. Dia tidak hanya bisa melihat apa yang kami sembunyikan, tapi juga dengan cepat berada di lokasi saat ada anak didiknya bertengkar.

Aku masih ingat saat bertengkar karena kalah banyak main kelereng dengan Masbuhar yang hitam dekil itu. Entah siapa yang mengadu, tiba-tiba Keh Pusri sudah mendekat ke arah kami. Dan, dengan cepat aku dan anak-anak yang ikut bermain kalang kabut seperti semut yang diambil makanannya.

Lantas, di tempat ngaji yang terdengar bukan ayat-ayat, tapi "tar... tar... tar..." tiga kali sabetan rotan melintang  di punggung Masbuhar dan punggungku. Tentu saja, kami sudah punya firasat akan dihukum dan sudah siap menghadapi sabetan rotan.

Kata teman-teman senior, kalau sudah siap lebih dulu maka rasa sakit akan berkurang karena kita sudah sadar akan menerima rasa sakit. Nyatanya, tetap saja sakit, bahkan lebih perih dan melekat di punggung selama berhari-hari.

"Kamu harus meraba bekas sabetan itu agar merasakan kesalahan  yang kamu lakukan," kata Ibu. Aku tidak bisa tidur karena ngilu dan perih semalaman.

Setiap kali terkena hukuman, sudah dipastikan aku tidak bisa tidur. Teman-teman atau warga akan mengucilkanku selama berhari-hari. Salah satu cara agar terhindar dari cibiran dan kucilan, aku harus hafal surah-surah pendek. Kalau tidak, aku akan menjadi bulan-bulanan tatapan sinis warga.

"Rasa sakit itu akan cepat hilang, tapi kepercayaan tidak akan hilang secepat rasa perihmu, Cong," kata Ibu setelah aku mengadu karena dihukum Keh Pusri untuk kedua kalinya.

"Tapi, kan bukan aku yang bersalah, Bu."

"Kamu sudah dicap merah oleh Keh Pusri. Kamu akan terus menjadi tersangka dalam beberapa persoalan, Cong, sebelum...."

"Sebelum apa?" sergahku. Aku kesal karena yang mengintip orang mandi di pantai saat air pasang waktu itu Masbuhar dan Dussalam. Teman-teman yang berada di lokasi kalang kabut secepat tikus ketika melihat Keh Pusri dari jauh menenteng rotan. Saat itu, aku memilih tidak beranjak dan sial kena hukum pula di tempat.

"Siapa lagi yang ikut bermain?" gertak Keh Pusri setelah memukul Masbuhar dan Dussalam berkali-kali. Mereka menahan sakit sambil menggosok-gosok punggungnya. Keh Pusri menatap kerumunan anak-anak yang tegang. Sesekali, dia akan menyabetkan rotan atau pecut ke lantai mengagetkan kami yang duduk senyap. Sebenarnya, dia sudah tahu siapa saja yang terlibat waktu itu, tapi entah mengapa dia tetap bertanya sambil memukulkan rotan ke lantai berkali-kali.

"Ali, Rofiqi, Masnawi..." kata Masbuhar terbata-bata. Ada pula yang mengacungkan diri. Tanpa banyak tanya, secara bergiliran anak-anak yang berada di lokasi--meski tidak ikut mengintip, mendapapat sabetan rotan satu persatu, tidak terkecuali aku.

"Membiarkan orang melakukan kesalahan sama saja melakukan kesalahan," kata Keh Pusri setelah menghukum. Dia tidak pandang bulu. Semua pendapat hukuman tanpa terkecuali anaknya snediri jika salah. Maka, setelah itu kami memilih tidak lari saat ada pertengkaran.

***
"LARI hanya menyusahkan diri," kata Masbuhar saat teman kami terlibat pertengkaran lagi.

"Mending kita lerai," lanjutnya smabil memisahkan teman yang dari tadi bertengkar.

Kami heran, mengapa setiap ada anak yang melakukan kesalahan pasti Keh Pusri tahu. Barangkali, teman kami sendiri? Mungkin, orang sekitar yang melapor, entah siapa. Tidak ada tempat yang aman untuk bersembunyi bagi anak yang melakukan kesalahan di kampungku.

"Barangkali, Rafiqi yang melapor atau Masnawi," terka Masbuhar.

"Ah, mereka kan juga bersama kita saat kau bertengkar."

"Atau, jangan-jangan Nom Mu'in. Dia kan paling tidak suka kalau ada yang rame apa lagi bertengkar." Aku mengangguk diikuti anggukan Masbuhar. Bukan tanpa alasan kami menuduh Nom Mu'in. Selain tidak suka dengan kami yang sering mengolok-oloknya, rumahnya juga hanya dipisahkan jalan dengan rumah Keh Pusri.

Semua prasangka tentang Nom Mu'in terbantahkan ketika ada seorang teman bertengkar yang bertepatan Nom Mu'in tidak di rumah. "Jangan-jangan, rotan itulah yang membisikkan kepada Keh Pusri," kata Masbuhar sambil mengernyitkan dahi.

"Mana mungkin rotan bisa berbisik," sergahku.

Mungkin saja, ritan itu hasil bertapa dan rotan itu bisa berkomunikasi dengan kayu-kayu yang ada. Nah, lewat kayu-kayu itu rotan bisa mengetahui aktivitas kita," Dussalam mencoba menyangkutpautkan.

"Lalu, rotan itu membisikkan kepada Keh Pusri," Masbuhar menambahkan. Aku hanya geleng-geleng melihat dua kawanku itu menerka-nerka. Mereka saling tatap, lalu tersenyum. "Kita sembunyikan saja rotan itu," serentak Masbuhar dan Dussalam berujar. Tanpa pikir panjang, kami langsung menuju tempat ngaji.

"Simpan di langit-langit atap saja," kataku saat Masbuhar bingung mencari tempat. Dia melihat sekeliling lalu dengan cepat meletakkan rotan dan pecut di atas atap.

"Beres..." kata Masbuhar. Lantas, kami lari ke tempat aman. Kucuran keringat dibersihkan dengan baju yang basah kuyup. Perlahan, kami atur napas sambil teguk air dari gentong. Seluruh tubuhku sore itu gemetar, tapi rasa takut karena tidak bisa setor hafalan lebih mendebarkan bagi kami, Jika tidak disembunyikan, sudah pasti kai akan menerima sabetan rotan.

Debaran tidak berhenti di situ saja. Debaran semakin kencang diikuti getar dan wajah pucat melumuri wajah kami. Terutama, saat Keh Pusri memanggil salah satu dari kami untuk maju, setor hafalan. Kami bahkan tidak berani memandang wajah Keh Pusri, apalagi mengingat rotan yang biasa disabetkan di punggung anak yang tidak hafal itu, ah betapa perihnya. Aku lihat Masbuhar dan Rafiqi begitu khusuk menghafal. Keringat di tubuh dibiarkan mengalir dan wajahnya yang pucat tak mampu mereka sembunyikan.

Kami mungkin lolos dari sabetan rotan, tapi tidak dengan jamu yang pahitnya bertahan hingga berjam-jam itu. "Minum sekali teguk," pinta Keh Pusri. Malam itu kami mendapat tiga hukuman sekaligus karena tidak setor. Pertama kami dihukum minum jamu, lalu selangkangan jari-jari kaki dijepit dengan tasbih, lalu ditekan penuh tenaga hingga kami meminya ampun, entah berapa kali. Terakhir, bibir atas kami ditarik dengan jari Keh Pusri yang membentuk jepit kepiting hingga air mata keluar. Tidak, kami tidak akan menangis. Menangis sama dengan memperpanjang hukuman.

Bagi kami, hukuman yang paling ringan dari semua hukuman adalah dihukum baca surah Yaasiin di makam orang yang baru meninggal. Biasanya, hingga sepuluh kali selama lima hari, bahkan lebih, sesuai berat kesalahan. Biasanya, hukuman berlangsung dari pukul sebelas malam. Hukuman itu akan mempercepat kami hafal surah Yaasiin. Menghafal Yaasiin wajib bagi anak yang sudah memegang Alquran.

Tidak ada yang tahu, untuk apa kami menghafalkan surah Yaasiin saat itu. Kami hanya melakukan perintah dan tidak punya hak bertanya apalagi membantah. "Melakukan kebaikan tidak perlu alasan. Tidak perlu menunggu dibutuhkan." Hanya kalimat itu yang kami tahu. Kalimat itu biasanya sering disampaikan oleh Keh Pusri sebelum kami setor hafalan.

"Merasalah bersalah jika kalian tidka bisa apa-apa," kata Keh Pusri sambil memanggil anak yang belum maju di pertemuan sebelumnya. Kalimat itu akan menjadi tenaga tambahan saat kami menghafal. Tapi, yang paling membuat kami ingin cepat hafal bukan itu. Rotan dan pecut yang terkapar di samping tempat Keh Pusri bersila itu lebih memacu kami. Jika sudah terlihat rotan, seketika ruangan ngaji akan riuh dengan suara ayat-ayat yang digumamkan oleh kami jika tak ingin lebam punggungnya.

Sembari menunggu panggilan maju, di antara lampu talpek kami tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menghafal. Ruangan akan terasa senyap ketika pecut atau rotan mengibas ke punggung anak yang salah mengeja, diikuti suara Keh Pusri membenarkan bacaan. Tak lama, akan terdengar kembali riuh ruang dengan ayat-ayat, mencekam. Bahkan, suara di ruang itu lebih riuh, penuh ketakutan dan kecemasan yang bertumpuk.

"Emang enak dihantui rasa takut," sindir Ibu jika aku ketahuan tidak hafal.

"Makanya, dihafal jika tak ingin lebam," desak Ibu sambil membuka Alquran. Sudah biasa Ibu meminta mengulang hafalan sebelum tidur sampai aku tertidur. Dalam mimpi, aku terus menghafal diikuti suara rotan yang seolah menyambar ke punggung. Tak jarang, setiap malam aku bangun  dengan keringat membasahi tubuh.

Maka, setiap kali ada hafalan dengan sekuat tenaga aku segera dihafal. Aku juga akan berpikir puluhan kali untuk bertengkar. Aku juga merasa Keh Pusri berada di belakang lebih dekat dari bayangan sendiri.

Jejak Imaji 2016


Sule Subaweh adalah nama pena dari Suliman. Bekerja di UAD. Saat ini, aktif di Komunitas Sastra Jejak Imaji.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sule Subaweh
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu 15 Januari 2017

0 Response to "Rotan Keh Pusri"