Satu Bahasa Telah tergesa Menjadi Monster yang Luka - Korupsi Tercanggih dari Laman Tetangga | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Satu Bahasa Telah tergesa Menjadi Monster yang Luka - Korupsi Tercanggih dari Laman Tetangga Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:20 Rating: 4,5

Satu Bahasa Telah tergesa Menjadi Monster yang Luka - Korupsi Tercanggih dari Laman Tetangga

Satu Bahasa Telah tergesa Menjadi Monster yang Luka

Satu bahasa bergesa menjadi lingua franca atau monster yang luka
Meninggalkan bekas luka dari penjajahan panjang
Setiap percakan saling berhadapan dalam pertarungan
Membangun bangsa dan peradaban, bergegas dari kegelapan
Kemudian membentuk pengetahuan sampai hiburan di setiap sudut rumah
Bersama dvd yang pecah sedalam televisi 32 inci

Setiap orang segera berangkat dan melupakan
Bahasa yang tumbuh bersama ditaruhnya di halaman kepala paling belakang
Seperti tak sudi lagi untuk menetes dari bibirnya
Ada pertarungan ideologi dalam setiap ucapan,
pertarungan yang cerewet dalam waktu yang mepet
Dan mengapa bangsa kita masih terjajah
dan masih menempel dalam setiap poster peradaban
Posster yang ikut meruntuhkan perpustakaan
dan menyimpannya dalam disket pinjaman dari tuhan

Tetapi ada monster yang telah menyerupa menjadi bahasa
dan bahasa itu menjadi monster
Apakah menakutkan atau tidak, sangat tergantung pada perkiraan cuaca yang
disiarkan pagi ini di saat banjir melanda ibukota
atau kamus ternama yang mulai tersiram hujan
kamus lama yang oterbakar juga

Sambil menciptakan mesin bahasa yang memiliki kekuatan politik
Oleh mesin penyerap masal yang telah tersertifikasi dan mengintai
Seperti singa rakus yang terus memanjangkan cakar-cakarnya ke setiap penjuru,
atau monster yang menakutkan itu
Aku tak pernah mengerti ucapanmu, tak pernah sedikitpun,
Dan mengapa hanya sedikit kosakata yang ikut terselip
dalam percakapan di setiap penjuru

Ada agenda pembaratan dari setiap kosakata, seperti halnya
Pertarungan imajiner kedaerahan, dan korpus yang akan datang
Jauh dari masa lalu yang mengalir, jauh sekali bersama ucapan yang ditanggalkan

Korupsi Tercanggih dari Laman Tetangga

Di tiap perkuliahan dna seminar itu, ia menjejalkan kata-kata ke dalam mesin bahasa
Yang didapatnya dari penelusuran miliaran kata
Seharusnya ia sudah membuat mesin bahasa
Tapi sudah berguguran ingatannya
Hingga alpa dalam lemari ingatan menyimpan
Sebagai pengganti yang serupa canggihnya
Yang diintipkan ke hadirin sekalian
Dipinjamnya dari lama British dan Amerika

Bukankah kita ini bangsa pengguna dan bukan pencipta?
Tempta menyimpan bahasa dan korpus pun tak memberikan kesempatan
Pada tangan-tangan yang mencoba untuk memanjangkan api kenekatan
Dalam menyusun keberanian dalam meringkas ingatan ke dalam laman

Ada bahasa yang tengah telanjang dan tersipu malu di sudut laptop
Dalam ribuan kata yang berjejer seperti semut yang mendigital
Sudah berapa yang hadir dalam korpus tentang kehilangan
Setiap potongan koran dan buku telah digunting untuk ditaburkan di sana
Ke dalam celengan berinisial korpus tercanggih sepanjang masa itu

Aku pendengar yang sesekali tercengang dari kantuk panjang
Mengapa ia menampilkan sesuatu yang membuat waktu menua
Seakan setiap siang menjadi keroncongan yang paling tunai
Tentang mengumpulkan, mengkoleksi, meringkus
Kata-kata ke dalam korpus pinjaman dari laman negara tetangga
Seakan korpus sehalaman yang telah ditanamnya tak kunjung berbuah

Setiap kata telah menjadi periode dalam episode kehidupan
Bisa saja kata perempuan lebih banyak ditulis daripada laki-laki
Atau persoalan kemiskinan lebih semarak dibandingkan kesejahteraan
Sementara puluhan tahun yang lalu bisa saja berbeda,
tapi akupun belum membukanya
Mungkin ia sudah sering mengintipnya, dan kamu ikut juga menelanjanginya

Aku mulai mengikuti petuahnya supaya menelusup
Ke dalam hadirat laman tetangga yang rimbun kata-kata
Mengetikkan rindu yang tersalurkan pada mesin pencarian
Mengucurkan nafsu yang tersumbat dalam saluran pembuangan bahasa
Seakan berlari bersama harapan yang mengerak dalam korpus terkini


Wahyu Heriyadi, lahir di Ciamis tahun 1983. Mendapat beasiswa dari Dewan Kesenian Jakarta. Buku puisinya antara lain Kiseupna Virtual (2015) mendapatkan grant penerjemahan dari Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan, Badan Bahasa tahun 2016.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wahyu Heriyadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi Minggu 22 Januari 2017

0 Response to "Satu Bahasa Telah tergesa Menjadi Monster yang Luka - Korupsi Tercanggih dari Laman Tetangga"