Sekoci dan Sepasang Lumba-lumba | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Sekoci dan Sepasang Lumba-lumba Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:56 Rating: 4,5

Sekoci dan Sepasang Lumba-lumba

ARIMBI tak mengerti mengapa tiba-tiba ia sudah berada dalam sekoci itu. Semalam demamnya menjadi-jadi, badannya panas sekali. Saat itu—yang Arimbi ingat, Sugi datang dan membopong tubuhnya, lalu membaringkannya di suatu tempat yang dingin dan agak keras. Arimbi tak yakin di mana tempat itu. Apakah di puskesmas, atau di kamar Sugi, atau barangkali masih di kamar Arimbi sendiri. Tapi kini Arimbi tahu, di mana semalam Sugi membaringkan tubuhnya. Di dalam sebuah sekoci. Ya. Di dalam sebuah sekoci.

KINI, sekoci itu bergoyang-goyang ringan di tengah laut lepas. Dengan Arimbi yang duduk telimpuh sambil memandang laut yang bagai tanpa ujung. Laut lepas dengan warna abu-abu. Seorang diri. Tanpa Sugi. Dan tanpa siapa pun.

Lalu ke mana Sugi? Arimbi tersenyum nyeri. Matanya kembali perih.

Orang-orang mengatakan, Sugi hilang tiga bulan lalu saat melaut di tengah badai. Orang-orang sudah mengingatkan Sugi untuk lekas memutar haluan dan balik saat tanda-tanda badai mulai datang. Tapi Sugi tak menghiraukan. Yang Sugi pikirkan hanyalah ikan-ikan yang berlimpah itu mendatangi jaringnya. Saat badai datang, air akan bergolak dan membuat ikan-ikan berenang tak tentu arah, sehingga mereka tak sempat berpikir untuk berenang menjauhi jaring-jaring Sugi.

“Lautku, badaiku, giringlah ikan-ikan itu menuju surganya, menuju jaringku,” demikianlah orang-orang mendengar Sugi berteriak, membalas peringatan mereka yang mengajaknya pulang. Maka, orang-orang pun menepi meninggalkan Sugi yang matanya terus menyala di bawah badai.

***
Arimbi dan Sugi akan menikah beberapa bulan lagi. Sebuah pernikahan, meski tak usah dirayakan seperti pernikahan putri dan pangeran, tetap saja butuh biaya. Demi itulah Sugi rajin melaut beberapa bulan terakhir ini. Arimbi dan Sugi sudah menjalin hubungan semenjak mereka duduk di kelas tiga sekolah menengah pertama. Arimbi anak seorang kepala desa, dan Sugi hanya anak seorang buruh nelayan yang hari-harinya diliputi bau amis di pelelangan ikan. Orangtua Arimbi tak pernah merestui hubungan itu. Bahkan setelah keduanya beranjak dewasa. Namun, Arimbi dan Sugi bagai laut dan pantai, tak hendak terpisahkan.

“Terkadang aku membayangkan, kita menjadi sepasang lumba-lumba yang berenang di laut lepas, bebas, melompat ke udara, dan selalu beriringan,” ucap Sugi suatu sore di lepas pantai yang tak jauh dari rumahnya.

Arimbi mendengarkan dengan saksama, hingga tanpa sadar bibirnya turut berujar, “Tanpa harus peduli pada perbedaan-perbedaan, yang kadangkala membuat kita bagai seekor cupang yang terkekang dalam akuarium, memusuhi diri sendiri.”

“Apa kau juga ingin menjadi seekor lumba-lumba?”

“Sepertinya menjadi seekor lumba-lumba memang lebih baik.”

Dan keduanya meloloskan pandangan ke cakrawala, hingga Ayah Arimbi muncul dengan teriakan yang mengalahkan bising ombak. Ayah Arimbi menyeret tangan Arimbi menjauhi Sugi. Arimbi pernah dikurung. Pernah diancam ini-itu. Tapi rupanya, perasaan Arimbi pada Sugi bukanlah perasaan reka-reka. Betapa banyak yang dialami Arimbi demi mempertahankan pemuda legam pencari ikan itu. Termasuk berniat mati, kalau ayah-ibunya terus-menerus mencela dan tak merestui hubungan mereka. Melihat Arimbi sedemikian yakin mempertahankan Sugi, lambat laun, orangtua Arimbi pun pasrah. Hubungan mereka pun beroleh restu.

Namun, rupanya alam tak menghendaki keduanya menyatu dengan cara itu. Alam mengambil Sugi. Memisahkannya dari Arimbi. Hingga perlahan, Arimbi menjadi seorang penyendiri. Pemurung. Ia mulai suka mengarang-ngarang cerita sendiri. Arimbi tak pernah percaya pada orang-orang yang mengomongkan bahwa Sugi sudah pergi. Kata orang-orang, Sugi telah menjadi milik sang laut, dan tak mungkin kembali. Laut tak pernah mengembalikan apa yang ia minta. Karena laut sudah terlalu banyak memberi. Jadi, sekali saja ia meminta sesuatu, sesuatu itu akan menjadi miliknya, selamanya. Pun Sugi.

Seperti apa pun Arimbi tak memercayai omongan orang-orang, nyatanya, Sugi memang tak pernah muncul semenjak kabar badai itu. Arimbi tak bisa melakukan apa-apa sebagaimana orang-orang. Laut begitu luas. Mencari Sugi di tengah belantara laut, sama halnya mencari sebuah keajaiban yang hanya ada di angan-angan. Sugi telah hilang. Sugi telah pergi. Dan hanya mukjizat yang bisa membawanya kembali.

“Kalau orang-orang tak mampu mencari Sugi sampai ketemu, aku yang akan mencarinya sendiri,” pekik Arimbi suatu kali, “Sugi tak mungkin pergi begitu saja. Kalau ia pergi pasti ia akan mengajakku serta. Pasti.”

Namun, di kesempatan lain, Arimbi juga mengoceh, “Barangkali Sugi sedang menyelam ke kedalaman laut untuk mengambil beberapa butir manik mutiara. Aku pernah bilang kalau aku suka sekali manik mutiara. Pasti bagus untuk mahar nanti. Jadi, Sugi pasti akan kembali dengan maharnya. Ia sudah janji. Pasti.”

Di waktu yang lain, Arimbi pun pernah berkoar, “Atau, Sugi sedang belajar berenang. Sugi pernah bilang, ia ingin menjadi seekor lumba-lumba. Suatu saat, barangkali Sugi akan datang setelah ia bisa berenang dan menyelam dengan baik. Dan kami akan kembali ke laut bersama-sama. Sugi akan membimbingku untuk menjadi seekor lumba-lumba yang baik. Jadi, pasti Sugi akan kembali. Pasti.”

Orangtua Arimbi tahu, semenjak kabar badai yang menelan Sugi, sesuatu dalam diri Arimbi mulai runtuh. Ia sering berdiri di muka jendela kamarnya, menatap jauh ke dusun Sugi di pesisir, yang hanya mempertontonkan atap-atap rumah yang kusam seperti cangkang lokan yang berserakan ditinggal penghuninya. Arimbi tak doyan makan. Tubuhnya layu dan kerontang. Bahkan, saat orang-orang tidur, Arimbi memilih untuk tetap terjaga. Dari jendela yang sama, dalam keadaan terjaga, Arimbi kerap bermimpi—Arimbi menyebutnya begitu, Sugi muncul dari gelap malam.

Tepat beberapa hari sebelum hari yang seharusnya menjadi hari bahagia itu, Arimbi diserang demam. Demam itu menggerogoti tubuh Arimbi seperti binatang-binatang kecil tak bernama yang menggerogoti sisa makanan yang dilempar ke bibir laut. Hingga malam itu, ketika orang-orang terlelap dibuai udara malam pesisir yang dingin, Sugi mendatangi Arimbi yang tengah terbaring lemas di ranjangnya. Ibu Arimbi tertidur dalam keadaan duduk, dengan kepala roboh di tubir ranjang. Meski demikian, ibu Arimbi tak dapat merasakan kedatangan Sugi. Ranjang itu hanya berkeriut sebentar dan tiba-tiba tubuh Arimbi lenyap begitu saja.

Kelewat tengah malam, suara ibu Arimbi menyobek keheningan. Ibu arimbi menjerit-jerit. Histeris. Arimbi hilang. Arimbi hilang. Arimbi hilang… Dan Arimbi memang lenyap. Menyisakan jendela kamar yang mengaga senyap. Seperti sebuah bingkai photo yang memajang sebuah ketiadaan. Seperti sebuah mulut yang memuntahkan segenap kehampaan.

Detik itu, Arimbi merasa tubuhnya seperti melayang, di antara dua tangan Sugi yang kekar dan begitu kuat mendekap tubuhnya yang ringkih. Arimbi melihat Sugi berjalan tanpa melihat arah. Hanya berjalan. Hanya menatapnya. Sugi menatap Arimbi. Dan Arimbi menatap Sugi. Keduanya seperti melayang dalam tatapan satu sama lain. Hingga Arimbi bisa terlelap dengan nyaman setelah sekian lama mengalami insomnia.

Hingga remang itu, Arimbi mendapati dirinya tengah duduk telimpuh dalam sebuah sekoci yang bergoyang-goyang ringan di tengah lautan. Lautan dengan warna abu-abu. Apakah ini masih sebuah mimpi? Arimbi meraba arah. Entahlah. Hanya ada dirinya, sekoci yang bergoyang ringan, dan laut lepas berwarna abu-abu.

Di sekoci itu, Arimbi merasa begitu dekat dengan Sugi. Bahkan Arimbi tak perlu merasa cemas ketika tiba-tiba gerimis pertama turun menimpa pipinya yang mulai kusam. Gerimis yang juga abu-abu. Arimbi merasa dirinya dalam keadaan yang jauh lebih baik, meski perlahan sekoci yang menyangga tubuhnya bergoyang semakin liar. Angin berkelebat seperti sosok-sosok berbentuk pipih yang menampar-nampar sekoci Arimbi. Sekoci itu kini seperti diayun-ayun. Diombang-ambing.

Titik-titik gerimis pun telah mengembang menjadi hujan. Sekoci Arimbi tampak seperti menari-nari. Begitu bungah. Begitu bergairah. Air hujan pun mulai menggenangi sekocil mungil itu. Arimbi mulai menggigil. Tapi ia tak merasa cemas sama sekali. Ia yakin, Sugi berada dekat sekali dengannya. Sangat dekat. Maka, sekoci mungil itu pun terus menari dan menari. Di tengah badai. Di tengah laut yang warnanya telah menjadi abu-abu sempurna.

***
Sekitar satu pekan setelah hilangnya Arimbi, para nelayan dikejutkan oleh munculnya sepasang lumba-lumba yang berenang di perairan laut dangkal. Orang-orang bersumpah, lumba-lumba itu kerap muncul, khususnya menjelang senja—dan hanya sepasang, tak ada yang lain. Mereka selalu berenang beriringan. Melompat ke udara dan saling mengejar. Layaknya sepasang mempelai.

“Bagaimana kalau kita buru saja,” ungkap salah seorang nelayan.

“Betul, lumayan untuk persediaan pasokan ikan asap di musim badai begini,” jawab yang lain.

“Jangan. Jangan pernah memburu lumba-lumba, pamali,” sahut yang lain pula.

“Tak masalah!”

“Eh, jangan!”


Malang, 2016

Mashdar Zainal lahir di Madiun, 5 Juni 1984, banyak menulis prosa. Cerpennya pernah masuk dalam buku Cerpen Pilihan Kompas tahun 2011 dan 2012. Kini tengah menyiapkan buku kumpulan cerpen terbarunya, Dongeng Pendek tentang Kota-Kota dalam Kepala. Penulis bermukim di Malang.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mashdar Zainal
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Minggu 22 Januari 2017

0 Response to "Sekoci dan Sepasang Lumba-lumba"