Selip - Biduan - Sisipan - Zet - Lama atau Sejenak - Capung Jarum | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Selip - Biduan - Sisipan - Zet - Lama atau Sejenak - Capung Jarum Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:22 Rating: 4,5

Selip - Biduan - Sisipan - Zet - Lama atau Sejenak - Capung Jarum

Selip

: hari raya korbannya tuning

Seekor kambing dikorbankan. Ruhnya terbang ke langit. Bunyi
kelinangan di lehernya mengalun. Tapi, apa smeua bisa 
mendengar? Hanya yang pernah berbicara pada kran air yang 
mengucur. Pada geretas ikan di wajah penggorengan. Juga pada 
gemerisik daun kering yang rontok. Terus jatuh persis di lubang
semut. Yang bisa mendengar. Lubang semut yang tiga hari lalu
belum ada. Dan lubang semut yang mungkin seminggu ke depan
akan disapu banjir.

Memang, ruh seekor kambing yang dikorbankan adalah dunia
yang tak terkira. Dunia tentang waktu yang berlipat. Waktu, di
mana, kau bisa menemui diri-dirimu yang lain. Yang di umur 
tiga-belas, dua-lima, lima-satu, enam-tujuh, atau ketika yang pas
bermuka-muka dnegan si penjemput. Si penjemput yang pernah
dikatakan sebagai si elok dengan senyum rahasia. Si penjemput
yang uluran lengannya seluas jagat. Tapi selembut angin yang
bertiup dari bukit.

"Jangan takut, Sayang, jangan takut," begitu kata si penjemput.
Tapi siapa yang biasa tidak takut, jika pintu baginya akan ditutup.

Ruh seekor kambing yang dikorbankan pun terus terbang. Dan
yang tadi bisa mendengar alunan bunyi keliningan di lehernya,
pelan-pelan mendongak. Terus emnyaksikan: Awan-awan yang 
menggumpal. Rerumputan dan pepohonan yang tumbuh di
permukaannya. Seperti tumbuhnya sebuah pulau yanng baru. Dan 
pulau yang akan diturunkan ke hati siapa saja yang percaya: Jika
di celah sempit sebuah jurang, kerap terselip sekuntum bunga
yang luwes.

(Gresik, 2016)

Biduan

: bajak lautnya aji ramadhan

Biduan itu menyanyikan lagu untukmu. Lagu yang cuma tiga
menit. Lagu tentang hidupmu yang abadi. Hidup yang berkitaran 
di pusaran ombak dna badai. Pusaran yang selalu kau tatap dari 
dek kapalmu. Sambil sedikit mabuk dan menyeru pada geludug
yang tumpah. Sampai apa-apa yang ada di permukaan jadi
menyala.

Dan menyalakan apa-apa yang semestinya tersembunyi. Biduan 
itu menyanyikan lagu untukmu. Lagu yang ditutup dengan bunyi
degup jantung dari segenap awak kapalmu. Segenap awak kapal
yang garang. Yang tak lelah-lelah menggayuti udara. Sambil
mengibas-ngibaskan rerambut sendiri. Rerambut yang hidup dan
berliukan.

Seperti liukan phoenix yang muncul dari sarang yang terbakar.
Sarang yang penuh api. Sarang yang kelak akan menjadi
telisikan bagi yang menyangka, bahwa hidup abadimu adalah
keberkahan. Padahak, itu adalah kerumitan. Yang membuat bulan
tak lagi bundar. Tapi lonjong. dan lewat kelonjongannya akan
menukas:

"Lihat, si yang abadi itu. Betapa zigzag langkahnya. Betapa tak
pernah selesai dikerjakannya!"

Biduan itu menyanyikan lagu untukmu. Smabutlah dengan 
telinga yang melebar. Meski, setelah itu, lorong samudra kembali
terbuka untukmu. Dan kembali pula mengarahkan kapalmu agar
lebih masuk. Dan lebih masuk lagi ke dalamnya. Sebelum 
akhirnya tertutup. Menempel di sepanjang keliman cakrawala
yang oranye.

(Gresik, 2016)

Sisipan

: wak nur hasyim menjenguk mardi

Ketika, sayembara itu dimenangkan. Terserah padanya mau
meminta apa. Ternak sekampung. Uang segumuk. Atau si
pendamping titisan sorga: "Bolehlah." Tapi, anehnya dia cuma
tersenyum. Dan ditunjuklah lembu. Lembu yang kurus. Yang 
mungkin sebentar lagi mati. "Baiklah, jika itu yang kau pinta," 
kata si raja. Dan setelah  si raja menyerahkan lembu, dia pun
menuntunnya pulang.

Tapi, menurut kitab, lembu memang mati. Mati dengan perut
yanng membesar. Yang saking besarnya, cukupan untuk dirinya
berdiam di dalamnya. Dan lembu pun kintir di sungai. Bablas ke
lautan. Sedang dia (yang berdiam di dalam perut lembu), terbawa
serta. Mungkin ke utara, atau ke barat, atau ke timur, tak ada yang
peduli. Sampai kemudian, di sebuah pantai, dia keluar dari
dalam perut lembu.

Waktu itu, tujuh ekor burung melintas. Sedang, di pinggiran
pantai, lima puluh ekor ikan menyembul. Sambil menggigit pena,
stempel, benang, jarum, mutiara, bulu, serta kelereng kristal.
Apakah dia akan memungutnya? Ternyata, dia kembali cuma
tersenyum. Terus beranjak pergi. Menurut kitab juga, di sebuah
hutan. Hutan yang penuh duri. Tersiarlah kabar tentang si
penyendiri.

Si penyendiri yang punggungnya agak snagkuk. Dan kepalanya 
sesekali berbinar. Yang ketika purnama tiba, dari telunjuknya 
memancar berliter-liter susu. Sedang dari dadanya menyembul 
lelaron warna-warni. Lelaron warna-warni yang berlayangan
Yang ketika melayang pas di atas kampung, pun disergah:
"Lihat, itu percik keringat langit. Ayo ditadahi!"

Tapi anak-anak yang mendengarnya, malah membayangkan:
Sebentang aliran susu yang manis, akan mengalir ke kaki-kaki
mereka.

(Gresik, 2016)


Zet

Aku bersepeda. Bersepeda dari A ke Z. bersepeda
dengan pelan. Sepelan bunga yang mekar di semak.
BUnga yang sendirian. Bunga tanpa pengagum. Bunga
yang ketika akan rontok, cuma berbisik: Dalam satu
kedipan waktu, ada sekian denyut yang aku denyutkan.

Dan dari sekian denyut yang aku denyutkan itu, ada
sekian dneyut yang lain, yang lain, dan lain. Karenanya,
jika ingin menghentikan sepedaku, cukup kau tentukan,
denyut yang mana, yang mesti dihentikan. Dan sepedaku
pun menjadi milikmu. Milikmu yang juga sendirian.

(Gresik, 2016)

Lama atau Sejenak

"Aku tak peduli. Kembali, kembalilah kau."
Tapi, telah redup setengah tenagaku.

"Aku tak peduli. Kembali, kembalilah kau."
Tapi, telah rabun setengah tatapanku.

"Aku tak peduli. Kembali, kembalilah kau."
Tapi telah tumpul setengah pikiranku.

"Aku tak peduli. Kembali, kembalilah kau."
Tapi, telah habis setengah binar waktuku.

"Aku tak peduli. Kembali, kembalilah kau."
Tapi, aku tinggal setengah. Setengah saja.

"Aku tak peduli. Kembali, kembalilah kau."
Tapi, apa yang diharap dari yang setengah.

"Aku tak peduli. Kembali, kembalilah kau.
Setengah atau kurang, Lama atau sejenak."

(Gresik, 2016)

Capung Jarum

Tak ada yang bisa dilambai. Tak ada
yang bisa direngkuh. Terlalu benar
jika aku tetap menantimu. Menanti
di warung telpon yang telah kosong
itu. Dan, dulu, di situ aku pernah
menelponmu. Agar kau tetap sabar.

Dan percaya. jika bebunyian yang
sesekali melingkupi dirimu itu cuma
khayalan. Yang pernah kau snagka
sebagai ilham. Ilham yang menukas,
jika kau adalah capung jarum yang
bertubuh sebsar gajah. Tapi seringan

balon yang diminta si bocah di hari
ulang tahunnya yang ke tujuh. Hari 
ulang tahun yang dipenuhi pelukan
dan ciuman dari ayah, ibu, paman,
bibi, kakek, dan nenek. Padahal,
setelah semua selesai, kau tak lebih

kutu yang masuk ke dalam lubang.
Dan merasa, ada yang diam-diam
menantimu di sana. Dan membuka
pelan apa yang dulu tak berani kau
bayangkan. Bahwa dunia sebenarnya
begitu lembek. Tapi, yang berada

di atasnya, begitu ngotot untuk tetap
menegak dan melangkah. Membisik
dan mendesis. Menelusup dan melesap.
Seperti yang kerap dilakukan seorang
yang percaya, jika laut yang tampak,
semestinya berwarna belang telon.

Bukan hijau atau biru. Dan beburung
yang beterbangan adalah nyali gesit.
Nyali yang mudah diseru lidah. Juga
gampang disergap tatapan mata. Dua
organ indra yang pernah kau duga,
sebagai hal yang biasa dipertukarkan.

"Halo, halo!" Aku telpon lagi kau dari
warung telpon yang telah kosong itu.

(Gresik, 2016)


Mardi Luhung lahir di Gresik, Jawa Timur, 5 Maret 1965. Buku puisinya yang terbaru adalah Jarum, Musim dan Baskom (2015) dan Teras Mardi (2015). Ia tinggal dan bekerja sebagai guru di kota kelahirannya.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mardi Luhung
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 7 Januari 2017

0 Response to "Selip - Biduan - Sisipan - Zet - Lama atau Sejenak - Capung Jarum"