Senja di Ganesha | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Senja di Ganesha Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:00 Rating: 4,5

Senja di Ganesha

AKU ingin mati bunuh diri, Mar. Aku ingin menemui keabadian dengan cara yang paling sepi.

PAGI itu, selepas menghabiskan malam perayaan tahun baru dengan meminum berbotol-botol bir, saat aku baru saja hendak bangun dari tidur, tiba-tiba aku merasa ada kejanggalan yang telah menimpa tubuhku. Kulitku seketika keriput. Gigiku terasa rontok, ompong. Dan setelah kupastikan di hadapan sebuah cermin, benar saja, aku menjadi tua dan rambutku memutih.

Barangkali ini pengaruh dari mabuk semalam, tukasku meyakinkan diriku sendiri.
Ini seperti mimpi. Berulang kali kucubit kulit pipiku untuk memastikan bahwa segalanya tidak benar. Tapi pipiku rasanya sakit sekali setelah dicubit. Itu berarti, aku masih dalam kendali alam sadar. Bagaimana jadinya bila kekasihku tahu jika aku tiba-tiba menua? Ia pasti akan kecewa dan memutuskan untuk meninggalkanku.

Kendati begitu, aku tetap mencoba menghela napas, menahan berbagai amarah yang berkecamuk di antara batinku. Aku berusaha berasabar. Meski ini sungguh tidak mudah.

Pacarku itu berparas jelita, seperti namanya yang cantik; Marya--bukan Maria sebagaimana nama yang kerap kali digunakan orang-orang Indonesia. Ia seorang sekretaris di sebuah perusahaan kontraktor di Bandung. Pertamakalinya kami berjumpa di Jalan Ganesha tepat empat tahun yang lalu. Aku tahu, ia baru saja menyelesaikan kuliah teknik sipilnya di ITB. Meski pada mulanya aku merasakan ada sekat yang memisahkan kami. Betapapun ia adalah insinyur, sementara aku hanya seorang pedagang siomai yang sering magang di depan kampus ITB, di sepanjang Jalan Ganesha.

Aku ingat betul bagaimana sampai akhirnya kami berkenalan. Bermula sebagai langganan setiaku, ia kerap datang setiap kali senja tiba. Kami sering berbincang-bincang tentang apa saja--sebab sedikit-sedikit aku mengerti soal fisika, kimia, sampai puisi.

"Aku pernah menulis puisi dan bahkan pernah dimuat di koran nasional," kataku di suatu senja yang merah.

"Benarkah?" Marya tampak menebalkan intonasi pertanyaannya, seolah-olah ia tak percaya dan berencana mengejekku habis-habisan.

Aku nyengir kuda, dan membalasnya dengan jawabanku yang paling genit, "Buat kamu, apa pun pasti benar."

Ia tersenyum malu-malu. Lantas memukul lenganku dengan pukulan yang manja. Ketika itu, kami mulai berbahagia dengan perasaan yang telah menimpa kami. Sehingga, selepas kami saling mengenal selama satu tahun lamanya,  akhirnya di suatu senja yang penuh suka cita, aku memberanikan diri membeli seikat bunga mawar untuk kupersembahkan padanya.

"Aku sungguh mencintaimu, Mar." Ungkapku dengan rasa kasih yang mendalam.

Wajah Marya tersipu sejadi-jadinya. Ia menerima bunga mawar persembahanku. Dan tak banyak tingkah, ia tampak menerimaku juga dengan perasaan cinta yang mendalam.

"Aku berjanji tidak akan melepaskan cinta ini, Sayang,"

"Aku juga." Katanya sambil mengangkat wajah.

Setelah itu, hari-hari pun berlalu begitu saja. Menyaksikan kemesraan kami  dibalut oleh semacam buku kenangan.

Sampai hari itu, hari dimana ia datang secara tiba-tiba ke kamar kosku yang sempit, di Dipatu Ukur. Ia berwajah pasi. Ia membawa setumpuk kesedihan di benaknya, bahkan aku bisa melihat di matanya yang tak biasa.

"Kamu kenapa, Mar?" tanyaku sembari mengusap rambutnya yang tebal, yang sesekali tergerai oleh embus angin senja.

Ia tak menjawab. Ditundukkan kepalanya, seperti sedang menahan duka. Lamat-lamat air matanya berjatuhan, serupa tetes embun yang jernih. Dan aku segera memeluknya.

"Kamu kenapa, sayang?"

Marya perlahan-lahan melepas pelukanku. Ia mulai menjauh dariku, menatapku dengan tatapan iba. Seketika aku menyadari diri dan segera berlari menutup wajahku dengan apa saja, asal Marya tidak mual melihatku.

"Aku berjanji akan cepat-cepat pergi ke dokter, Sayang." Kataku pada Marya yang sedang berdiri tepat di ambang pintu, memunggungiku.

Ia hanya menggelengkan kepalanya. Lantas pergi melambaikan tangannya, meninggalkanku dalam keterpurukan yang paling menderita. Aku menjerit, berusaha memanggil-manggil namanya. Tapi ia tak pernah berbalik. Meski aku sempat melihat air matanya berlinang lalu jatuh di beranda kosku yang sempit.

**
"APAKAH dia baik-baik saja, Dok?" tanya ibuku gelisah.

Dokter berkacamata yang duduk di hadapannya tak segera menjawab. Ia justru hanya memainkan pulpen di tangannya, sesekali membuka lembaran kertas di dalam map merah. Lantas ia mengangkat setengah tubuhnya, membenarkan letak duduknya sambil menggoyang-goyangkan kursi goyang yang bisu.

"Aku tak paham kenapa tiba-tiba anakku seperti ini, Dok," lanjut ibuku bertambah resah.

"Coba ibu jelaskan bagaimana asal mulanya?"

"Tepatnya satu bulan yang lalu, anakku telah mempersiapkan segalanya..." ibuku menghentikan bibirnya sejenak, menahan air matanya sekuat hati. "Dan semuanya berubah begitu saja. Kasih sayang yang mereka rawat ternyata sia-sia. Justru anakku malah begini keadaanya. Ia bahkan sempat akan bunuh diri, dengan cara menyayat pergelangan tangannya."

"Lalu?" dokter itu tiba-tiba merasa penasaran. Beberapa kali ia membenarkan kacamatanya agar tampak terpelajar.

"Lalu kekasihnya telah membatalkan semua rencana anakku untuk menikah dengannya. Tega membiarkan anakku menderita begini. Padahal undangan sudah disebar. Kadang-kadang aku sempat cemburu pada kekasihnya itu."

"Cemburu karena ia cantik?"

"Bukan. Bukan karena itu. Aku tahu dia cantik, bahkan pintar. Aku cemburu lantaran kasih sayangnya begitu dalam pada anakku, sebuah kasih yang tak pernah kuberikan. Terlebih ketika aku memutuskan bercerai dengan ayahnya puluhan tahun yang lalu. Aku meninggalkan anakku berdua bersama ayahnya yang melarat. Dan aku sungguh menyesal telah melakukan itu, Dok." Mata ibuku akhirnya meleh juga, bersama dengan kenangannya yang perlahan-lahan ke luar dari bibirnya yang pernah angkuh.

"Kenapa kekasihmu meninggalkanmu?" tanya dokter padaku, tepat saat ibu merasa lega sebab telah berhasil menuntaskan cerita pilunya.

"Dia pergi karena sebulan yang lalu, di sebuah pagi tiba-tiba aku berubah menjadi tua. Kulitku keriput seperti ini. Rambutku memutih layaknya seorang kakek yang sedang menunggu kematiannya. Itu mengapa Marya akhirnya pergi meninggalkanku. Tapi sungguh ia akan kembali jika aku kembali muda, Dok." jelasku pilu.

Dokter di hadapan kami hanya menggeleng, sesekali menelan ludah sebagai tanda putus asa.

"Apakah dokter bisa mengembalikan aku seperti sediakala, menjadi gagah dan muda?"

Ibu lantas memelukku.

"Bisa Ibu bawa perempuan bernama Marya itu kepadaku besok?" desak dokter pada ibuku yang belum mampu menghentikan isakannya.

Ibuku justru kini yang menggeleng, memberi tanda ketidaksanggupannya.

"Kenapa?"

"Karena sebulan yang lalu Maria kecelakaan dan meninggal," kata ibuku sambil mengusap air matanya yang jatuh.

"Jadi sesungguhnya anakmu..." dokter itu tampak tak kuat melanjutkan kalimatnya, seolah sedang menahan sesak di dadanya. ***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rai Sadajiwa
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi Minggu 22 Januari 2017


0 Response to "Senja di Ganesha"