Sepatu Jinjit Aryanti | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Sepatu Jinjit Aryanti Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:50 Rating: 4,5

Sepatu Jinjit Aryanti

PERMUKAAN tanah di bawah sana tampak botak-botak seperti rambut lelaki tua yang rontok. Dari jendela kamar di lantai 25, aku melihat gedung-gedung telah merebahkan bayangan. Matahari hampir paripurna dalam putarannya.

Pada gedung-gedung menjulang yang belum usai pembangunannya itu, tangga-tangga dengan katrol raksasa tak lagi bergerak, lehernya mendongak ke langit seperti kerangka pemangsa purba yang beku. Sementara bangunan-bangunan yang lebih pendek tampak seperti kotak-kotak berserakan dengan warna kelabu dan atap biru. Bangunan masih belum padat. Mobil-mobil terparkir di sekitarnya. Tak ada tanda-tanda denyut kehidupan di sana. Suasana sepi terasa dari pucuk-pucuk bangunan hingga ke bawah.

Aryanti masih sibuk membuka-buka koper. Entah apa yang dicari. Sepatu jinjitnya yang tadi dicoba termangu di lantai depan pintu. Karena posisinya membungkuk, rok perempuan itu tertarik ke atas sehingga paha belakangnya lebih jelas terlihat. Aku menatapnya beberapa saat. Ada desir mengalir di dadaku. Udara di kamar mulai terasa dingin.

’’Saya mandi dulu, Bapak,’’ kata Aryanti sambil beranjak. Rambutnya panjang tergerai luruh ke dada.

’’Mandi bareng aja,” aku menengok ke arahnya. Handuk biru muda sudah tercangklong di pundak. Sementara tangan kirinya mengenggam pakaian dalam warna krem.

’’Jangan, ah,” jawabnya manja. Dia melangkah ke mulut pintu. Senyumnya masih tertinggal di mataku. Pintu itu ditutup dengan pelan. Tampak siluetnya bergerak-gerak di balik pintu kaca yang buram. Tiba-tiba aku merasa sepi. Beberapa saat setelah itu terdengar desir dan kecipak air. Siluet tangan Aryanti bergerak naik turun. Tubuhnya mengabur dalam lamur kaca.

Gorden kusingkap lebih lebar. Kembali aku melihat ke bawah. Jumat terasa sepi. Kantor-kantor dan pegawai pemerintah di Negeri Johor libur hingga besok. Hari Minggu mereka kembali bekerja. Aku masih tercenung di jendela Hotel Selesa ini. Seekor burung gagak terbang dari gedung Menara Pelangi ke arah selatan, lalu hinggap di bangunan Astaka Padu.

Aku mengingsut pandangan, tepat ke bawah jendela yang tadi tak terlihat. Ada mobil-mobil melintas di jalur ganda Jalan Dato’ Abdullah Tahir, membujur ke utara-selatan, satu sisinya ada yang membelok ke barat, masuk ke Jalan Tebrau. Johor adalah satu-satunya provinsi yang memperbolehkan kepemilikan asing dan penanaman modal asing. Tak heran jika pembangunan fisik di provinsi itu berjalan begitu cepat. Tapi kaum muda di sini lebih memilih bekerja di negeri tetangga, Singapura. Ketika pagi tiba, beribu-ribu orang melintasi jembatan penghubung dan petang hari mereka kembali ke tanah air.

’’Ikut mandi,’’ aku mengetuk-ngetuk pintu. Siluet itu terdiam. Kuulangi lagi kata-kata itu. Iseng. Tapi juga penuh harap.

’’Ah, Bapak. Jangan aaah...,” terdengar Aryanti menjawab. Manja di telingaku.

’’Keburu udara makin dingin nanti.’’

’’ Kan ada air panasnya di shower, Bapak.” Siluet tubuh Aryanti bergerak lembut. Sepertinya ada gerakan lengan yang memutar-mutar di dadanya. Kudekatkan mataku ke pintu kaca. Makin kabur. Lalu dengan pelan kutekan pintu itu dengan ujung telunjuk. Tak bergerak. Kualihkan pandanganku. Sepatu jinjit warna cokelat muda itu tetap termangu di depan pintu masuk, menunggu sang pemilik yang telah membawanya ke kamar ini.

Aryanti telah mencoba sepatu jinjitnya beberapa saat setelah masuk kamar tadi. Dia berjalan memutar-mutar tak ubahnya seorang peragawati. Sejenak dia berdiri mendekatiku. Seperti dia sengaja menjajaki tinggi tubuhnya dengan aku. Terselip rasa bangga karena ketinggiannya denganku hampir sama. Aku ingat dalam adegan film ada perempuan ditampakkan kakinya sedang jinjit ketika berhadapan dengan kekasihnya. Barangkali itu adegan ciuman yang disamarkan. Dari pembelian sepatu itu pula aku menilai bahwa Aryanti memanfaatkan kepergiannya ke sini untuk belanja di Johor Premium Outlets. Hampir tak ada rasa takut atau khawatir tergambar padanya.

Kembali aku menerawang keluar. Di seberang selat, jauh di timur sana, ada tiga cerobong asap warna merah putih yang masuk wilayah Singapura. Bangunan-bangunan berjejal warna pucat tampak sejauh mata memandang. Singapura negeri yang sibuk. Hampir sepanjang tepian selat tampak tanaman hijau merimbun sebagai penyanggahnya. Perluasan wilayah memang terus dilakukan hingga jarak negeri itu semakin dekat dengan tetangganya. Kapal hanya perlu waktu beberapa menit untuk sampai di seberang. Jika malam tiba, di selat yang memisahkan dua negeri ini, lampu-lampu memantulkan cahayanya. Maka malam pun tampak sempurna. Cahaya gemerlap memenuhi segala arah di kedua negeri.

Aku mendapat perintah untuk ’’menyembunyikan” Aryanti dengan ’’berbagai cara” karena dia adalah saksi mahkota terkait kasus pembunuhan orang penting yang direncanakan. Sengaja kata itu digunakan dan aku harus menerjemahkannya sendiri. Ambigu, tapi sudah menjadi kelaziman agar pemberi perintah dapat berkelit ketika terjadi hal yang tidak dikehendaki. Dan pastilah aku yang dipersalahkan dan dikorbankan. Sebuah pertaruhan klasik seorang bawahan.

Sementara itu, Aryanti harus menurut karena skenario besar telah dimainkan yang juga mempertaruhkan nyawanya sendiri. Maka, Aryanti pun harus ditempel dan tak boleh lepas dari pantauan. Meski awalnya tampak ketakutan, lama-lama dia bisa mencair karena sudah mengenalku dengan baik. Barangkali kehadiranku sebagai penyelamat juga diharapkan karena dia diusik banyak orang dan diburu para pencari berita.

Aryanti pada awalnya adalah perempuan biasa. Dia seorang caddy di lapangan golf. Kelebihannya adalah berparas cantik dan lincah. Kulitnya cerah, hidung cenderung kecil tapi terkesan runcing, serta bibir bawahnya bulat dengan belahan di tengah. Kini aku ibarat pengembala yang harus mengendalikannya. Aryanti bukanlah kuda liar atau domba yang bebal. Dia adalah kelinci yang manis, tampak jinak dengan lompatan-lompatan kecilnya yang menggoda dan enak diajak bicara. Mungkin karena sifatnya itulah dia berangsur bisa melepaskan diri dari tekanan-tekanan yang dilakoni. Kami mulai terbiasa, bahkan tak jarang aku berani menggodanya.

Pada hari dan jam yang telah ditentukan, agar tak tercium pemburu berita, Aryanti harus disembunyikan di tempat yang jauh. Dia digiring harus terbang dari kota A, sementara dua jam sebelumnya aku harus terbang dari kota B. Tujuan kami sama-sama ke Johor Bahru. Maka, ketika Aryanti landing, aku sudah berada di ruang tunggu bandara antarbangsa itu. Pertemuan pun terjadilah. Selanjutnya kami bisa pindah dari kota satu ke kota lainnya.

***
Aku keluar dari kamar mandi. Sepintas Aryanti melihatku yang masih bertelanjang dada. Aryanti sudah selesai berdandan dan tampak segar. Dia mengenakan kaus merah berlengan pendek dan celana tiga perempat warna hitam. Sebuah perpaduan warna mirip biji saga. Serpihan-serpihan rambutnya dengan ujung kecokelatan luruh di pipi. Aroma parfumnya mengalir lembut. Dia berdiri di mulut jendela dengan bersepatu jinjit. Mungkin tadi belum puas ketika mencoba. Pandangannya menerawang jauh. Lampu-lampu di luar sana sudah berpendar.

’’Kau merindukan siapa?’’ Aku membuka pembicaraan lagi. Dia terdiam beberapa saat. Dipegang-pegang pipi kirinya bagian bawah. Sejenak dia melepas kaca mata yang mulai terbiasa digunakan.

’’Kau rindu dengan dia?’’ Kembali aku membuka tanya. Aryanti membalik pandang ke arahku dengan pelan.

’’Siapa yang Bapak maksud?’’ tampak matanya berkedip sayu.

’’Kau telah melakukannya. Jangan kau jilat kembali,’’ kataku.

Aryanti terdiam beberapa lama. Dia makin fokus menatapku. Ada kekuatan di matanya kali ini. Perempuan itu mendekat.

’’Tak akan saya jilat lagi karena sudah tak mungkin. Tapi apakah tidak boleh saya mengingatnya?’’

’’Kau tak memiliki banyak kata untuk itu,’’ aku menyambungnya. ’’Hanya ada satu yang aku ingat akan kata-katamu.’’

’’Apa itu, Bapak?’’ Kali ini Aryanti membalasnya dengan cepat.

’’Harus tega walau sangat berat.”

’’Ya, karena saya tak diberi pilihan lain.” Kutatap wajah Aryanti yang tiba-tiba ada aura berbeda. Beberapa jurus dia terdiam. Mungkin mengingat detik-detik terakhir ketika dia diperintahkan, tepatnya dipaksa, untuk menjebak lelaki yang telah banyak memberinya kesenangan dan keuntungan. Lelaki berumur itu telah menjadi sasaran karena dia mengetahui banyak borok yang dilakukan para pembesar. Kalau lelaki ini bisa diberesi, maka ada pihak-pihak lain dalam lingkarannya yang bisa di kambing hitamkan sesuai skenario yang dibuat. Dengan demikian borok itu tak jadi diusut. Ibarat pewayangan, ketika Durna dan Sengkuni bersekongkol, maka jadilah semua itu.

Aku adalah bagian dari persekongkolan itu. Tapi aku dalam posisi tak berdaya karena perintah atasan yang tak boleh ditolak. Aku tetaplah seorang manusia yang mempunyai pikiran dan rasa yang waras. Aryanti tentu juga demikian. Dia dalam posisi tak berdaya. Memang aku dan Aryanti adalah bagian dari pelaku persekongkolan itu.

Tapi, dan inilah sebenarnya, kami berdua tidak lain adalah objek. Apa yang kami lakukan bukanlah untuk kepentingan kami sendiri. Yang lebih menderita tentu Aryanti karena tak boleh berkomunikasi dengan keluarga dan teman-temannya. Jalur komunikasinya telah disadap dengan sempurna. Dalam tubuhnya seperti telah ditanami microchip sehingga pergerakannya bisa dipantau melalui layar monitor.

Ketika terjadi kematian orang yang sangat dekat dengannya, Aryanti tentu terpukul. Lalu rasa sedihnya yang timbul-tenggelam sebagai manusia normal adalah manusiawi. Barangkali, apa pun yang terjadi, hidup harus tetap punya harapan. Ketika dia berangsur mengembalikan keceriaannya juga dapat aku terima karena yang sudah tiada tak mungkin dihidupkan kembali. Dalam kondisi demikian lambat laun dalam diriku ada rasa ingin memeluk Aryanti dengan segala rasa.

’’Kau tahu Ratu Kalinyamat?” Aku memecah kesunyian.

’’Siapa itu?” tanya Aryanti.

’’Istri bupati Jepara di masa lampau. Suaminya mati dibunuh penguasa Kerajaan Demak, si Arya Penangsang. Perempuan cantik itu lantas bertapa telanjang dan bersumpah tidak akan berpakaian sebelum menginjak kepala Arya Penangsang yang terpenggal.”

’’Bertapa telanjang?”

’’Demi membalas kematian orang yang dicintai. Hutang nyawa dibayar nyawa. Seperti bola golf yang digelindingkan menuju lubangnya.’’

’’Dia berhasil?”

’’Ya, berhasil. Jaka Tingkir telah membantunya hingga Demak runtuh dan beralih ke Kerajaan Pajang. Ada gelora cinta antara keduanya.”

’’Cinta yang tulus?”

’’Cinta selalu tulus. Yang tidak tulus adalah keinginan tersembunyi yang mengatasnamakan cinta.”

Kami terdiam beberapa saat. Lampu-lampu di luar makin gemerlapan. Hari bertambah malam. Deru mesin pendingin ruangan makin jelas. Aryanti menatapku. Kupandang juga bola matanya yang bergerak-gerak. Aku tahu pandangan matanya ada yang berubah setelah beberapa kali bertemu denganku. Seperti dongeng kancil ketika disekap Pak Tani, pandangan Aryanti barangkali juga mengisyaratkan untuk minta dikasihani. Aku mencoba mengimbangi pandangan itu dengan penuh pengertian. Embusan napas Aryanti makin kentara.

’’Tapi Jaka Tingkir itu sekarang tak ada,” katanya. 

’’Ada,” aku membalas. 

’’Di mana?” 

’’Di depanmu, Yanti.’’

Kembali kami terdiam. Aryanti menatapku makin kuat. Dia mendekat. Demikian juga aku. Kami berhadapan dekat sekali. Dengan bersepatu jinjit ternyata posisi bibir Aryanti tepat di depan bibirku. Kupegang tangannya pelan-pelan. Kuku-kuku jarinya warna merah muda dibiarkan memanjang. Terasa ada yang bergetar dalam diriku. Aryanti menyandarkan tubuhnya ke dadaku. Pelan tapi pasti. Kudekap dia dengan lembut. Terasa sekali degup jantung perempuan itu makin kerap. Kuelus-elus punggungnya. Sandaran tubunya ma- kin berat di dadaku. Aku terdorong mundur dan tertahan di bibir dipan hingga terduduk. Kudekap tubuh Aryanti lebih kuat. Pipinya yang hangat menempel di hidungku.

’’Bapaaak...,’’ katanya lembut.

’’Saya masih muda. Jangan panggil seperti itu di sini.’’

Lengan Aryanti yang melingkar di dadaku terasa makin rapat. Dia dalam posisi membungkuk sehingga makin menekanku. Pelanpelan aku merebah ke belakang. Tubuh Aryanti ikut merebah sehingga aku tertindih. Antara percaya dan tidak, Ratu Kalinyamat dan Jaka Tingkir hadir di sini. Degup napas kami makin kencang. Di Johor Bahru, kuingin malam berjalan dengan lambat, selambat menanti keinginan yang tak juga sampai.

***
Sepatu jinjit Aryanti kembali termangu di depan pintu. Malam terus berjalan. Aku terduduk di bibir dipan. Aryanti keluar dari kamar mandi. Dia bercermin beberapa saat sambil membenahi rambut dan pakainnya. Aku bangkit dan ikut bercermin di sisinya. Wajah kami terpantul bersama. Senyum tipis tersungging di bibir Aryanti.

’’Serasi,” aku nyeletuk.

’’Apanya?” tanya Aryanti.

’’Ehhh....”

Tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Aku dan Aryanti saling memandang. Ketukan itu terdengar kembali. Aku memberi isyarat, lalu bangkit ke arah pintu untuk membuka. Dua lelaki sudah berdiri di mulut pintu. Lamat-lamat sepertinya aku sudah pernah melihat wajah salah seorang di antaranya. Tapi entah di mana. Yang jelas di tanah air.

’’ Chek out sekarang!” katanya tanpa berbasa-basi. Pertanyaan-pertanyanku tak dijawabnya. Intinya kami harus berkemas dan meninggalkan hotel ini secepatnya. Tak ada pilihan lain, kami keluar menuju resepsionis dengan diawasi dua lelaki tadi.

’’Ke mana ini?” tanyaku ketika masuk kendaraan yang telah dipersiapkan di depan lobi.

’’Nanti tahu sendiri,” jawab salah seorang dari dua lelaki tadi.

Ternyata aku dan Aryanti dibawa ke bandara. Sebelum kami turun, disodorkan dua tiket pesawat atas namaku dan Aryanti. Aku dan Aryanti harus terbang malam ini dengan penerbangan terakhir ke tanah air. Tujuannya bukan ke ibu kota negara, tapi ke Balikpapan. Dua lelaki lain langsung menjemput aku dan Aryanti ketika pintu mobil membuka. Kami diantar, tepatnya digiring, munuju pintu masuk bandara. Waktu take off menyisakan kurang dari satu jam.

Dalam penerbangan aku dan Aryanti tak banyak bicara. Cuaca kurang baik hingga pesawat terasa tergoncang-goncang. Demi menutupi borok orang-orang di sana, persekongkolan dan skenario apa lagi yang dikenakan terhadap Aryanti dan diriku.

Seperti pengalaman yang sudah-sudah, nanti pasti ada yang akan menjemput kami di pintu bandara. Entah siapa. Dan entah mau dibawa ke mana.

Waktu tentunya sudah malam sekali. Ada rasa cemas mengalir. Kami berpandangan. Tangan Aryanti kuremas-remas. Dia membalasnya dengan hangat. Aryanti kemudian merebahkan diri ke tubuhku. Kupeluk pinggangnya dengan segala rasa. Tiba-tiba aku sangat takut kehilangan dia. Barangkali dia juga demikian. Entah mengapa firasat buruk melintas dalam diriku.

’’Yang kuminta hanya jangan pernah beri kegetiran sesudahnya,” kata Aryanti. ’’Bila waktu tak mampu beri perjumpaan, biarlah kita diam dalam suka, diam dalam rindu. Itu sudah cukup bagiku.”

Aku tak mampu menjawab kata-katanya. Ada kesan mendalam darinya. Lalu dia mengatakan itu kata-kata diambil dari status temannya. Tapi aku merasa betapa bermakna kata-kata itu saat ini. Kami sama-sama terdiam lagi. Aryanti kemudian melepas sepatu jinjit sebelah kanan yang dikenakannya. Dilihatnya tanpa bicara. Tiba-tiba aku ingin memegang sepatu itu. Aryanti melepaskan dari tangannya. Sepatu jinjit itu aku amati, lantas kucium dengan pelan sambil memejamkan mata.

Belum usai aku mencium sepatunya, kembali Aryanti memelukku makin kuat sambil merebah ke pangkuanku dengan rambut tergerai. Degup napas di dadanya makin terasa. Aryanti dan sepatu jinjitnya kupeluk di dadaku. Kurebahkan pula tubuhku di tubuhnya. Makin rapat dan rapat. Sama-sama tak tahu, apakah ini perjalanan terakhir buat aku dan dia. Adakah sepatu jinjit Aryanti ini yang kelak menjadi saksi jika kami dihabisi? Ah....***

Surabaya, 9 Januari 2017


M. Shoim Anwar, cerpenis dan dosen di Universitas Negeri Surabaya. Buku kumpulan cerpennya: Oknum, Musyawarah Para Bajingan, Limau Walikota, Pot dalam Otak Kepala Desa, Bermula dari Tambi, Soeharto dalam Cerpen Indonesia, serta Meniti Kereta Waktu. Novelnya Sang Pelancong, Angin Kemarau, dan Tandes.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya M. Shoim Anwar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 15 Januari 2017

0 Response to "Sepatu Jinjit Aryanti"