Setan Becak | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Setan Becak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:09 Rating: 4,5

Setan Becak

Yogyakarta, 1966 

MALAM gelap dan sunyi. Udara yang basah memantulkan cahaya lemah sisa-sisa lampu jalanan. Tidak semua tiang listrik ada lampunya, karena kami, anak-anak yang gagah perkasa, sering menjadikannya sasaran untuk menguji kemahiran kami menggunakan katapel. Tentu, kami semua ingin menjadi Wiro Tarzan Indonesia.

”Tidak baik membunuh burung,” kata kakak-kakak perempuan, ”carilah sasaran benda-benda mati.”
Maka kegelapan kini melingkupi dunia kami. Namun lampu-lampu jalanan yang tidak kunjung diganti bukanlah satu-satunya penyebab kegelapan itu.

Kami, anak-anak yang gagah perkasa, memang tidak boleh membunuh burung, tetapi orang-orang dewasa yang gagah perkasa kami dengar membunuh manusia. 

Cerita itu mempergelap malam. Dalam kegelapan malam berlangsung peristiwa yang kami pergunjingkan di luar kelas.

”Jadi, pada malam hari perempuan itu keluar rumah mencari becak....“

Selanjutnya, kuambil alih saja cerita itu, di luar rumah, becak yang kosong mendatanginya, dan perempuan itu langsung naik. Dalam gelap malam becak itu melaju. Mungkinkan serasa terlalu ringan, bahkan mengambang, untuk jalanan yang di sana-sini berlubang?

Tiada perlu menunggu larut agar malam tampak begitu malam bagaikan tiada lagi yang lebih malam, karena jalanan memang begitu kosong dan begitu sepi bagaimana tiada lagi yang lebih sepi selain di kuburan. 

Namun inilah hari-hari ketika tidak semua orang mati dikuburkan.

Orang-orang yang dibunuh dibuang ke sungai dari atas jembatan. Orang-orang yang digorok, didorong masuk ke lubang besar di kebun karet, hutan jati, atau gerumbul pohon pisang.

Sekarang menjadi jelas, mengapa ada orang-orang yang meski dipaksa dengan cara apa pun jua—tidak bersedia makan buah pisang dari pohon-pohon pisang di gerumbul tertentu. Bahkan melewatinya pun sama sekali tidak berani.

Malam menjadi saat yang tidak terlalu baik untuk keluar rumah dan berada di jalanan sendirian.

Di dalam rumahnya sendiri saja, setiap saat seseorang bisa dijemput dan dibawa pergi, untuk tidak pernah kembali lagi.

”Diciduk.“

Begitulah disebutkan.

Ya, diciduk. Seperti mengambil air dengan gayung. Seperti mengambil sop.

Betapapun seseorang ada kalanya mau tidak mau harus keluar malam bukan? Seseorang harus ke rumah sakit, seseorang harus ke apotik, seseorang harus pergi karena mendapat panggilan untuk memijat.

”Ya, sudah, di sini saja,“ ujar penumpang becak itu.

Terdengar suara rem yang hanya terdapat pada becak, dan becak yang meluncur seperti mengambang itu pun melambat sampai akhirnya berhenti. 

Perempuan itu turun setelah roda belakangnya diangkat dan bagian depannya merendah. Itulah yang harus dilakukan jika penumpangnya perempuan berkain kebaya, berselop, dan bersanggul pula.

Perempuan itu akan turun dengan anggun, mengambil dompet dari tasnya, mengambil uang, dan membalikkan badan sambil mengulurkan tangan untuk membayar kepada tukang becak itu.

Saat itulah akan terdengar jeritan panjang di tengah kesunyian malam.

***
”Apa yang terjadi?“

”Tangan yang menerima uang itu berlumuran darah, dan darahnya mengalir deras ke bawah dari setiap pori-pori kulitnya.“

”Uangnya diterima?“

”Tidak tahu, tapi perempuan itu pingsan karena kedua tangan yang berlumuran darah ini tidak bertubuh, tidak berkaki, maupun berkepala.”

”Hanya dua tangan?“

”Iya.“

”Dua tangan yang berlumuran darah?“

”Menetes-neteskan darah, bahkan darahnya mengalir deras ke bawah.“

”Lantas?“

”Orang-orang yang berdatangan karena mendengar jeritan hanya melihat perempuan itu tergeletak pingsan. Mereka berdatangan menolongnya. Setelah perempuan itu siuman, mereka dengar cerita tentang sepasang tangan yang bergelimang darah dan darahanya mengalir ke bawah.”

”Apakah ada bekasnya?“

”Tidak.“

”Benarkah cerita perempuan itu?“

”Tidak tahu.“

”Benar-benar adakah perempuan itu?“

”Tidak tahu.“

***
Bukan hanya cerita itu yang tidak diketahui benar dan tidaknya dengan jelas. Segala sesuatunya sudah beberapa bulan ini simpang siur. Berita radio dan berita koran bersaing dengan berita dari mulut ke mulut yang benar dan tidaknya juga tidak bisa dipastikan. Namun orang-orang yang dijemput pada malam hari memang tidak pernah kembali, meskipun belum dapat diketahui apakah masih hidup atau mati dibunuh, seperti yang dikubur dalam lubang besar atau dilemparkan ke sungai dalam keadaan sudah mati.

”Sekarang Bapak ke mana-mana bawa keris,“ kata Ibu.

Aku tidak tahu bagaimana keris bisa dihubungkan dengan keadaan itu, tetapi tetangga-tetangga kami sendiri pun ada yang menghilang, tak hanya salah satu, melainkan seluruh keluarganya, termasuk anak-anak seumurku.

”Bapaknya Titun pe-ka-i,“ kudengar kalimat seperti itu.

Kami anak-anak kecil berkerumun, menyaksikan para pemuda dilatih oleh tentara, untuk berbaris dan siap terjun ke suatu pertempuran, meskipun hanya bersenjatakan sebatang bambu. Dari kejauhan kami saksikan di berbagai tanah lapang, para pemuda itu merayap sambil bertiarap, sembari membayangkan peluru berdesing-desing di atas kepala mereka. Dalam terik matahari, mereka harus membayangkan malam yang gelap gulita di dalam hutan, tempat langkah satu mengikuti langkah lain dengan kewaspadaan yang sangat tinggi.

Semua ini tidak kami pahami maknanya, apakah ada hubungannya dengan nasi campur jagung yang disebut bulgur sebagai santapan kami sehari-hari, antrian minyak tanah yang panjang sekali, maupun listrik yang terlalu sering mati. Namun kami sangat menikmati bagaimana pesawat terbang sesekali memuntahkan pasukan payung yang memenuhi langit.

”Er-pe-ka-a-de!“

Kami anak-anak kecil menghafalkan kepanjangannya: Resimen Para Komando Angkatan Darat. Hampir semua anak sudah mengalihkan cita-citanya. Dari ingin menjadi Wiro Tarzan Indonesia beralih menjadi anggota pasukan komando.

***
Cerita tentang sepasang tangan berdarah yang membawa becak itu masih terus ada. Banyak orang seperti mendapat pengalaman yang sama. Ketika mau membayar, yang menerima adalah tangan bermandi darah tanpa tubuh, tanpa kaki, dan tanpa kepala.

Kami, anak-anak yang gagah perkasar, tidaklah gampang percaya.

”Waktu mau naik, apakah penumpang itu tidak tahu kalau tukang becak itu hanyalah sepasang tangan berdarah? Kalau tahu tentu akan lari lebih dulu ’kan? Satu atau dua orang, mungkin saja langsung naik dengan tergesa, tanpa memperhatikan apa pun dalam kegelapan, tapi masa’ semuanya!”

Tidak ada yang bisa menjawabnya. Tidak ada seorang penceritapun pernah mendengar cerita ini langsung dari para penumpang yang mengalaminya sendiri. Tidak ada seorang pun yang bisa memastikan apakah para penumpang ini memang ada.

Kemudian diceritakan, bahwa tukang becak yang hanya terlihat tangan berdarahnya ini lewat saja di kejauhan.

Namun yang bercerita, siapa pun orangnya, tidak pernah merupakan saksi mata.

Cerita ini tidak bisa dipsatikan kebenarannya. Sebaliknya orang-orang yang diciduk dan tidak pernah kembali memang ada.

Aku sungguh-sungguh tidak tahu apa hubungannya. 

Kampung Utan,
24 Desember 2016. 18:01.

Seno Gumira Ajidarma Dilahirkan tahun 1958. Bekerja sebagai wartawan sejak tahun 1977, kini tergabung dengan panajournal.com. Menulis fiksi maupun nonfiksi, dan mengajar di berbagai perguruan tinggi. Masih meneruskan penulisan cerita silat Nagabumi yang sudah melampaui 3.000 halaman.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Seno Gumira Ajidarma
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" 31 Desember 2016 - 1 Januari 2017

0 Response to "Setan Becak"