Si Tukang Tanya | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Si Tukang Tanya Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:05 Rating: 4,5

Si Tukang Tanya

RAISA menatap takjub tanpa berkedip. Selalu seperti itu setiap kali melihat cerpen FIna, teman sekelas, dimuat di media cetak. 

Semoga setelah ini, cerpen aku. Bergitulah kata yang selalu dirapal Raisa. Dan setelah itu ia akan menjadi tukang tanya. ”Selamat ya, Fin. Dimuat lagi. Itu berapa lama masa tunggunya?“ cerocos Raisa.

Fina mengerutkan kening sebentar. Tangannya tampak menghitung.

”Kalau nggak salah, hampir satu bulan, Rai. Kenapa?”

“Nggak, sih. Tanya aja. Lumayan lama, ya.” Raisa menatap Fina meminta persetujuan.

“Yah, memang begitu prosedurnya, Rai. Kita kan tidak bisa buat aturan sendiri. Bahkan ada yang masa tunggunya sampai enam bulan.” Raisa mengangguk paham mendengar penjelasan Fina.

Setelah itu Raisa kembali berkutat dengan cerpen Fina. Ia membaca cerpen berjudul Laki-laki Bermata Cokelat dengan saksama.

“Ini keren sekali, Fin. Asli. Aku selalu suka cerpen-cerpenmu. Bagus banget,” puji Raisa bertubi-tubi. “Terima  kasih,” jawab Fina kalem. 

”Emm... kok kamu bisa buat kayak gini sih, Fin? Caranya gimana? Aku penasaran banget.“ Fina menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Agak bingung kalau Raisa mulai melancarkan pertanyaan yang selalu bertubi-tubi. ”Kalau aku sih, Rai, biasanya suka mengamati yang ada di sekelilingku. Kalau ada yang menarik, langsung aku tulis. Diendapkan sebentar, editing.“

Lalu dikirim dan tinggal nunggu. Itu aja.“

”Ah, tidak ketinggalan selalu banyak baca buku buat nambah kosa kata, dan amunis otak.“ Fina tertawa renyah.

”Nggak... nggak gitu, Fin.“ Raisa menggelengkan kepala.

”I mean, bagaimana kamu bisa membuat cerpenmu selalu ada rohnya? Serasa hidup gitu deh, Fin. Dan lagi setting kamu juga detail banget, lokalitasnya kerasa banget. Nah itu bagaimana kamu bisa membuatnya?“

Fina menatap lama teman satu kelasnya itu. Dengan sabar mulai menjelaskan pertanyaan yang diajukan Raisa.

”Kapan-kapan aku diajari ya.“ Raisa menunjukkan wajah memelas. ”Boleh saja, Rai. Yang penting kamu mau belajar dengan sungguh-sungguh.” Raisa langsung kegirangan.

”Siap, aku selalu bersungguh-sungguh, Rai, makanya aku banyak bertanya biar dapat ilmu.“

Fina hanya bisa menatap Raisa dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Raisa memang selalu seperti itu jika berhubungan dengan dunia kepenulisan.

Raisa akan terus bertanya padanya lagi dan lagi, soal tips menulis dan bagaimana cara mengirim naskah. Karena memang itulah hobinya. Sesuatu yang bagus memang, tapi kadang kurang disukai Fina, membuat tidak nyaman, bukannya FIna pelit berbagi ilmu. Ada alasan sendiri kenapa Fina agak tidak menyukai pertanyaan Raisa.

***
ESOK harinya, Raisa sudah duduk manis di depan bangku Fina.

“Bagaimana biar tulisan itu bagus dan dilirik media? Ayo dong bagi tips biar tembus media, gitu. Trus, apa penulis harus punya nama pena? Penting nggak sih, nama pena itu? trus… trus gimana cara mengatasi writter’s block? Aku suka gitu soalnya. Dan kapan waktu yang tepat buat nulis? Oh, iya, lupa, media mana yang menerima cerpen genre remaja? Boleh minta alamatnya? Kemarin aku lupa belum menyimpannya setelah tanya kamu.”

Fina hanya bisa menarik napas mendengar pertanyaan Raisa yang runtut itu. Temannya itu memang sangat pandai kalau disuruh mengajukan pertanyaan. Selalu. Setiap hari, tanpa henti. Raisa kalau bertanya sudah seperti radio rusak. Semua orang mengetahuinya. 

“Pertanyaanmu banyak banget, Rai. Sampai bingung.” Fina berusaha bersikap tenang menghadapi temannya yang satu ini.

“Aku jawab satu-satu, ya.”

”Siap, aku akan mendengarkan dengan baik.“ Raisa mengacungkan ibu jarinya.

”Tapi sebelum itu aku boleh tanya sesuatu?“ Fina menatap manik mata Raisa yang terlihat bingung.

”Em... tentu saja boleh. Santai saja, Fin.“

”Itu....“ Fina agak tidka enak. Dia agak ragu menanyakannya. Tapi mungkin ini adalah saat yang tepat. Dia harus mengatakan apa yang dirasakannya pada sikap Raisa selama ini. Setidaknya itu bisa membuat Raisa sadar. 

”Ayolah, katakan saja. Ngaak apa-apa, kok?“ Raisa tetap terlihat ceria. Maaf, kamu bilang selama ini menjadi penulis, kamu juga selalu aktif bertanya dan ikut berbagai diskusi kepenulisan bareng aku dan teman yang lain.”

Fina berhenti sejenak.

“Iya, aku memang melakukannya. Kan buat dapat ilmu, Fin. Seperti yang kamu bilang.“

”Jujur... aku sangat salut akan antusiasmu. Tapi, kenapa kau tidak pernah mencoba menulis, Rai? Setiap aku beri tugas, ada aja alasan yang kamu kemukakan. Selama ini kamu hany abertanya ini dan itu. Padahal modal utama menjadi penulis adalah menulis. Lalu dibantu dengan mau membaca dan mulai mengirim agar tulisanmu. Pelajar media yang dituju biar tahu tulisan yang disukai. Kalau kamu hanya bertanya dan no action, itu akan percuma, Rai. Bukannya semua pertanyaan itu sudah sangat sering kamu tanyakan padaku?”

Raisa menelan ludah. Seketika wajahnya memerah. • 

Srobong, 24 Oktober – 15 Desember 2016

Ratnani Latifah Jalan Pasar Mlonggo  Kompleks Mushala Al-Falah Srobyong RT 04 RW 02 Mlonggo Jepara 59452

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ratnani Latifah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 15 Januari 2016

0 Response to "Si Tukang Tanya"