Singgah di Omerta | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Singgah di Omerta Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:04 Rating: 4,5

Singgah di Omerta

MEJA bar kayu di sudut ruangan masih sama. Juga meja-meja tamu yang disulap dari mesin jahit klasik. Kursi bersandaran besi padat berukir, rak-rak buku, etalase yang memajang suvenir otomotif, poster vintage Land Rover dan Vespa berbagai ukuran. Tak ada jejak mafia. Padahal nama kafe ini Omerta. The code of silence. Secara harfiah berarti gerakan tutup mulut, atau boleh jadi kesetiakawanan. Semacam perekat persaudaraan. Jangan harap ada wisky, vodka, atau brandy, bahkan sekadar bir pun tak tersedia di sini. Cuma kopi dan teh dalam berpuluh varian racikan.

“Selamat datang di Omerta!”

Sapaan yang persis sama. Meluncur dari balik meja bar yang tinggi, dari lelaki semampai, beruban, brewokan, bertato, kacamata minus. Namanya Deni, pemilik kedai sekaligus peracik kopi dan teh, merangkap pelayan. Jika karyawannya berhalangan, Deni menggantikannya. Seperti sekarang, dia menyapaku sembari membersihkan meja bar itu.

Siang jelang matang. 14.30. Di Omerta waktu berjalan lebih lambat.

“Apa kabar, Bung?”

Sesaat Deni menghentikan aktivitasnya. Ia menatapku, lalu memamerkan senyum lebar. “Oi… Lama tak singgah, Kamerad!” katanya setengah berteriak. Dijabatnya tanganku. “Sehat?”

“Sehat-sehat orang tua.”

“Hahaha… Maka nikmatilah hidup, Bung. Kurangi tidur, perbanyak minum kopi. Jadi, apa pilihan Anda hari ini? Kopi Betina seperti biasa? Atau sesekali mau coba Kopi Jantan?”

Deni tersenyum lebar lagi. Tapi kali ini segera surut dan buru-buru minta maaf. “Bukan maksudku mengingatkan kau padanya.”

Aku menggeleng. Mencoba tersenyum. Siapa bisa lupa?

Usia kami sebaya. Sama-sama lahir di tahun 1977. Bulan ketujuh. Aku tanggal 17, dia 10 hari berselang. Begitu banyak angka tujuh dalam hidup kami. Aku mengkultuskannya, merekayasa sedemikian rupa hingga seluruh hidupku seolah tak bisa dipisahkan dari angka itu. Dia tidak. Seingatku, dia hanya melakukannya untuk satu hal: Tuesday with Morrie, halaman 154. Tiap kali kami singgah di Omerta, dia akan mengeluarkan buku itu dari tas. Tidak untuk dibaca. Dia mencari halaman itu, lalu meletakkannya di atas meja dalam kondisi terbuka.

“Kok tidak ada angka 7?” kataku, dan dia tertawa. “Bagaimana sih?” ucapnya setelah tawa reda. “Ini gabungan angka tahun kelahiran kita, 77 ditambah 77!”

Saat itu kami tidak sedang menjalin hubungan yang lebih dari sekadar pertemanan, namun dia menempatkan angka tahun kelahiranku di posisi istimewa. Diam-diam aku menyimpan harapan.

Kenapa Tuesday with Morrie, tanyaku di hari lain. “Aku suka. Kupikir membaca novel ini akan membuat orang tak terlalu takut menghadapi mati. Setidaknya bagiku. Barangkali bisa sama bagi orang lain. Bisa juga tidak,” ujarnya.

“Jadi pada halaman 154 itu malaikat maut datang?” tanyaku lagi.

“Tepatnya, belum, Bung. Di sana dipapar bagaimana Janine, istri Mitch, menyanyi untuk Morrie yang kondisinya makin payah. Lagu bersyair sangat indah. The Very Throught of You. Aku melacaknya di youtube dan menemukan banyak versi di luar aslinya. Dari semuanya, aku suka versi Billie Holiday dan Diane Schuur. Tapi paling mengesankan bagiku justru versi renyah dari Antoinette Clinton, penyanyi muda yang lebih suka menyebut dirinya Butterscotch.”

Sikapnya hampir selalu meriah. Di awal pertemuan kami, dia juga yang pertama mengulurkan tangan. “Mira. Mira Marcela,” katanya.

“Seperti nama penyanyi dangdut.”

“Aku memang penyanyi dangdut.”

Usianya waktu itu 27. Pernah menikah dua kali, bercerai, tanpa anak. Pernikahan pertama terjadi saat dia masih 17 tahun, berangkat dari perjodohan yang sebenarnya potensial membuat hidupnya berubah ciamik.

Lelaki itu dokter dan sudah barang tentu mapan dalam segala hal. Tapi rumah tangganya tak bertahan lama. Hanya tiga tahun. Ada dua hal yang membuat Mira kehilangan kesabaran dan akhirnya mantap memilih cerai. Lelaki itu punya tingkat ketelatenan yang sungguh kelewatan. Bahkan untuk perkara-perkara yang sangat sepele. Ia hapal letak sendok sayur, toples garam, ember cucian kotor, dan semuanya tidak boleh bergeser satu inci pun. Mira mesti betul-betul cermat atau seluruh tetek bengek pekerjaan ini akan diulangnya sesuai standar yang ditetapkannya sendiri.

Mira merasa terpenjara. Sejak lelaki itu mengikuti satu pengajian ia memberlakukan banyak sekali larangan. Tak boleh mendengarkan musik, tak boleh menonton televisi, tak boleh bepergian seorang diri sekalipun itu ke pasar, ke super market, bahkan ke rumah ibu dan ayahnya. Lelaki itu juga memerintahkannya untuk menutup sekujur tubuhnya. Yang tersisa hanya sepasang mata.

Setelah bercerai Mira jadi penyanyi dangdut. Kenapa harus dangdut? Kenapa jadi penyanyi? Kenapa bukan pekerjaan lain atau kenapa dia tak pulang kampung saja, misalnya. Mira tak menjelaskan dan aku juga tak bertanya lebih lanjut. Pastinya, setahun kemudian Mira dinikahi pemilik orkes dan produser rekaman yang mengorbitkannya. Pernikahan itu berumur sama pendek. Hanya 17 bulan. Mira tak tahan pada kelakuan suaminya yang doyan main pukul dan kelayapan menyantap perempuan.

Mira Marcela mengaku telah melepas 37 album. Jumlah yang luar biasa bahkan untuk ukuran pedangdut di negeri terkasih ini. Padahal dia belum pernah masuk televisi atau sepanggung dengan penyanyi ternama. Beberapa yang menurutnya laris berjudul Enak-Enak Digoyangin, Pacaran Lagi Sama Duda, Mendhem Kangen, Terbujuk Rayu Mega Mix II, Mencari Mangsa Gaya Jaipong, dan Basah-Basah Digilir Cinta Seleksi Koplo Terheboh.

Percakapan soal pernikahan dan dangdut umumnya berhenti sampai di sini. Bukan lantaran kecewa atau tidak menarik. Namun kami memang tak pernah betah berlama-lama pada satu topik. Seingatku, satu-satunya topik yang tak diakhiri gelak tawa atau kesimpulan ngawur adalah soal racik-meracik kopi. Dia bertanya kenapa kopi yang disangrai lalu ditumbuk dengan metode tradisional akan memberi cita rasa lebih kuat dibanding kopi bubuk olahan mesin. Dia bertanya kenapa suhu air terbaik untuk menyeduh kopi antara 85 hingga 97 derajat celsius dan kenapa kopi yang telah diseduh dengan gerakan memutar tak perlu diaduk lagi. Dia bertanya mengapa penambahan gula akan membuat kenikmatan kopi berkurang. Kenapa ada Kopi Jantan dan Kopi Betina. Dia bertanya, tepatnya menggugat, kenapa penamaan jantan dan betina ini didasari bentuk biji kopi yang didekatkan pada alat kelamin–kopi jantan berbentuk bulat sedangkan kopi betina memiliki belahan yang terletak persis di tengah. Kenapa jantan dihargai lebih mahal?

Sering pula dia berada di balik meja bar membantu Deni meracik kopi. Untukku selalu diracikkannya Kopi Betina sedangkan baginya Kopi Jantan. Kenapa terbalik? Emansipasi, bilangnya. Belakangan aku tahu alasannya tak sesederhana itu.

Tujuh bulan pasca perceraiannya yang kedua, Mira bertemu seorang perempuan. Kurang lebih tiga pekan setelah kami berjumpa untuk kali pertama, dia mengenalkan perempuan itu padaku. Mata, bentuk hidung, tulang pipi, dan bibirnya mengingatkanku pada Cyrine Abdelnour, penyanyi Lebanon yang aduhai. Namanya Lena Marlena, pedangdut pendatang baru.

Hari-hari Mira Marcela kemudian riuh diisi segala hal tentang Lena Marlena. Suatu hari dia bercerita bahwa menurut Lena di masa lalu mereka berdua adalah pasangan kekasih. Tak tanggung-tanggung. Mereka bercinta-cintaan pada dua putaran kehidupan. Putaran pertama dia terlahir sebagai laki-laki dan Mira perempuan. Di kehidupan berikut posisinya berbalik.

“Sekarang kalian sama-sama perempuan. Bagaimana itu?”

Sebenarnya aku cuma bermaksud menggoda. Namun Mira menanggapi serius. “Tak masalah, kan? Kupikir aku sudah jatuh cinta padanya,” ucapnya mengejutkanku.

Meski menggebu, percintaan mereka tak mulus. Mira dan Lena bergantian memutus hubungan. Paling sering dilatarbelakangi kecemburuan. Puncaknya, menurut Mira, Lena ingin membunuhnya.

“Kau serius?” tanyaku.

“Lihat ini,” ujarnya seraya menyodorkan telepon seluler. Foto ban dan pelek mobil: forged alloy racing 17 inci, varian jari-jari. Dua dari empat bautnya tanpa mur. “Aku tak pernah suka mengendarai mobil dengan kecepatan rendah.”

“Kau yakin dia pelakunya?”

“Aku tak punya musuh lain.”

Mira menggeleng-geleng. “Kau tahu, Bung. Sebenarnya bukan perkara kematian itu yang kutakutkan. Aku cuma kaget, sekaligus sedih dan kecewa. Dia begitu cantik dan licin. Tak kusangka. Dia bahkan belum terhitung penyanyi dangdut kelas dua.”

“Lalu?”

“Aku tak mau konyol. Aku harus mendahuluinya.”

“Oh, Tuhan.”

Mira tersenyum. “Ini Cuma perkara cinta dan kematian. Tak usah bawa bawa Tuhan.”

Sepekan setelah pembicaraan ini, mobil Mira Marcela ringsek di jalan tol. Kanvas rem rusak berat. Keempat ban nyaris tanpa bunga dan pada pelek sebelah kiri depan, hanya dua dari empat mur yang masih terpasang. Pengemudi mobil yang dikenali sebagai Lena Marlena, terluka parah, dan akhirnya meninggal setelah dua hari dirawat di rumah sakit.

Beberapa jam kemudian Mira Marcela ditemukan tak bernyawa di kamar apartemennya. Seorang tetangga yang curiga melihat botol-botol susu teronggok berhari-hari di depan pintu, menghubungi polisi. Mira tergolek kaku di ranjang mengenakan kemeja putih kedodoran dan lingerie berwarna senada. Tak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuhnya. Kedua kasus ini tak pernah tuntas.

Tiba tiba aku merasa mual. “Kamerad, pesananku sudah siap?”

“Bah! Anda bahkan belum memesan apa apa, Bung,” sahut Deni.

“Kalau begitu Teh Strawberry saja. Tambahkan sedikit mint. Kurasa aku masuk angin.”

Deni tergelak panjang.


2017


T Agus Khaidir, tinggal di Medan. Selain menulis cerpen, ia berkhidmat sebagai kolumnis sepak bola.

Rujukan:
[1] Dislain dari karya T Agus Khaidir
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia"  Minggu 22 Januari 2017

0 Response to "Singgah di Omerta"