Suatu Hari Nanti | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Suatu Hari Nanti Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:30 Rating: 4,5

Suatu Hari Nanti

SUATU hari nanti Za, kau akan tahu bahwa kau seperti Oksigen. Aku membutuhkanmu, tapi kau berikan kebaikanmu untuk semua orang. Dan saat kau tahu hal itu, kau justru akan menjauhiku. Aku terlalu posesif? Tidak juga. Aku sahabatmu sejak kecil. Kata Mama, bahkan sejak kita masih dalam kandungan. Mamaku dan Bundamu saling bersahabat, dan dua sahabat itu mengandung dalam waktu yang hampir bersamaan. Kelahiran kita pun hanya berselisih hari. Persahabatan kedua ibu kita ternyata diwariskan kepada kita.  
            
Kau dan aku tumbuh dan melewati masa kanak-kanak bersama. Kau  pasti mengingatku sebagai seorang anak yang cengeng. Aku juga mengingatmu sebagai seseorang yang selalu ingin melindungiku.
            
Tapi yang paling aku ingat betul, justru pertemuan terakhir kita sebelum aku pergi ke sebuah Rumah Sakit besar di Semarang. Waktu itu kita sedang duduk-duduk di taman kompleks. Hari menjelang sore. Cahaya matahari menerobos celah-celah daun flamboyant dan jatuh di rambutmu. Efeknya, rambutmu jadi kelihatan memerah seperti rambut jagung. Sungguh, aku menyukai warna rambutmu yang tersepuh oleh cahaya matahari.
            
Aku menawarimu bola-bola coklat yang kubuat bersama Mama. Kau mengambil satu dan menggigitnya sedikit, sekedar untuk menyenangkanku. Aku tidak pernah lupa, Za. Kau tidak menyukai coklat. Tapi demi aku, kau bahkan mengulumnya, sampai lama. Kau biarkan coklatnya melumer di mulutmu.
            
Kau tersenyum. Kau bilang tidak ada makanan gratis yang tidak enak. Apalagi jika dibuat oleh sahabat sendiri. Aku membalas senyummu sambil menatap binar matamu yang penuh kebohongan itu. Mulutmu bisa membohongiku tapi matamu tidak. Kau kembali menekuri halaman-halaman bukumu.
            
Kau tidak menyadari bahwa kau adalah oksigen bagiku, Za. Kau yang bisa mengerti tentang kesukaanku, kebiasaanku, perbedaanku dari anak-anak yang lain. Kau memahamiku. Maka aku juga berusaha memahamimu. Kau masih ingat saat kau mengajakku berlari mengejar layang-layang yang tersangkut di atap rumah Pak Kunto? Kau mengajakku untuk meminta ijin kepada Pak Kunto, tapi aku menolaknya.  Aku terlalu penakut. Aku lebih rela untuk membuka tabunganku, membeli seutas layang-layang lengkap dengan benangnya lalu menyerahkannya kepadamu. Matamu berbinar kala itu.
            
“Kau bahkan membelikan yang lebih besar Sal?” tanyamu yang tak membutuhkan jawaban dariku. Lalu kau mengajakku menerbangkan layang-layang itu bersama. Aku mengikuti langkahmu menuju ke lapangan kompleks. Aku tahu, kau ingin agar aku menyukai permainan itu. Dan aku berusaha menyukainya karenamu.
            
Mama selalu menyuruhku untuk meneladanimu, Za. Kepintaranmu, keberanianmu, kelincahanmu. Aku mengagumimu, tapi aku tak bisa menjadi seperti dirimu. Aku tetap pemurung, pendiam dan lebih suka menyendiri.
            
Waktu terus berjalan membawa kita keluar dari dunia kanak-kanak yang damai dan berwarna. Kau tumbuh menjulang, Za. Mama menjadi iri dengan pertumbuhan tubuhmu.
            
“Kau harus lebih banyak berolah raga, Sal. Lihat itu si Reza, tubuhnya atletis kan? Mau Mama ikutkan les karate?”
           
Aku hanya menggeleng.
            
Lain kali Mama akan bilang, “Kau harus lebih berani, lebih banyak bergaul. Lihat tuh, Reza terpilih menjadi ketua OSIS di sekolahnya.”
             
Aku kurang suka dibanding-bandingkan seperti itu. Apakah seseorang yang memiliki rasi bintang sama harus memiliki sifat yang sama pula? Tentu saja pertanyaan itu hanya kusimpan dalam hati, tanpa berani mengungkapkannya kepada Mama. Bahkan perasaan asing dan aneh yang selama ini menggangguku, tak berani kuungkapkan kepada Mama.
            
Ada yang berubah setelah kita remaja, Za. Kau mulai jarang bermain ke rumah karena memiliki teman-teman yang baru. Aku tahu, kau begitu cemerlang, sehingga mampu menembus sekolah favorit seperti yang dikehendaki Bundamu. Sementara aku tidak bisa. Aku semakin terpuruk dalam duniaku yang asing, yang sungguh berbeda dari duniamu.
            
Kau mulai mengajak teman-temanmu ke rumah. Teman-temanmu yang juga sesempurna dirimu. Kau mulai sibuk dengan teman-temanmu dan perlahan melupakanku. Waktumu mulai berkurang banyak untukku. Kau oksigen Za, dan aku manusia biasa. Aku mulai belajar meredakan kesakitan ini karena kehilanganmu.
            
Sebetulnya pertemuan terakhir itu digagas oleh Mama. Mama ingin aku bahagia di saat terakhirku sebelum aku masuk rumah sakit. Lalu Mamaku menemui Bundamu. Mengemis sedikit waktuku agar mau menemuiku. Kau terkejut saat kuceritakan apa yang sedang aku alami. Namun kau berusaha memasang wajah datar. Tapi matamu tak bisa membohongiku. Apakah kau merasa kehilangan, Za? Tentu saja tidak. Kau oksigen dan kau memiliki banyak teman. Justru aku yang akan kehilanganmu nantinya, setelah aku memutuskan untuk menjauhimu. Setelah aku merelakan untuk meninggalkan dunia yang asing ini. Dunia yang membuatku terombang-ambing dalam ketidak pastian rasa.
           
Kau menyerahkan buku yang tengah kau baca di saat pertemuan terakhir kita. Buku psikologi tentang kiat-kiat menjadi seorang remaja yang keren. Aku tersenyum. Mencoba mengungkapkan rasa terima kasihku tanpa kata.
             
Kau bertanya kenapa aku harus melakukan operasi itu Za? Aku tak bisa menjelaskannya secara gamblang. Kau seharusnya tahu, sejak dulu aku kurang pandai merangkai kata-kata. Seandainya kau tahu, betapa terpukulnya Mama saat menjumpaiku mencuri-curi baju miliknya untuk kupakai. Lalu kujalani serangkaian konsultasi dengan konselor kesehatan mental profesional untuk melakukan diagnosis dan psikoterapi. Diagnosis dari gangguan disforia gender dan surat rekomendasi resmi dari terapis membolehkanku untuk melakukan terapi hormon di bawah pengawasan dokter. Setelahnya, Mama memutuskan untuk menuruti anjuran dokter untuk melakukan operasi.
            
Dan sekarang aku telah menjadi seseorang yang berbeda. Suatu hari nanti Za, kalau kita sempat bertemu, semoga kau tetap bisa memahamiku seperti dulu. Meski kau tak bisa lagi memanggilku Salman Ferdian. Karena pengadilan telah memutuskan aku untuk berganti nama menjadi Salma Ferdiana.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Utami Panca Dewi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 22 Januari 2017

0 Response to "Suatu Hari Nanti"