Sungai | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sungai Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:55 Rating: 4,5

Sungai

"SUNGAI... sungai... aku hanya ingin pergi ke sungai....” 

Ibu sakit, dan ia selalu mengigau tentang sungaisungai. Bukan tentang aku, tentang rumah, atau tentang ayah. Tapi tentang sungai-sungai. 

“Mengapa ibu selalu menyebut sungai-sungai, Yah?” 

Ibu terbaring di ranjang. Aku dan ayah duduk di kursi plastik berwarna putih. Jika ditatap dari ketinggian, ibu akan seperti angka satu. Aku dan ayah akan seperti titik dua. Selanjutnya kekosongan. Tanpa penjelasan. 

“Mengapa ibu selalu menyebut sungai-sungai?” ulangku. 

Ayah menolehkan wajah ke arahku, “Ada sungaisungai yang mengular di kepala ibumu,” katanya. 

“Mengular?” 

“Ya, mengular, seperti ular. Panjang dan meliuk. Bukankah sungai-sungai memang selalu seperti itu?” 

“Tapi mengapa ibu memikirkan itu?” 

Ayah menggeleng, “Mungkin ibumu punya kenangan indah dengan sungai-sungai.” 

“Tapi apa bagusnya sungai-sungai? Ia bau dan dipenuhi sampah. Airnya berwarna hitam dan tak sedap dipandang. Bahkan ikan-ikan pun akan mati kalau hidup di sana.” 

“Sewaktu ayah dan ibumu masih kecil, sungai tidak seperti itu.” 

“Benarkah? Apakah ia seperti dalam dongeng-dongeng?” 

“Begitulah. Airnya jernih, banyak pasir dan bebatuan mengendap di dalamnya, ikan-ikan kecil suka bermain di sana.” 

Aku mencoba membayangkan sungai-sungai pada masa kecil ayah, dan aku kesulitan. 

“Pantas saja ibu selalu menyebut sungai-sungai. Aku juga mau melihat sungai seperti itu.” 

Ayah terdiam dan hanya menatap wajah ibu. Aku tak pernah paham dengan tatapan orang dewasa. Kadang terlihat seperti air dan kadang terlihat seperti api. Tapi tatapan ayah seperti kabut. 

***
Seseorang yang telah tersesat begitu jauh, ketika ajal mendekatinya, ia akan berlari ke hulu masa kecilnya yang indah. Barangkali itulah yang terjadi pada perempuan itu. Barangkali ia mengenang tentang sungai-sungai di masa kecilnya. Entahlah. Siapa yang paham dengan apa yang ada dalam pikiran orang tak sadar. 

Perempuan itu, aku menikahinya tujuh tahun lalu. Pernikahan yang tidak kami kehendaki. Kami masih sangat muda dan hanya tahu soal senang-senang. Semua bermula dari perkawanan, kami berkawan sangat dekat, terlampau dekatnya sampai-sampai kami terbius oleh hasrat. Ia hamil. Karena itulah aku menikahinya. Karena rasa malu orangtua kami memang harus ditutupi. Dan selanjutnya kehidupan rumah tangga kami berjalan sangat hambar. Seperti dua bocah yang sedang main rumah-rumahan. Penuh dengan cek-cok dan salah paham. Penuh sikap kekanak-kanakan. Sedangkan perutnya terus saja mengembung. 

Bayi kami pun lahir dan perempuan itu masih saja kesulitan menerima dirinya yang telah menjadi seorang ibu. Persis sepertiku yang sulit percaya bahwa aku telah menjadi seorang ayah. Selepas bayi kami lahir dan berusia sepuluh bulan, perempuan pamit mau bekerja ke luar negeri, diajak seorang teman, ujarnya. Aku sudah mencegahnya tapi ia bersikeras, dan ia pun pergi. Bertahun-tahun tanpa kabar. Aku juga tidak berniat mencarinya. Setiap kali terbersit keinginan untuk mencari perempuan itu, aku selalu teringat pertengkaranpertengkaran kecil kami. Hingga kusadari bahwa kehadiran bocah itu sudah lebih dari cukup bagiku. Aku pun jungkir balik menghidupi bocah itu. Menjadi bapak sekaligus ibu. Mencari nafkah dan memasak di dapur. Dan tahun-tahun pun berlalu, melukis kerutan di dahi dan sudut mata. 

Dan begitulah, setelah menghilang hampir tujuh tahun, tanpa kabar atau berkirim uang sepeser pun, pada suatu malam yang begitu larut, tiba-tiba perempuan itu mengetuk pintu dan berdiri di ambangnya dengan tubuh kurus dan wajah yang tampak lebih tua dari umurnya. Ia pulang tanpa membawa apa pun kecuali sebuah penyakit yang belakangan kutahu telah menggerogoti tubuhnya. Selama ini ia pergi ke dunia yang ia rahasiakan dari semua orang. Begitu ia kembali aku merasa seperti dipecundangi. Dan dendam yang telah kuperam sejak lama itu semakin menggelegak di dalam. 

Sudah lama sekali bocah itu menanyakan perihal ibunya. Dan satu-satunya jawaban yang keluar dari mulutku adalah, bahwa ibunya sedang bekerja mencari uang di tempat yang jauh. Dengan sedikit keyakinan kukatakan, bahwa suatu saat ibunya akan pulang. Maka ketika perempuan itu benar-benar pulang dan berdiri di ambang pintu, bocah itu pun menelisik, “Apakah itu ibu?” 

Aku tak bisa berbohong lagi, perempuan itu memang ibu yang melahirkannya. Dan meninggalkannya.  

Tak butuh waktu lama, sekitar satu bulan, perempuan itu sudah begitu akrab dengan anaknya, anak kami. Hingga aku berpikir, bahwa ia menghilang selama hampir tujuh tahun itu hanya untuk belajar menjadi ibu yang baik. Perempuan itu membersihkan rumah, menanak nasi, menggoreng lauk, mencuci baju, membuat gula-gula yang disukai anak-anak. Ia melakukannya dengan sangat tekun dan tulus, seolah ia ingin menebus dosa-dosanya dengan itu semua.  

Kami tak banyak bicara. Karena diam-diam ia tahu bahwa aku telah lama menyimpan dendam. Kami seperti dua makhluk beda alam yang tinggal di bawah satu atap. Semua berjalan begitu menyiksa, hingga tiba-tiba, suatu pagi, perempuan itu ambruk di teras depan dan berakhir di rumah sakit. Ia tak berdaya, lunglai, nyaris membusuk. Dan ia hanya bisa mengigau tentang sungai-sungai. Di satu sisi aku merasa iba menatapnya. Namun di sisi lain, rasa sakit itu terus tumbuh seperti sebatang pohon yang penuh duri. Apakah aku harus memaafkannya? Atau ia yang harus memaafkanku? Atau kami berdua masih belum bisa memaafkan diri kami sendiri? Entahlah, tapi rasanya kami berdua memang pantas dikutuk lantaran kesalahan masa muda yang tak pernah bisa diralat itu? 

***
Hampir tujuh tahun aku pergi meninggalkan anak dan suamiku. Aku membohongi mereka, aku membohongi orang-orang. Aku tak pergi ke luar negeri. Aku hanya pergi menyeberangi pulau, diajak seorang kawan. Sudah lama aku ingin kabur dari kenyataan. Aku belum siap menjadi seorang istri, apalagi ibu. Dan ombangambing perjalanan pun akhirnya membawaku ke tempat itu. Tempat yang mendatangkan uang jajan yang lumayan untuk seorang gadis belia yang selalu ingin bersenang-senang. Tahun demi tahun melenggang. Aku lupa kalau pernah melahirkan seorang manusia dari rahimku. Aku lupa kalau pernah mengikrar sebuah janji pada seorang lelaki. Aku lupa aku pernah bersumpah di bawah nama Tuhan. Aku lupa segalanya. 

Aku sadar setelah karma datang dalam wujud yang sangat menyeramkan. Sesuatu telah menempel di tubuhku dan kemudian menghancurkannya perlahan-lahan. Orang-orang menyebutnya sebagai ‘penyakit’, dan aku menyebutnya sebagai ‘dosa’. 

Kini, tubuhku rasanya begitu lengket dan gerah oleh penyakit itu, oleh dosa itu. Aku seperti bergelut dalam asap dan aroma busuk selama bertahun-tahun. Dan aku butuh mandi. Aku butuh sungai. Sungai yang jernih. Sungai maaf dari orang-orang yang kusakiti. Sungai ampunan dari Tuhan yang kukhianati. Hanya sungai-sungai itu yang mampu melarungkan dosa-dosaku. Hanya sungai-sungai itu yang bisa membilas tubuhku yang kotor, berkeringat, lengket dan begitu bau. 

“Sungai... sungai... aku hanya ingin pergi ke sungai....” -k 

Malang, 2016.

Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa, kini bermukim di Malang.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mashdar Zainal 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 8 Januari 2017


0 Response to "Sungai"