Yang Manis dan Menyenangkan - Di Bawah Permukaan Air - Korona - Cinta Seperti Api - Bejana Retak - Golgota | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Yang Manis dan Menyenangkan - Di Bawah Permukaan Air - Korona - Cinta Seperti Api - Bejana Retak - Golgota Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:11 Rating: 4,5

Yang Manis dan Menyenangkan - Di Bawah Permukaan Air - Korona - Cinta Seperti Api - Bejana Retak - Golgota

Yang Manis dan Menyenangkan

Setelah Sonnet 95

Tirai telah ia koyak jadi dua, dan bait 
yang disusun tak lagi bisa dibangkit 
meski di hari ketiga. Ini selumbar 
baru, bukan sekadar gambar –

yang manis dan menyenangkan adalah 
senyum dan hati mereka yang tabah 
menjalani kutukan – duri mawar, 
sisik ular, dan sebentuk racau himar

di pintu kota. Di mana para penjaga 
menangkap dan memenjarakan Si Tua 
bersama anak-anak gadisnya; En Gedi,

Tirza, Karmel, sementara ia menghunus 
dan mengutus pedangnya yang lurus – 
agar lempang dan terus jalan ke surga.

2016

Di Bawah Permukaan Air

Dari bawah permukaan air, 
langit terlihat luntur. 
Suara gugur seperti air mata.

Tenggelamlah masa silam jadi batu, 
ia yang tak bakal bangkit itu.

Di bawah permukaan air, 
tertinggal hal-hal yang 
diliat-lekatkan jadi lumpur.

Ia yang begitu hancur.

2016

Bejana Retak

Wajahmu 
dan waktu
 rekat di retaknya. 
Sementara yang 
bundar dan memutar 
sisa lengkung jari 
juga lingkung api. 
Jangan 
berkaca –
ia membaca 
semacam tulisan. 
Mungkin amaran 
peramping amarah. 
Pada setiap yang
retak, ia berharap
ada yang melekatkan
ratap. Semacam rasa
sayang atau bisikan -
Jangan kau buang.

2016

Korona

Sebagai korona, 
ia tinggikan suaranya
melebihi kepalamu.

Ia juga timpakan kuasanya
meluapi kepalamu.

Lalu ia basuh lagi
tiga semesta
agar rambutmu
kian bercahaya.

Duhai, kegelapan alam raya,
menyingkirlah saja
ke telapak sajak.

Karena di atas kata
hanya ada cahaya.

2016

Cinta Seperti Api

Bukan hanya bara, ia hangat
bagi bulu jangat. Suam pengusir
gigil demam. Di dekatnya, cerita
mengalir bagai pergantian musim.

Lihatlah! Ia berkobar.
Kata terbakar dan kota
tinggal kabar. Lalu kau
tumbuh jadi tugu suar.

Ia tak akan menghanguskan,
namun mengharuskan kau
memilih - lebih dari arang &
abu, ini emas atau perunggu.

Dengarlah! Yang gemeretak
dan gemetar diubahnya jadi
sorak dan pijak. Kesukaan kanak
bermain-belajar. Dan kau tersenyum,
tergelak, membayangkan bahagia
bagi ternak di waktu fajar.

Ia sebut dirinya: sengit lidah sengat.
Ia tebus kau dari sebuah doa terpanjat.

2016

Golgota

Kau akan punya puncak bukitmu sendiri. 
Tempat kau teriakkan sakitmu itu.

Perjalanan mendaki ini, telah dimulai 
sejak kau dilahirkan. Meski tak ada 
kisah penyerbuan di taman.

Tak ada Ike Mese menyerangmu di barat.
Tak juga Kau Hsing di timur,
atau Shih Pi yang mencegatmu dari sungai.

Di punggungmu, hanya ada panggung bagi
cambuk waktu. Tak ada Tentara Wijaya
mengintai di antara kecamuk pesta Canggu
dan Daha. Di punggungmu, kayu gandar
dan kuk ringan dari harum cendana.

Kau berjalan sedidi saja ke puncak bukit ini.
Tiga ribu pasukan yang kalah telah kembali
ke kapal dan menjalani hukuman selama-lamanya -

sebagai orang jahat pada kebangkitan kedua.

Kau akan punya puncak bukitmu sendiri
dan meneriakkan sakit ditinggikan.

Sakit yang berasal dari cita-cita,
yang ingin kau jangkau -

dengan suara parau, saat berseru:
"Sudah selesai."

2016


Dedy Tri Riyadi lahir di Tegal, Jawa Tengah, dan kini tinggal di Jakarta. Buku puisinya antara lain Liburan Penyair (2014).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dedy Tri Riyadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 14 Januari 2017

0 Response to "Yang Manis dan Menyenangkan - Di Bawah Permukaan Air - Korona - Cinta Seperti Api - Bejana Retak - Golgota"