You | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
You Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:13 Rating: 4,5

You

"KENAPA harus ketemu dia sih?" Itulah yang aku ucapkan saat pertama kali bertemu kembali setelah 4 tahun lamanya. Bertemu dengan seseorang yang dulu memberikan warna dalam hidup. Warna hijau di saatku mencuri-curi pandang melirik ke arahnya. Warna merah muda di saat kita berpapasan. Warna merah membara di saat dia menyapaku walaupun itu karena aku terus melihatnya. Warna abu-abu di saat kulihat dia sedang asik berbincang dengan wanita lain. Dan pastinya warna hitam di saat aku tahu dia akan segera lulus dan pergi.

DI hari ulang tahunnya, aku rela kabur dari pesantren dengan emmanjat gerbang hanya untuk membelikannya kue ulang tahun dan kado. Membelikannya baju koko putih dan peci hitam seperti yang sering ia kenakan. Selama 5 tahun lamanya aku selalu hanya emmandang dirinya. Dia adalah siswa yang terkenal di sekolah. Ia selalu menjadi peringkat pertama di angkatannya, dengan 300 siswa per-angkatan. Karena malu, aku yang notabenenya perempuan, hanya bisa menyimpan kue dan kado itu di atas mejanya. Tanpa bisa mengucapkan langsung.

Yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah menundukkan kepala, berpura-pura tak melihatnya dan berharap ia tak menyadari kehadiranku. Perasaanku yang tak karuan, bagaikan benang panjang yang tiba-tiba kusut tanpa ada yang menyentuhnya. Bingung, entah apa yang harus aku lakukan. Ingin rasanya aku lari ke belakang, tak mau menghadapi masalah yang mengusik hatiku.

"Ahh... alhamdulillah. Ia tak mengenaliku," gumamku. Lega rasanya saat tubuh ini melewatinya begitu saja. Tapi anehnya perasaanku menjadi lebih tak karuan lagi. Senang atau sedihkah hati ini? Bahagia atau kecewakah jiwa ini? Semua rasa itu berkecamuk dan bercampur menjadi satu.

"Syifa," ucap seseorang memanggil namaku. Seketika kakiku terhenti, terdiam sejenak. "Syifa yah?" ucap suara itu lagi. Aku berbalik ragu. Hatiku berbisik, "Mungkinkah dia? Mungkinkah dia yang bertanya? Ah, mana mungkin!" jawab hatiku lagi.

Aku hanya bisa tersenyum saat melihat wajah yang selama ini kuhindari tanpa bisa berucap. Hati ini dengan keras melarangku untuk melihat ke arahnya, apalagi melihat wajahnya.

Ada ketakutan yang besar yang tiba-tiba hinggap di relung hatiku.

"Masih kenal aku ga?" suara itu terdengar lagi. Aku terpaku, ternyata bukan dia yang memanggilku sedari tadi. Ketakutan itu kini mulai pecah, menyebar ke seluruh anggota tubuhku yang lain. Ia tak mengindahkan aku sedikit pun.

"Syifa, masih ingat aku ga?" tanyanya lagi.

"Emhh...?" otakku tak mau bekerja sama. Tak ingat siapa dia. Aku hanya tersenyum.

"Rizal loh teman sekelas pas kelas XII IPA," ucap Rizal dengan bibir tersungging.

"Oh... iya. Maaf ya, ana orangnya pelupa," tersenyum malu.

"Ah tak apa, emang dulu aku nggak begitu menonjol kok. Jadi, wajarlah," jawab Rizal.

Jawabannya itu membuatku tak enak. Untungnya dia tak tersinggung dengan sifat pelupaku.

"Mau ke mana?" tanyanya lagi.

"Mau ke rumah Ustadz Deden," jawabku. AKu terhenyak teringat tujuan sebenarnya aku datang ke tempat ini. Tempat yang menjadi saksi perjalanan hidupku, tempat yang membimbingku menjadi seperti ini, tempat yang tak bisa aku lupakan begitu saja, dan tempat yang banyak memberikanku pelajaran tentang kehidupan. Pondok Pesantren Al-Huda.

"Oh iya, ana ditunggu Ustadz Deden. Afwan ana duluan ya," pamitku meninggalkan mereka.

Selama perjalananku menuju rumah yang aku tuju, entah mengapa hatiku terasa sesak. Ia sejengkal pun tak menoleh kepadaku, ia secenti pun tak melihat ke arahku, ia tak sepatah  katapun bertanya kabarku, dan ia sepertinya tak ada keinginan secuil pun untuk tahu tentang keadaanku. Walaupun hanya untuk basa-basi pun ia tak menginginkannya. Mencoba tetap berdiri tegak walaupun air mata mau menetes mencium bumi.

"Syif, sudah ada yang melamar kamu belum?" tanya Ustadz Deden saat aku sampai di rumahnya. AKu yang sedari tadi bingung apakah aku melakukan kesalahan hingga beliau memanggilku, Berpikir yang macam-macam. Pertanyaan itu tak sekalipun melintas di pikiranku. Aku tertegun tak menjawab.

"Syifa, UStadz mau tanya. Kalau mencari pendamping itu harus yang gimana?" tanya guruku padaku yang tak kunjung menjawab. "Agama," ujarku pelan.

"Yang pertama karena kamu emncintai Allah. Di saat kamu mencintai Allah, maka kamu akan memenuhi kewajiban. Mencintai suamimu seperti seharusnya sehingga terjadinya sebuah keharmonisan. Pada akhirnya suamimu pun akan mencintaimu. Yang kedua adalah karena dia mencintai Allah. Di saat suamimu mencintai Allah, maka ia pun akan mencintai kamu sebagaimana mestinya. Dan pada akhirnya kamu pun akan mencintainya dengan setulusnya," ujar Ustadz Deden menasihatiku. Aku hanya mengangguk, membenarkan apa yang beliau ucapkan.

"Ada yang datang ke ustadz meminta untuk dicarikan istri . Tapi nikahnya minggu depan, soalnya dia mau berangkat ke-Mesir lagi," aku mengerti maksud dari ucapannya.

Beliau berniat untuk menjodohkanku dengan pria itu. "Sebelum Syifa ke sini, ustadz sudah istikharahin kalian berdua," ia menghentikan pembicaraannya, membuatku penasaran. Jadi apakah dia adalah jodoh terbaikku? Ucapku dalam hati.

"Dia juga sudah istikharah tentang kamu, jawabannya baik juga," lanjutnya, membuat ujung bibirku seketika naik ke atas. Tersenyum. "Gimana Syif? Sekarang semuanya ada di tanganmu. Semuanya terserah padamu," ujar Ustadz Deden setengah bertanya. Aku termenung memikirkan semuanya. Semua terjadi dengan cepat membuatku bingung. "Iya," jawabku akhirnya, singkat. Aku yakin semua diatur dengan skenario yang indah.

"Oh iya. Ustadz belum kasih tahu namanya ya?" tanya Ustadz Deden, baru teringat.

"Dia itu kakak kelas Syifa di sini." Berarti aku kenal dong! Gumamku dalam hati.

"Namanya...," serta merta tangan ini bergerak menutup telinga, tak mau mendengar apa yang akan Ustadz Deden katakan. Tak mau mendengar nama yang akan beliau sebut. Hanya saja, aku berpikir ingin mengetahui namanya dari oorangnya langsung.

"Saya terima nikah dan kawinnya Syifa Khairatunnisa binti Muhammad Effendi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Kalimat itu meluncur dari seseorang yang tak kutahu siapa orangnya. Aku hanya bisa duduk dan menunggu tanpa bisa menyaksikannya dengan kedua mataku. Wajahku yang tak terbiasa dengan make up, pada akhirnya hanya bisa pasrah. Aku merengek tak mau.

Dengan waktu yang begitu cepat dan singkat, akhirnya resepsi pernikahan bisa terlaksana. Dari mulai surat undangan, jamuan, dekorasi pernikahan, hiburan, dan apa-apa yang berhubungan dengan pernikahan, semua dipersiapkan oleh keluarga mempelai pria.

Keluargaku, keluarga mempelai wanita yang seharusnya mempersiapkan segalanya hanya bisa bertopang dagu. Keluarga mempelai pria tak memperbolehkan, karena mereka tahu orangtuaku sering sakit-sakitan di makan umur.

Aku yang hanya duduk di kamar tak tahu apa yang bisa kulakukan. Apa yang harus aku ucapkan saat pertama kali melihat wajahnya? Wajah suamiku. Mendengar kata suami, perutku serasa digelitik. Assalamualaikum ucap suara seorang laki-laki sembari membuka pintu. Aku yakin dengan pasti itu adalah suara yang menjadi imamku, suara suamiku. Aku menunduk malu.

"Wa... alaikumsalam," ucapku pelan seperti berbisik. Kuangkat kepala ini berniat melihatnya. Afrizal berdiri di ambang pintu. Teringat saat kita berpapasan di jembatan, ia tak sudi untuk melihatku barang sedikit pun. Apa yang dia lakukan di kamarku? Apa dia mau memberiku hadiah pernikahan? Sepertinya begitu, gumam dalam hati. "Ekhemmmm," dehemnya. Dia menutup pintu dan berjalan ke arahku dengan bibir yang tersungging.

"Ada apa? Kenapa kamu ke sini?  Kalau kamu mau memberiku hadiah, bisa titipkan saja ke keluargaku yang di bawah," cuapku. Dia tersenyum dengan mata yang terus menatapku, menatap tepat ke iris mataku. "Apa yang kamu lakukan?" ucapku kaget saat dia duduk di sampingku. Seketika aku menjauhkan tubuhku darinya. Dekdekdek hatiku berdetak kencang. Dengan gerakan cepat ia mengecup keningku lembut seraya berkata aku ini suamimu. Mataku tak berkedip sampai ia melepaskan kecupannya. Ia tersenyum dan kembali mengecupku, hanya saja kini pipiku.

"Ingat pas acara kenaikan kelas enggak?" tanyanya kepadaku, membuat hatiku berat untuk bernapas. Aku yakin pipiku merah seperti kepiting rebus. Aku tak berani untuk melihat ke arahnya.

Pikiranku melayang ke enam tahun yang lalu. Di saat sekolah mengadakan rekreasi kenaikan kelas, saking asyiknya aku dan temanku hampir ketinggalna bus. Para guru menyadari bahwa ada siswi yang masih belum naik bus, sehingga mereka mencari kami dan yang mereka dapatkan hanyalah dua buah tas yang tergeletak di bawah pohon. Pada saat itu kami sedang di toilet, karena temanku sakit perut.

"Syifa itu tas kamu 'kan?" tanya Bu Intan saat mendapati kami berjalan di parkiran.

"Iya. Kenapa Bu?" tanyaku lagi.

"Tapi kenapa di sana ada foto Afrizal ya?" Bu Intan tersenyum. Aku terpaku. Aku lirik semua guru dan semua siswa-siswi yang berada di dalam bus. Mereka tersenyum melihat ke arahku. Astaghfirullah, lirihku. Aku baru menyadari, bahwa di dalam dompetku ada foto Afrizal yang kuselipkan di bawah foto kedua orangtuaku. "Coba ibu lihat," ucap Bu Intan lagi, membuat tubuhku seketika menjauh. Berlari ke dalam bus.

"Saat itu, kamu tidak tahu apa yang kurasakan?" ucapnya lagi membuyarkan lamunanku tentang masa lalu. "Aku sangat bahagiam" lanjutnya tak memberi celah untuk sekadar menjawab. Afrizal menyodorkan tangan kanannya, dan seketika kucium tangan itu. Hal yang pertama kali dilakukan saat seorang pria dan wanita sah menjadi suami-istri.

"Dan asalkan kamu tahu. Seminggu yang lalu saat kita bertemu di jembatan. Ustadz Deden bilang bahwa mungkin saat perjalanan pulang aku akan bertemu denganmu. Saat itu aku terlalu malu untuk sekadar menyapamu," ucapnya.***


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Silvi Puja Sari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 8 Januari 2017

0 Response to "You"