Ada Laut di Mulut - Jantungku Bukan Batu di Balik Debu - Ibu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Ada Laut di Mulut - Jantungku Bukan Batu di Balik Debu - Ibu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:07 Rating: 4,5

Ada Laut di Mulut - Jantungku Bukan Batu di Balik Debu - Ibu

Ada Laut di Mulut

dan kau pun membuka mulut
di dalamnya ada laut
berlayar perahu-perahu
demikianlah semua orang sudah tahu
awan menunggumu di langit biru.

di mana-mana kau bawa lautan
kapan pun kau tenggak ombak
darahmu mengalir di sirip ikan
tulangmu yang dimuliakan angin terus beranjak.

dingin mengajakmu berumah di lautan
angin meminta tangan segera berangkat
di darahmu siang mengarak awan
di dingin sepi alam dukamu mengombak

bibirrmu pantai, nafasmu pasir berderai
keringatmu sampai sungai hari mengalir
rambutmu menghitung kemarau di januari hujan
di setiap debur ombak langkahmu berjalan.

Pekalongan, 3-2-2016


Jantungku Bukan Batu di Balik Debu

debur ombak mengantar darahku
angin membawa namaku
pantai tak mencapai dadaku
sepantasnya perahu layar mengajak mengejar
senja pun tahu nafasku mencari matahari memancar.

Sebelum angin pulang ke senja yang mekar
di laut kupeluk tangan halilintar
matahari berlari di keningku beredar
sehinggga senantiasa tumbuh usia bersinar

sungai mengalir deras bergegas
menciptakan dada bernafas panas
di dadaku matahari bersama kemarau membakar
di kaki, angin bersama mega terus mengejar.

darahku tidak degan kabut yang diam
jiwaku bukan laut dalam tenggelam
kutak mau dingin hujan membeku
sebab jantung bukan batu di balik debu.

Pekalogan, 25-2-2016

Ibu

musim berganti tahun berlalu rinduku membatu
di kakiku langkah kuburmu memanggilku

ibu tak pernah mati bernafas di kalbu
berusia di matahari mengalir di darahku

pancaran parasmu yang ayu mekar di mawar
di urat nadiku akar rambutmu menjalar

tak pernah pergi, api cintaku panas membakar
keras menggilas perjalananmu di dadaku berkobar

wajahmu yang pucat lebih gemuruh dari ombak lautan
dingin anginmu terus mengejar kehidupan.

kau dan aku tak pernah pisah
masih satu dalam pelukan
tak hilang berlalu di purnama kita bermesraan

Pekalongan, 10-10-2015

Ghufron Muda lahir dan menetap di Pekalongan. Karya pria yang pernah kuliah di Fakultas Sastra Undip ini berupa puisi dan cerpen tersebar di media massa. Kini menjadi ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Kota Pekalongan dan penasihat Forum Lingkar Pena Pekalongan.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ghufron Muda
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 26 Februari 2017

0 Response to "Ada Laut di Mulut - Jantungku Bukan Batu di Balik Debu - Ibu"