ajisaka - cungkup - minakjingga seda | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
ajisaka - cungkup - minakjingga seda Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:14 Rating: 4,5

ajisaka - cungkup - minakjingga seda

ajisaka

”jangan sentimentil, dora,” junjungan kaum shaka
itu berkata, panggung panjang dan lengang, cahaya 
menyanyikan madah dari negeri kematian 
dan tiga detik sebelumnya, dora berujar, ”aku tak 
tahu bila cahaya bisa bernyanyi” 

sementara di tapal pemberangkatan, sembada 
menambal kapal yang berlubang, 
ia sudah habis airmata, ia sudah habis kata-kata 
meski sejak jauh hari, ajisaka telah berulang mengingatkan 
”kelak kau harus berkata keras dan berhati 
keras dan berkepala keras dan menendang keras” 

keesokan harinya sauh diangkat, angin 
menggembungkan layar 
”jangan bersedih, abdi, ini hanyalah drama 
dengan naskah yang ditulis di ujung” 

panggung penuh air 
dan tak ada lambaian 

*** 
di pulau muda itu, konon, gunung-gunung baru 
ditanam, magma baru dijinakkan, dan para raksasa 
hanya tahu cara memakan manusia 

di puncak salah satunya, sebilah keris ditinggal 
dalam liang gelap gua 

”kau harus tinggal di sini, sembada, bersama 
keris ini 
sebab beginilah, hanya dengan beginilah, naskah 
itu tidak akan terkhianati 

ini hanya drama” 

mereka tahu, sekian tahun ke depan 
dua kematian akan terjadi di situ 

”katakan kata kuncinya, katakan 
meski pilu, meski tak ingin kita lalui” 
dora berbisik 

”hanya aku yang boleh mengambil keris itu, 
hanya aku,” kata ajisaka dengan mata terpejam 
angin buruk mengibarkan rambutnya 
angin buruk yang menuju medang kamulan 

***
”kita pahlawan atau penjajah, tuanku?” 

”dora, dora, kita pahlawan karena begitulah yang tertulis” 

”kita datang ke negeri asing, dan kita mengusir penguasa pribumi” 

”dora, dora, kita mengusir para raksasa dan membangun peradaban manusia 
sebab begitulah yang tertulis” 

”tapi benarkah mereka raksasa? dan benarkah mereka memangsa manusia?” 

”dora, dora, mereka raksasa dan mereka memakan manusia 
sebab begitulah yang tertulis” 

*** 
”jangan sakit hati, dewata cengkar 
ini hanyalah drama,” ujar ajisaka 
panggung menciut 
laut meluas 
dan ia mengudar selipat kain 

debur ombak memanggil-manggil penguasa 
dengan taring tumpul itu ia tahu 
ia akan segera tertelan ombak 
lalu menjelma seekor buaya putih 
tepat ketika kain mengembang 
dan ujungnya disentak 

”kenapa aku tidak langsung melompat saja?” 
ia tak mampu tak penasaran 

”sebab penonton ingin pertempuran, cengkar, 
sebab begitulah kisah-kisah agung dibangun” 

*** 
ajisaka harus lupa pada apa yang dikatakannya 
pada sembada, dora harus lupa pada pesan yang 
dikatakan ajisaka pada sembada, 
tiga tahun kemudian 

tapi ajisaka mesti ingat kepada sebilah keris yang ia 
titipkan kepada sembada, dan dora harus menerima 
perintah untuk mengambilnya 

”ambil dengan tanganmu sendiri, dora, 
tak peduli bila kau harus mati” 

*** 
sembada mencium bau kematian 
dan ia ingat bahwa ia harus berkata dengan keras, 
berkepala keras, berhati keras dan menendang keras, 
sewaktu dora tiba 

”inilah saatnya, saudaraku,” teriaknya 

tiga hari panggung menjelma jadi palagan 
dan pada hari keempat 
sembilan liter darah dan tujuh puluh tiga liter 
keringat menggenangi lantai 
keris itu ngungun, udara singun 
tiga ribu gagak menatali daging dan tulang dan sumsum 

*** 
drama selesai sewaktu ajisaka tiba 
dan sebagai aktor terbaik 
ia lihai menangis dan menyesal 

ia kubur sisa makan malam para gagak 
dan menulis sebuah kisah dengan aksara 
yang belum pernah dikenal pulau belia itu 

hana caraka, ada utusan 
data sawala, punya perselisihan 
padha jayanya, sama saktinya 
maga bathanga, sama matinya 

*** 
setelah panggung ditutup 
para pemirsa membikin teater di ujung 
lidah mereka sendiri 
tentang riwayat aksara jawa 
dan menggelincirkan saka menjadi soko 

dan mengubah raja kaum shaka 
sebagai raja jawa awal mula

cungkup

candi itu diam
masih diam

dan angin berhembus
dan tiga helai daun mauni jatuh

"namaku lelono," terdengar suara
"dan aku pernah di sini
suatu pagi
ketika berketi kayu dibakar
dan latu terbang ke nirwana

tapi mungkin tak ada lagi yang mengingatku
atau sekadar namaku"

dan candi diam
masih diam

dan angin berhembus
dan tak ada daun jatuh

abad berlalu
kitab mencatat raja-raja,
panglima, pemberontak,
resi dan ulama
juga penulis kisah yang tak rela
dirinya tak ada

"namun lelono
aku pernah di sini
dengan banyak yang sepertiku
setelah paregreg selesai

sebagai mayat yang dikremasi"

candi diam
masih diam

dan angin berhembus

dan si juru kunci diam
dan seperti hari yang lalu
tak ada peziarah singgah

minakjingga seda

ia melambai dan tersenyum

namun malaikat mautnya
- yang konon pernah mati sebagai manusia
dan bangkit sebagai tokoh agung sebuah serat -
bersumpah ia meronta
dan meringis kesakitan

"ia minta ampun
tapi seperti yang kalian tahu
seorang pendosa mesti menanggung karma"

ia mendengar sobokan kulit
sayatan daging
patahan tulang

lalu doa terakhir dari kerongkongan
yang bocor

pada waktu itulah ia meragukan semua hal dalam khazanahnya
"apakah aku ada, benar-benar ada,
juga kenconowungu, juga damarwulan, juga
layang seta layangkumitir, juga lohgender,
juga anjasmara, juga kebo marcuet?"

tiga detik sebelum kepalanya
lepas dan tubuhnya rubuh
ia malah terkenang pada bhre wirabumi
dan narasinga
dan kali yang mengalirkan darah

ia merasa ada yang salah

"aku tak tahu siapa namaku!"


Dadang Ari Murtono lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dadang Ari Murtono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Sabtu 11 Februari 2017

0 Response to "ajisaka - cungkup - minakjingga seda"