Aku Berniat - Aku Tertegun - Aku Heran - Aku takut - Aku Sadar | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Aku Berniat - Aku Tertegun - Aku Heran - Aku takut - Aku Sadar Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:47 Rating: 4,5

Aku Berniat - Aku Tertegun - Aku Heran - Aku takut - Aku Sadar

Aku Berniat

: - Memintal Harapan

Ya Tuhan.....
Matahari telah bersinar
Rekan, sahabat dan kerabat pun
Semua bergegas mempersiapkan diri
Menuju tempat bernama te-pe-es
Bilik ukuran satu setengah kali dua meter
Di dalamnya berderet sejumlah gambar

Ya Tuhan.....
Suara memanggil-manggil antrean
Terus terdengar memberi kesempatan
Kepada nama-nama yang telah tercatat
Termasuk nama diri sekeluarga yang ada
Aku berniat bergegas di kerumunan orang
Menunggu giliran mencoblos calon pemimpin
Jogja, 15 Februari 2017

Aku Tertegun

: - Menepis Ragu

Ya Tuhan.......
Aku melihat dan menyaksikan
Satu demi satu antrean masuk-keluar
Yang masuk merunduk khusyuk
Tapi saat ke luar bilik terdengar guman
Seperti ada sederet sesal dan jengkel
Manakala pilihan telah ditentukan

Ya Tuhan.....
Aku tak ingin berburuk sangka
Juga tak ingin tahu sebab musabab
Ada rasa kecewa di sebagian orang
Ke luar dari bilik menengok seseorang
Mungkin untuk mendapatkan sesuatu
Aku tetap menunggu giliran mencoblos
Jogja, 15 Februari 2017

Aku Heran

: - Tentukan Pilihan

Ya Tuhan.....
Aku melihat sebaris kekecewaan
Oleh sebab apa tak bisa diduga
Tapi aku juga sempat menyaksikan
Sebagian orang melepas tawa
Seperti pertanda bahwa pasti ada
Harapan yang nantinya terwujud

Ya Tuhan.....
Pilihan demi pilihan tentu bermakna
Bagi yang memilih bagi yang dipilih
Tak terkecuali karena barangkali
Terkait masa depan dan nasib
Oleh banyak orang dibilang demi perut
Aku heran dan tak mau seperti itu
Jogja, 15 Februari 2017

Aku takut

: - Meminang Hati

Ya Tuhan......
Hari ini mantap niatku
Masuk ke bilik coblosan
Demi hendak memilih
Seorang priyagung
Yang nantinya akan menjadi
Pemimpin bagi semua umat

Ya Tuhan.....
Mohon maaf dan mohon ampun
Kuputuskan untuk tidak
Mencoblos karena aku takut
Gambar semua calon pemimpin
Sorot matanya menyeramkan
Sungguh, aku takut!
Jogja, 15 Februari 2017

Aku Sadar

: - Mamaknai Syukur

Ya Tuhan.....
Ketika semua sudah usai
Tentu bisa dicatat siapa menang
Dan siapa pula bernasib kalah
Tentu tak harus mencari salah
Siapa berulah siapa berpura-pura
Tangan mesti ikhlas dirapatkan

Ya Tuhan......
Ketika seorang priyagung terpilih
Berada di garis depan memimpin
Tak perlu harus terus berseteru
Termasuk bagi yang semula takut
Mencoblos menentukan pilihan
Semua mesti mengacungkan jempol!

Jogja, 15 Februari 2017


M Haryadi Hadipranoto, alumnus Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta. Karyakaryanya telah dipublikasikan di sejumlah media cetak, daerah maupun nasional. Sejumlah puisinya termuat di antologi puisi Kidung Pendopo, Momentum, Lirik-lirik Kemenangan, Puisi Jelek, Embun Tajjali, Zamrud Khatulistiwa, Gerbong, Tamansari, Begini, Begini dan Begitu, Equator, dan Tiga Penyair Berkata. Antologi puisi tunggal berjudul Rumah Sunyi Rumah Cinta (manuskrip) dan Perempuan-perempuan di Tepi Ranjang (manuskrip) saat ini dalam proses cetak. Ketua Forum Silaturahmi Sastra dan Budaya Yogyakarta.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya M Haryadi Hadipranoto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 26 Februari 2017


0 Response to "Aku Berniat - Aku Tertegun - Aku Heran - Aku takut - Aku Sadar"