Aku Merindukan Wajahmu - Amanat Galunggung - Aku Menduga Hujan - Belantara Tubuhmu - Menyeberang ke Bokori - Cerita buat Luna | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Aku Merindukan Wajahmu - Amanat Galunggung - Aku Menduga Hujan - Belantara Tubuhmu - Menyeberang ke Bokori - Cerita buat Luna Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:57 Rating: 4,5

Aku Merindukan Wajahmu - Amanat Galunggung - Aku Menduga Hujan - Belantara Tubuhmu - Menyeberang ke Bokori - Cerita buat Luna

Aku Merindukan Wajahmu


Aku merindukan wajahmu seperti halnya putik bungur
Menanti datangnya pagi. Di pematang aku memetik kecapi
Ketika burung-burung berkicau bersama hangat matahari
Siang bergerak menapaki gunung yang memanjang ke barat

Aku mengenangkan wajahmu seperti halnya bunga kemboja
Rindu pada gundukan tanah. Bukankah cinta dan kematian
Ibarat saudara kembar? Sebelum rembang petang menutup
Rumbai-rumbai kabut mengambang di atas perkebunan teh

Kadang aku melukiskan wajahmu seperti halnya bulir embun
Memberikan tekstur pada daun. Aku menyusuri ladang tomat
Membayangkan segala kesegaran di bumi adalah rona pipimu

Kadang aku melupakan wajahmu seperti halnya kelelawar
Memilih pohon besar. Berbulan-bulan sembunyi di kuburan
Sambil merumuskan bahwa aku sesungguhnya kembaranmu

2016

Amanat Galunggung

Kuikuti langkah kabut yang samar di antara deretan pinus 
Daun-daun yang runcing nampak berserakan di atas tanah
Siang terasa lain dengan bulir-bulir embun yang masih lekat
Pada kulit pohon. Galunggung bagai lemari es yang terbuka

Dinding-dinding di sekeliling kepundan gunung seakan
Menunjukkan bahwa magma adalah rindu yang disimpan
Dan akan terus disimpan waktu. Ketika menengok ke bawah
Permukaan telaga nampak hijau di tengah putihnya belerang

Di sini aku ingin belajar pada kelembutan kabut yang bergerak
Tanpa mengusik. Aku ingin berguru pada gunung yang tahan
Menyimpan dan merawat kerinduannya bertahun-tahun

Aku ingin belajar pada kesabaran magma yang tahu kapan
Saatnya harus bicara. Aku ingin berguru pada ketulusan rindu
Yang tak pernah berontak pada waktu yang memendamnya

2016

Aku Menduga Hujan

Aku menduga hujan telah menggenangi matamu
Padahal kesedihanmulah yang membuat gumpalan awan
Bermetamorfosa menjadi airmata. Aku takjub pada senja
Yang memainkan gradasi di antara taram dan terang

Aku menduga halilintar telah merasuki nyanyianmu
Padahal suaramulah yang memantulkan gema ke udara
Sebagai pernyataan cinta. Sungguh aku terperangah
Betapa senja telah menciptakan komposisi yang merdu

Aku menduga angin telah mengobarkan napsumu
Padahal napasmulah yang mengendalikan badai di laut
Hingga pasang dan surut terjadi. Kembali aku menduga
Senja berada di belakang rembang petang yang redup

Aku menduga kabut telah menenangkan pikiranmu
Padahal kerinduanmulah yang menjadikan semesta hening
Sepeninggal senja. Dan aku menduga bahwa langit kesumba
Adalah peristiwa menyatunya semua warna dalam hatimu

2016

Menyeberang ke Bokori 

Di pulau tanpa penghuni kudengar musik lamat-lamat
Hamparan pasir menjadi partitur yang mengalirkan wkatu
Ketika buih-buih perak berkejaran dengan gelombang lunak
Yang kehijauan. Aku menyeberang ke batas teritorial rindu

Meski yang menanungiku hanya nyiur dan cemara angin
Aku merasakan betapa indahnya pagi. Ikan-ikan menyanyi
Camar-camar menari dan awan-awan membentuk komposisi
Di mana aku membayangkan semuanya sebagai orkestra sunyi

Jarak yang terbentang antara kita tinggal sejengkal selat
Yang dihuni bunga-bunga karang. Lama aku berkaca pada air
Menyelami kedalamannya seakan memasuki lubuk hatimu

Kekasihku, hempasan-hempasan ombak pada pinggangku
Sentuhan-sentuhan terumbu pada tumitku menjadi ungkapan
Yang hanya bis akumaknai saat kita berjauhan satu sama lain

2016 

Belantara Tubuhmu


Pandanganku menelusuri setiap ceruk tebing karang
Dalam tubuhmu. Cinta yang kugali sering menjelma api
Yang menyalakan sumbu pada lampu-lampu kesadaranku
Dan birahi yang kupadamkan selalu membuatku terpana

Aku menyerap mantera sepanjang lorong semadimu
Untuk kurapalkan diam-diam. Kakiku menapaki sunyi
Namun setiap kunaiki stalagmit hingga stalaktit terjauh
Air terjun sellau menenggelamkanku ke dalam sendang

Menjelajahi semua kemolekanmu dengan jiwa telanjang
Adalah sembahyang. Keajaiban masih kurasakana getarnya
Seperti retakan-retakan tanah yang membentuk kaligrafi

Aku telah menggali sumber cahaya dari balik kegelapan
Ceruk-cerukmmu. Keindahan adalah paras lain dari kebutaan
Sambil terpejam kumasuki belantara yang bernama tubuhmu

2015

Cerita buat Luna


Kadang aku ingin seperti burung
Yang suaranya digemakan angin dan awan
Tariannya dinaungi langit dan pohon-pohon
Kebebasannya dirayakan taman dan hutan

Kadang aku ingin seperti gerimis
Yang jemarinya disimpan musim dan cuaca
Rambutnya disisir embun dan daun-daun
Kesedihannya dimatangkan matahari

Kadang aku ingin seperti ranting
Yang bersahabat dengan angin dan udara
Di tubuhnya yang ramping kupu-kupu datang

Dan pergi. Kadang aku ingin seperti senja
Yang cahayanya menyatukan langit dan bumi
Kehadirannya hanya sekejap namun penuh arti

2014


Acep Zamzam Noor lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia bergiat di Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Komunitas Azan. Kumpulan puisinya antara lain Bagian dari Kegembiraan (2013) dan Like Death Approaching and Other Poems (2015).



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Acep Zamzam Noor
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 4 Februari 2017


0 Response to "Aku Merindukan Wajahmu - Amanat Galunggung - Aku Menduga Hujan - Belantara Tubuhmu - Menyeberang ke Bokori - Cerita buat Luna"