Amsterdam - Makam Baudelaire - Wien Hat Kultur - Sungai Martapura - Graben Sore It - Sore Itu Aku di Kotamu - | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Amsterdam - Makam Baudelaire - Wien Hat Kultur - Sungai Martapura - Graben Sore It - Sore Itu Aku di Kotamu - Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:38 Rating: 4,5

Amsterdam - Makam Baudelaire - Wien Hat Kultur - Sungai Martapura - Graben Sore It - Sore Itu Aku di Kotamu -

Amsterdam

Sore itu, aku memandang sepasang gagak
terbang rendah di kota Amsterdam. ANtara yang terang
dan yang kelam; aku ada di situ, menafsir maut, ditafsir maut
Segalanya begitu nyata di hati, seperti matahari digulung

awan sewarna cucian beras. Tak ada salju memang, selain
udara yang dingin seperti balok es. "Bukankah ini musim panas,"
katamu. ketika kita istirah di sebuah cafe yang kecil, dan aku
minum secangkir kopi dan kau minum secangkir teh

yang daunnya dipetik dari pedalaman tanah jawa. Di sini
bayang-bayang masa lalu datang berulang, juga amis darah
yang meleleh dari tubuh rakyat yang ditindas sang penjajah

Dan kini, di kota ini, aku melangkahkan kakiku, menyusuri
museum demi museum. Membuka kitab lama, hikayat bangsa

yang diperas berabad-abad lamanya: bangsaku!


2016

Makam Baudelaire

kini kau menyendiri, bagai seekor hiu
terdampar di pantai yang asing. Cahaya matahari
menyentuh miring kuburan yang lain. Desau angin
sesekali singgah ke tempat ini. Juga guguran daun.

Kau tahu, aku ebgitu dipukau oleh sajak-sajakmu
yang ditulis dalam mabuk. Dalam hening aku dengar
koak gagak di atas kepala. Adakah itu arwahmu
yang inginkan sesaji roti dan cerutu, yang tersaji di atas

makammu? Sungguh begitu hening sore itu,
di makammu. Hujan baru saja usai, dan angin dingin
bersiut lagi. "Turunan hanya keparat," katamu.

ah, benarkah? Di sini, di makam ini, tidakkah
darah dagingmu pernah ke mari? O, maut, perahu
purba. Layarmu berkembang sudah. Sudah

2016

Wien Hat Kultur

Di sini segalanya dikekalkan diberi tanda 
dan dicatat. Tahun berganti tahun serupa novel
yang kian tebal halamannya. lalu halaman mana
yang harus dibaca? Semuanya penting sudah.

Di sini, di kota ini --aku temukan jejak
para musisi, yang menggemparkan dunia
berabad-abad. Juga jejak para raja
yang mewariskan bangunan megah dan luas;

tempat karya seni disimpan, dicatat, dan diberi
tanda. Lalu seseorang datang menghikmatinya,
menghayatinya. Lalu apa makna dari semua itu?

Sungguh manusia tak bisa melupakan masa lalu,
untuk membangun masa depan. Dan kini, di sini
aku mencatat segalanya. Mencatat segalanya

2016

Sungai Martapura

           -untuk Micky Hidayat

Aku mendengar alun Martapura
seperti mendengar alun Seine yang ngalir tenang
ke hilir. Aku mendengar semua itu tanpa koak gagak
dan maut mengintai dalam hening

Di Banjarmasin, aku hayati segalanya
seperti menghayati ayat-ayat kehidupan
yang bangkit dari riak Martapura, dengan sampah
yang membukit. Dan ikan dari segala ikan

masih hilir mudik di situ. Juga kapal kecil
dan kapal besar, atau pasar terapung di mana nasib
dipertaruhkan. "Mereka berlajar sejak subuh

hari, dari desa yang jauh!" katamu, siang itu
dan aku termenung. O Martapura di tubuhmu
Hidup dipertaruhkan dan maut mengintai

2016

Graben Sore It

Wajahmu membayang dalam ingatanku
serupa foto perempuan di belakangku. Langit
sewarna air cucian beras. Angin musim panas
terasa dingin. Koak gagak tiada henti mengguncang

dinding kota. Kekasihku, seberapa jarak lagi
kerinduan ini bisa disandingkan? Kau dan aku
dipisah jarak dan bahasa. Dan kini kau terasa
nyata di sisiku, walau maya adanya. Kekasihku,

di sini, patung-patung purba, bangunan tua;
serupa tanda, mungkin aksara gaib, yang sembunyikan
maut dalam alun Sungai Danube. Riaknya aku dengar

dari tempat ini. Dan aku seperti seseorang yang lolos dari pembantaian itu. Menyala dibakar
rindu. Kau semata arah yang aku tuju

2016

Sore Itu Aku di Kotamu

Sore itu, angin seperti uap es dalam kulkas
langit mendadak senyap, tak ada burung gagak
yang terbang di atas kepala. Tak ada,
selain sehampar langit sewarna perak yang kusam

Sore itu, aku di kotamu Baudelaire, menghayati
hidup dan matiku. Aroma kopi sesekali tercium juga
dari berbagai kafe yang ada di sekitarku. Apakah 
hidup hanya untuk minum dan melancong?

O, Rimbaud bagaimana tanah jawa, saat kau
bergabung dengan tentara Kolonial Hindia Belanda?
Adakah kau temukan puisi di sana: sebagaimana puisi

mendatangiku: -saat aku menepi ke alun 
Sungai Seine? Di sana, ya, di sana bukan hanya
gagak yang berkoak di atas kepala. Tapi maut,

2016

Teras Gonggong

Cahaya sore masih menyiram bumi
angin kering berhembus dari arah laut,
mengusap wajahku. Tanjung Pinang
seperti kenangan akan wajahmu yang lekat

di kalbuku. terbayang lagi makam
Raja Ali Haji yang tenang, Gurindam Duabelas
didendangkan orang. Dan kini, di sini
aku renungkan kembali semua itu, sebelum sore

menggelar senja dengan suara ombak yang lembut
seakan larik-larik puisi dari alam yang lain. Sunguh,

aku renungkan kembali semua itu. Sebelum
cahaya sore menjelma senja yang indah, di teras
Gongong. Puisi hadir dengan bahasa yang lain

2016


Soni Farid Maulana lahir di Tasikmalaya, 19 Februari 1962. Saat ini tinggal di Bandung. Kumpulan puisi yang ditulisnya, Arus Pagi, meraih Anugerah Buku Puisi Utama 2015 dari Yayasan Puisi Indonesia. Sisan Senja (2017) merupakan kumpulan puisi terbarunya dari Kosa Kata Kita, Jakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Soni Farid Maulana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi 25-26 Februari 2017



0 Response to "Amsterdam - Makam Baudelaire - Wien Hat Kultur - Sungai Martapura - Graben Sore It - Sore Itu Aku di Kotamu - "