Badali | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Badali Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:40 Rating: 4,5

Badali

PEMERINTAH itu seperti ayah yang baik. Selalu benar. Apa pun yang dilakukannya pastilah demi kebaikan anak-anak dan keluarganya. Tak pernah salah, tak akan salah. Ia ingat buku cerita yang dibacanya waktu kecil. Tentang seorang ayah yang menyayangi keluarga dengan caranya sendiri. Kadang tak bisa langsung dipahami, tapi muaranya tetap cinta kasih. 

Nah, karena ayahnya seorang pegawai negeri yang di kota kecil kami disebut ”orang pemerintah” maka ayah dan pemerintah terasa identik di kepalanya. Anak laki-laki itu bernama Badali (23 tahun). Ia sekeluarga pindahan dari kota kabupaten mengikuti Sang Ayah yang bertugas di kantor kecamatan kami. Dulu ketika baru datang, kami tidak selalu nyaman bergaul dengan Badali karena penampilannya parlente dan ia fasih bicara apa saja. Kami dibuat ciut nyali. Apalagi anak itu terkesan tinggi hati. 

Namun setelah berapa waktu tahulah kami bahwa Badali kawan menyenangkan. Ia pun tak sungkan bergaul dengan kami, bahkan ia lebih ‘liar' bila sudah bergabung di kedai kopi. Bicara nyerempet, guyon nyelekit. Selain itu ia ikut berjudi kecil-kecilan, main remi atau domino. Dan kalau sudah bermain, ia paling tahan begadang. Tampaknya kehidupan urakan kampung kami mulai menyusup pada dirinya yang awalnya serba teratur. 

Hanya saja ada satu hal yang tak bisa lepas dari Badali. Dalam setiap cerita, ia selalu membela apa pun kebijakan pemerintah. Baik pemerintah desa, kecamatan, kabupaten, bahkan jika sesekali kami menanggapi keputusan pemerintah pusat. Misalnya soal gas melon yang harganya dinaikkan. Itu cukup bikin pusing orang macam Paklik Man, tempat kami biasa nongkrong. Apalagi harga-harga lain berbarengan ikut naik. Badali dengan kalem bilang pemerintah tak menaikkan harga gas elpiji, hanya mengalihkan subsidi. 

”Ujung-ujungnya nanti juga untuk kesejahteraan rakyat,” katanya. 

***
TENTANG pemerintah kecamatan, ia seolah pasang badan saat program peremajaan kelapa. Terbetik berita orang kecamatan akan membagikan (tentu tidak gratis) bibit kelapa hibrida, dan warga merasa keberatan. Memang benar kelapa hibrida cepat berbuah, tapi buahnya kecil-kecil. Benar pula ia berbuah saat batangnya masih rendah, namun justru tak cocok dengan tanah kebun kami yang ditumbuhi rumput liar buat ternak merumput. 

Penolakan itu santer, dan kami membicarakannya di warung kopi Paklik Man. Namun Badali menganggap pilihan kelapa hibrida itu sangat tepat. Katanya, kelapa sekarang buahnya jarang karena umurnya puluhan tahun. Batangnya yang tinggi akan mengancam kampung yang kian padat, apalagi kampung kami dekat pantai, penuh angin dan badai. 

”Tak zaman lagi kelapa tinggi-tinggi,” katanya. ”Saatnya berfikir bagaimana batang dan buah kecil, tapi isinya tebal. Di Thailand, pohon boleh kecil, buahnya paripurna.” 

Sebaliknya, ketika pemerintah desa menganjurkan supaya petani menanam semangka jenis tertentu yang besar buahnya tapi isinya kurang manis, Badali bilang sudah tidak saatnya mencari buah yang semata manis. Buah besar juga perlu supaya memantapkan swasembada pangan. Lagi-lagi ia bercermin ke Thailand. ”Lihat durian Bangkok, besar dan tebal isinya.” 

”Iya, tapi tak enak. Saya pernah makan di rumah Pak Halili,” sela Pingai. 

”Lha, mesti kreatif dong! Olah jadikan es atau apa, gitu.” 

Dan selalu di akhir pembelaannya ia bilang,”Pemerintah itu selalu benar, percayalah, ia seperti ayah yang tak mungkin menelantarkan keluarga.” 

Jika sudah begitu, tak seorang pun di antara kami sanggup membantah. 

*** 
MESKI keras hati, Badali sebenarnya punya kelembutan tersendiri. Bayangkan, larut malam, saat bertaruh sedikit uang di sela hempasan batu domino, ia bercerita tentang masa kecilnya. Katanya, ia beruntung mendapat asupan imajinasi dari buku-buku cerita yang dulu ia baca. 

Cerita itu cukup mengendap di kepalanya. Salah satu yang disukainya, ya, karangan Hans Christian Anderson tentang ayah yang selalu benar itu. Ditambah cerita tentang tugas-tugas ayahnya sendiri di kantor, membuat Badali kian mengidolakan Sang Ayah. Kami duga, inilah yang membuat cerita dan kenyataan berbaur di memori otak Badali. 

Waktu berlalu. Sang Ayah yang semula staf biasa di kecamatan lalu jadi sekretaris kecamatan, kemudian dalam waktu singkat naik status menjadi camat. 

Makin tinggilah pembelaan Badali terhadap pemerintah, disadari atau tidak, tentu juga kepada ayahnya. Ketika petani ramai-ramai beralih ke kotoran kambing, orang kecamatan lewat edaran mengimbau supaya petani tidak melupakan pupuk kemasan. 

”Lha, harusnya orang pemerintah dukung usaha pupuk kandang toh,” kata Mutazil tak habis pikir. 

”Iya, ya, kok malah mencegat usaha petani dengan keharusan pupuk pabrik,” sambut Paijo garuk-garuk hidung. 

Saat itulah Badali tampil meyakinkan. ”Segala sesuatu mesti konsisten, Kawan. Jika selama ini pakai pupuk non-organik, ya, mesti dilanjutkan sebab ganti-ganti malah merusak tanah dan tanaman. Ingat lho, ganti-ganti pasangan itu bahaya!” ia melirik memastikan apakah ada di antara kami yang ketawa. Setelah yakin semuanya serius, ia mulai lagi,”Pupuk pabrik itu diproduksi bukan sembarangan. Sudah dari sono-nya dibuat beres, cocok untuk tanah, bergizi bagi tumbuhan.” 

Lalu sebagaimana diduga, ia keluarkan jurus pamungkasnya,”Percayalah, pemerintah selalu benar. Seperti seorang ayah, tak mungkin menyengsarakan keluarga.” 

Kami terdiam. Dalam hati terpendam gejolak yang butuh pelampiasan. Dan kesempatan itu datang ketika kabupaten kami ikut Pilkada serentak baru-baru ini. Pasangan calon A mengangkat isu pupuk organik dalam kampanyenya. Kami mendukung Paslon A lantaran ia bertekad melanjutkan produksi pupuk kandang yang kami rintis, jika perlu kampung kami akan dijadikan percontohan. Syukurlah, Paslon Amenang telak!

Begitulah, situasi berbalik dalam waktu cepat. Camat kami yang notabene ayah Badali, kemudian ditarik ke kabupaten sebagai staf biasa di kantor badan usaha daerah. Itu artinya Badali harus pamit kepada kami. Dan saat pamit kami bilang kepadanya hampir serempak,”Pemerintah selalu benar, Kawan.” 

Badali, antara percaya diri dan sedih, menanggapi sinis,”Ah, itu ”kan politik! Politik belum tentu benar...” 

Kali ini kami hanya mesem-mesem sambil bersalaman. - g

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Raudal Tanjung Banua
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 26 Februari 2017

0 Response to "Badali"