Berburu Kijang Pincang - Memancing Ikan Jinak - Risalah dari Dapur | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Berburu Kijang Pincang - Memancing Ikan Jinak - Risalah dari Dapur Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:51 Rating: 4,5

Berburu Kijang Pincang - Memancing Ikan Jinak - Risalah dari Dapur

Berburu Kijang Pincang

Kalau sudah lepas kijang ke rimba
padang datar akan kupinta untuk segera 
melupakan bercak jejaknya
selayaknya rahasia yang dikubur
dalam mulut para pendusta
Dengan semak ilalang, aku kaburkan
segala gelagat yang mampu diringkus oleh udara
bau amis dari robekan tungkainya yang luka
suhu ketakutan yang menguar 
sebagai panas-dingin tubuhnya
Jalinan akar, tanah gambut, tebal rumput
serta lembab lumut adalah serikatku
bakal peredam rintih, erang, engah
juga gemerincing rasa bersalah
pada pincang langkahnya

Agar pengintai bermata elang pun
silap emmbidik bayangannya
pengendus berhidung anjing pun kalap
melacak persembunyiannya

Kalau sudah melintas kijang di ambang pintu rimba
aku katupkan segala celah bagi cahaya
dan membiarkan gelap menaunginya

Perburuanmu telah usai sebelum tunai
ujung tombak tak akan pernah etrtancap
anak panah tak bakal sempat melesat

"Tapi jerat mana yang digulung
sebelum langkah buruan tersandung
ranjau mana yang dilipat
sebelum lolongan paraunya tersekat
pisau mana yang setelah dihunus
mesti disarungkan sebelum isi perutnya terbuasai."

Dalam rimba belantara 
utara bukanlah arah kembali
ketika selatan berpalang buntu.

Maka sebelum piuh pilin angin
yang berhembus tidak dari mana pun penjuru
membikin tulangmu ngilu dan persendian dingin
kembalilah, mengikuti setapak jalan
ke jalur di mana rapat pepohonan
belum menyesatkan ingatan

"Tapi mata pisauku diasah amsal simalakama
berbisa di ujung, beracun di hulu
kalau tak tembus mangsa pada tikaman pertama
lambung atau jantungku yang jadi tebusan."

Kalau sudah lepas kijang ke rimba
sehelai daun pun tak bakal mengkhianatinya
Pulangkan saja pinangmu kepada tampuknya
kembalikan saja sirihmu dalam cerana.

Padang, 2015-2016

Memancing Ikan Jinak

Pada buluh seruas ia raut segala perasaian
yang tak terjunjung lagi oleh kepala
tak terpikul lagi oleh bahu
tak terjinjing lagi oleh tanngan.

Pada benang seutas
-- dipindatl dari rupa kenangan yang serupa sisi kain tak jadi
diregang dari pudar harapan muasal kusut kumparan --
ia kebatkan segala kalimat penangguh sekarat
doa tarekat pada pidari menjelang kelaparan berhari-hari
untaian pantun para penjudi ketika kalah berkali-kali.

Sebelum gabak berarak ke hulu, rintihnya
dan jalur ke muara berkepusu deras tak menentu.

"Og, yang liat melesat menembus arus
yang tabah berdiam seperti lembab lumut di bawah batu
getarkan siripmu, geliatkan sisikmu
busungkan ranum daging yang berminyak itu
Agar memercik bara dalam tungku
biar berhembus aroma gelegak santan
tersangai bersama serai, bawang, dan ruku-ruju."

Tapi sungguh, siasat dalam tak selalu membayang
di genangan air yang tenang.

Tuhan meneteskan kesturi di gelimang mayat pidari
hantu sawang turut menggelindingkan dadu di meja epnjudi
tapi tunggul kelapa atau padi hampa bahkan tak sudi
memberkatinya, si peratap yang hanya menumpang
biduk ke hilir ini,

Mereka yang ia kira ikan jinak
nila tambun berlenggok lamban mengikuti riak
mujair kisut yang selalu lapar dan tak banyak kehendak
telah kenal baik getar lapar pancangnya 
sudah hafal benar kilau nafsu kailnya
sekali ebrarti, seekor gerundang bahkan enggan untuk mati

Hanya gemerisik ilalang di tepi batang air itu
yang mengingatkannya pada dendang pelerai nasib
yang tak tertanggungkan lagi oleh badan
"Ikan jinak airnya jernih, ikan liar airnya beriak
untung tak pernah bisa diraih
malang tak pernah mampu ditolak."

PAdang, 2015-2016

Risalah dari Dapur, 1

Di hadapan sepinggan umpama ini
hambarkan dahulu lidahmu dari liur prasangka
biar lada muda dari pinggang Marapi
leluasa menorehkan nyala bara
agar daun limau purut daun kemungu
hati-hati menyisipkan bilah sembilu
supaya taburan garam serta perasan asam yang lesap
ke dalam serat daging mana saja, membayangimmu
sedalam ingatan tertanam, sepanjang jalan terbentang.

"Asap pada arang memang mengelabui arah tujuan
abu dalam tungku tentu mengaburkan sekat ingatan
tapi sebelum itu, Ibu, izinkanlah terlebih dahulu
aku tersesat di lembah lapar, emniti jalan ke puncak kenyang."

Kakap dengan mujair berdamai dalam sekali jerangan
puyu dengan kerapu berseteru dalam satu hidangan
jika lidahmu tak setipis asam kandis atau jeruk nipis
yang teliti memisahkan gurih dari amis
niscaya segala yang tertelan, hanya akan menguap
serupa gelegak air dalam dandang.

Gajeboh, bebat, tunjang, serta tembusu
bersiasat dengan pala, lada, dan gardamungu
sekali kau terbenam dalam liang gelap bernama kalap itu
langitmu dibikinnya seakan hilang pancang
tanahmu dibuatnya seolah terus berguncang

"Tapi yang masih mentah dalam diriku, Ibu
putih santan menampung ragam warna
seujung ruku-ruku bakal emnjadi
seulas bawang akan merebak sepanjang hari
sementara yang telah matang pada kata-katamu
adakah gulai hampir basi yang sekadar dihangat-hangatkan lagi?"

Kemelut kalimat telah aku susun dalam rentang
riuh kata-kata telah aku bungkus dalam sehelai daun pisang
maka di hadapan umpama nasi panas gulai pedas ini
hambarkan dahulu lidahmu dari liur prasangka

Segala yanng tak berbahasakan dalam doa
biar harum kemenyan yang menyampaikannya.

Kandangpadati, 2015-2016


Risalah dari Dapur, 2

Kata merica serta lada, pedasnya
yang mengantarkan tumis rica-rica
terasa sampai ke ubun-ubun kepala.
Bantah gardamungu juga ruku-ruku, harumnya justru
yang membawa aroma gulai tembusu
tercium sampai ke liang kuburmu
Kilah kunyit setali lengkuas, kami berumah dalam santan
berdamai dengan panas daging dan amis ikan
bakal pereda tengkuk yang ebrat
pendingin telinga yang membara.

Kau rasakan bumbu-bumbu berdebat
oi bujang bulu remang, dalam mulutmu
mereka saling berebut tempat

Tapi lidahmu yang terlanjur kebas meratapi
lagu api padam puntung hanyut
tapi putus pasak lepas
jenjang patah penggalah tersangkut
gagal memungut sebutir berkah
dan hanya mampu menggelondong segumpal tulah.

Lambungmu yang selalu lowong serupa liang kulah
tak tahu lagi bagaimana menyisihkan
mana yang masak di peram, mana yang mentah di batang
mana yang manis ditelan, mana yang sepah dibuang.
Segala yang tertangkap oleh mata
kau sudu dengan kalap babi
memamah, dari batang sampai urat tebu
segala yang terjangkau oleh tangan
kau sambar dengan amarah keluang
mencabik ranum jambu.

"Aku tak butuh asin dan garam
sebab nasib akan selalu diukur oleh luas lautan
Aku tak butuh asam dari peras limau
dari puncak gunung, bukankah takdir
telah ditakar dan ditinjau
Beri aku sari empedu tanah, Ibu, beri aku pati pasak bumi
biar yang buruk menguap bersama sendawa
yang baik bakal mendarah-daging dalam nyawa."

Kau inapkanlah ini petuah, wahai bujang anyir mentah
sampirannya boleh kau baca
sebagai pantun pengobat demam belaka
tapi isinya, sampai di perut jangan dikempiskan
tiba di mata jangan kau picingkan

Jika seteru bumbu-bumbu dan serikat rempah-rempah
sekadar menjadi tebaran abu dalam tungku kepalamu
maka seikat kata-kata dan serumpun umpama
bakal jadi percik arang, dalam lambungmu
hanya bakal menghitam.

Kandangpadati, 2016


Fariq Alfaruqi lahir lahir di Padang, Sumatera Barat, 1991. Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. bekerja di Komunitas Kandangpadati, Lembaga kebudayaan Ranah, dan Gelombang Minangkabau.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fariq Alfaruqi
[2} Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi 25 Februari 2017


0 Response to "Berburu Kijang Pincang - Memancing Ikan Jinak - Risalah dari Dapur"