Buronan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Buronan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:41 Rating: 4,5

Buronan

LEPAS dari gerbang tol, bus antar kota itu melesat seperti anak panah terlepas dari bususrnya. Udara malam bersiut dan menderu-deru disibak terjangannya. Pegas yang lembut, pengatur udara yang sejuk serasa membuai penumpang yang tertidur dipagut kantuk.

Semua terlelap, kecuali Parlan. Dalam duduknya yang gelisah, pikirannya terus melayang-layang. Tentanng tas kecil yanng selalu ia sandang. Isinya barang berharga, emas, berlian, dan gepokan-gepokan uang. Hasil operasinya seminggu yang lalu. Aksi perampokannya yang hampir gagal dan berakibat fatal. 

Ia dan tiga orang komplotannya menyatroni sebuah rumah mewah di kawasan yang sepi, di selatan Jakarta. Awalnya operasi mereka berjalan lancar. Pemilik rumah manda saja para tamu tak diundang itu menjarah harta mereka. Asalkan tak membuat celaka dan meminta nyawa. Sialnya Tonggar dan Juned tergoda kemolekan tubuh sang nyonya rummah. Karuan saja suaminya marah. Dia menantang duel dua lelaki bersenjata itu. Parlan dan Korep hanya menonton saja pertarungan mereka.

Beladiri tangan kosong si tuan rumah ternyata hebat juga. Pada suatu kesempatan ia meloncat menyambar samurai yang menjadi hiasan dinding. Dalam waktu yang tak terlalu lama, Tonggar dan Juned ambruk terkapar dibuatnya. Ketika lelaki itu hendak menyerang Korep, Parlan segera bertindak, pistolnya segera menyalak. Tubuh lelaki pemberani itu langsung tersentak. Melihat suaminya tumbang, si nyonya rumah jadi berang. Dengan kalap ia datang menerjang. Sekali lagi pistol Parlan meledak. Wanita malang itu jatuh terguling dengan mata terbeliak. 

Tiba-tiba lamunan Parlan terhenti karena bus yang ia tumpangi juga berhenti. Mungkin ada razia polisi, pikir Parlan dalma hati. Refleks ia meraba sesuatu yang tak pernah lepas dari pinggangnya; speucuk pistol. Ada tiga butir peluru masih tersisa di dalamnya. Dua untuk para pemburunya dan satu ia persiapkan untuk kepalanya sendiri. 

Oh, ternyata ada insiden, sedikit kecelakaan lalu lintas. Tak lama bus kembali merayap, para penumpang pun kembali terlelap. Kecuali Parlan. Tak sekejap pun ia tertidur. Perjalanan ini adalah upayanya untuk menghilangkan jejak. Belasan tahun lebih ia tinggalkan dan hampir melupakan kampung halaman. Di sana masih ada neneknya. Mudah-mudahan perempuan tua itu masih hidup dan sudi serta mau menerima kedatangannya. Karena semenjak bocah Parlan memang merasa hidup sebatang kara.

***
JAUH menjelang Subuh bus sampai ke kota tujuan. Sebelum masuk terminal, bus antarkota itu transit di pool kendaraan. Ini kebetulan, pikir Parlan. Jadi lebih aman. Turun dari bus, Parlan mencari warung dan memesan kopi. Sekaligus sambil membaca situasi. Kampung halamannya sudah tak jauh lagi dari sini. Tetapi rupanya polisi sudah lama menanti-nanti.

Dalam keadaan mengantuk insting Parlan segera bekerja. Ia membatin, mungkin Korep tertangkap dan buka suara. Ia lupa, di rumah mewah itu, gestur, gerak-gerik dan tampangnya jelas tertangkap kamera. Tentu saja para pemburu sudah mengantungi identitasnya. Maka ketika ia dengar ledakan di udara dan bentakan peringatan. Ia jawab dengan letusan dua tembakan.

Letusan peluru terakhir, ia arahkan ke batok kepalanya sendiri. Dan darah pun menetes membasah ke bumi. Di hari yang masih dini.

Cipanas, 25 Januari 2017

Hartoko Supriadi, lahir di Indramayu 21 Desember 1960. Menulis cerpen di sejumlah media massa. Tinggal dan menetap di Dusun Cipanas Kedungoleng, Paguyangan, Brebes.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hartoko Supriadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu 5 Januari 2017

0 Response to "Buronan"