Cemani yang Tak Mau Pergi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Cemani yang Tak Mau Pergi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:15 Rating: 4,5

Cemani yang Tak Mau Pergi

RIZA bingung setengah mati. Setengah hatinya ingin melepas si Itam pergi, setengah hatinya lagi berkata tidak. Galaunya melebihi saat ia menimbang akan meminang Rani atau malah meninggalkannya. Seakan mengetahui persoalan hatinya yang tak kunjung reda, si Item berkokok kencang. Kok! Padahal, hari belumlah pagi. Seiring dengan kokokannya yang makin lama makin keras, aliran darah Riza semakin deras. Merah melumuri hatinya. Marah menyelimuti tubuhnya. Ia marah pada segala. PAda orangtuanya, pada dirinya sendiri, pada keadaan. Mengapa ayahnya mati meninggalkan utang? Mengapa pula ibunya sakit di kala ekonomi semakin sulit? Mengapa pula ia harus lahir sebagai anak pertama yang harus menanggung semua? Dan adiknya masih butuh sekolah. Ibunya perlu obat. Dan, ia butuh otak untuk memutar semuanya.

KEMARIN pagi, Datuk datang kembali. Rupanya belum puas ia membujuk Riza. Setelah dua kali kedatangannya yang kembali dengan tangan hampa, ia yakin ketiga kali ini ia berhasil membujuk Riza. Anak itu sudah kepepet uang, tapi tetap berkeras tidak mau menjual ayamnya. Bahkan kepalanya lebih keras dibandingkan ayahnya yang sudah mati. Ck! Datuk semakin gusar. Ia harus mendapatkan ayam itu. Teringat padanya perkataan Mak Etek, dukun tua di kampungnya saat ia meminta petunjuk perihal ladangnya yang sudah dua kali gagal panen. 

”Pening sekali kepalaku Mak Etek. Kalau begini terus bisa bangkrut aku. Dua kali ladangku diserang tikus. Padahal, punya Pak Haji di seberang sana baik-baik saja.” 

”Apa yang sudah Datuk upayakan?” tanya Mak Etek. 

”Sudah kupasang jebakan di lubang-lubang keluar masuk mereka. Malah orangku yang terkena dan bengkak kakinya hingga tak bisa kerja. Lalu kucoba bikin pestisida nabati. Kubeli cabai dan jengkol beratus kilo, tapi padiku keburu digerogoti. Pening aku.” 

”Kalau begitu Datuk harus adakan ruwatan,” ujar Mak Etek. 

”Bagaimana caranya?” 

”Sembelihlah seekor cemani dewasa. Harus yang jantan, berlidah, dan berdarah hitam. Darahnya akan menjaga ladangmu.” 

”Ayam hitam? Itu susah sekali, di mana aku mendapatkannya Mak Etek?” 

”Datuk upayakan saja dulu. Cari di pasar burung, atau datangi peternakan-peternakan ayam. Kalau sudah ada, baru hubungi aku.” 

”Berapa lama waktu yang Mak Etek berikan?” 

”Dua minggu.” 

”Baiklah, akan kucari dulu ayam hitam itu.” 

”Ingat, lidah dan darahnya harus hitam,” kata Mak Etek. 

Kepala Datuk semakin pusing. Di mana ia dapat menemukan ayam hitam? Setahu dirinya, ayam cemani itu sangat langka. Sedikit menyesal ia pergi kepada Mak Etek. Kalau tahu persyaratannya sangat sulit seperti ini, lebih baik ia teruskan saja usaha pembuatan pestisida nabatinya. Mungkin dengan menambah pegawai, pembuatan pestisida itu akan semakin cepat. Tapi dengan menambah pegawai, menambah pula biaya yang harus dia keluarkan. Padahal, penghasilan dari ladangnya pun sudah tidak ada. Ah, arah sudah tidak bisa diputar lagi, pikirnya. Sekali pergi ke Mak Etek, maka ia harus menyelesaikan urusannya sampai tuntas. Sebab dukun tua itu terkenal sakti dan pemarah. Kalau ia sampai tidak kembali lagi, bukan tidak mungkin usahanya semakin sulit karena dikutuk Mak Etek. Bahkan menurut desas-desus orang di kampungnya, Mak Etek mampu mengutuk orang menjadi binatang. Dan, di rumahnya, Mak Etek memang banyak memelihara binatang. Ada ayam, itik, kucing, biawak, burung hantu, musang, dan entah apa lagi. Bahkan konon ayam balenggeknya yang pandai bernyanyi itu adalah sihirnya atas penyanyi dangdut keliling dari Pekanbaru yang gagal membayarnya. Datuk bergidik. Sesisip angin membelai tengkuknya. Selekas angin itu pergi, segera ia memanggil Sobari, pegawai kepercayaannya. 

”Bari...” 

”Ya, Datuk.” 

”Kau tahu persoalanku semakin sukar.” 

Tentu saja Sobari tahu masalah yang sedang menimpa majikannya. Kesusahan Datuk lambat laun akan menjadi persoalan juga buatnya. Jika majikannya sampai bangkrut, ia pun bisa jadi dipecat dan bagaimana pula ia dapat menghidupi keluarga dan memenuhi selera belanja Ros, istrinya yang cantik dan dipujanya. Karena itu, ia akan berusaha keras untuk membantu sang Datuk memulihkan ladangnya. Terdengar olehnya selentingan kabar bahwa Pak Haji di kampung seberang berhasil melalui dua musim panen ini. Padahal, ladangnya tidak lebih luas daripada ladang majikannya. Sepertinya tikus-tikus sialan itu enggan berkeliaran di ladangnya. 

”Ia pasti pakai jimat,” ujar Ros. 

Perihal kesukaran majikan suaminya tentu juga mempengaruhi jatah uang belanjanya. Ros khawatir ia tidak bisa lagi membeli baju-baju cantik mentereng dan makeup warna-warni terbaru di kota. Ia malu jika tidak bisa pamer pada ibu-ibu tetangga di acara arisan desa. Statusnya sebagai istri cantik nan muda bisa lengser digusur perempuan lain. 

”Coba kau suruh Datuk ke Mak Etek,” Ros memberi saran suaminya. 

Ia sering mendengar dari gosip para ibu tetangga kalau Mak Etek yang sakti itu bisa membantu apa saja. Bahkan ada beberapa istri yang curiga kalau suaminya main serong, pergi ke Mak Etek dan dua hari setelahnya terlihat mesra dengan sang suami seperti pengantin baru. Saran itu diteruskan oleh Sobari ke majikannya, dan sampailah Datuk pada persoalan mencari cemani. ”Saya sudah mencarinya sampai ke Pasar Padang Panjang, Datuk. Ayam cemani di sana masih terlalu muda. Saya sampai datang ke peternakan pemiliknya. Ada beberapa cemani yang sudah besar, tapi mereka tidak membiarkan saya untuk melukai ayamnya. Padahal, saya harus mengetes apakah darah yang keluar berwarna merah atau hitam.” 

Datuk termenung. Pikirannya sekusut hatinya. Memang benar, seharusnya ia tidak usah pergi ke Mak Etek kalau tahu persoalannya akan bertambah satu lagi. Sudah lewat seminggu ia belum mendapatkan cemani yang disyaratkan oleh Mak Etek. 

”Tapi Datuk...,” kata Sobari ragu-ragu. ”Sebenarnya ada satu cemani di Kampung Manggis ini. Istri saya sering melihatnya.” 

”Di mana itu?” 

Datuk langsung bangkit dari kelesuannya. Harapan mendadak menyegarkan wajahnya.

 ”Di sebelah rumah saya. Si Riza, anak Rais yang ketimpa longsor di Bukit Tui bulan lalu. Dia piara cemani, Datuk. Cemaninya gemuk dan sehat. Tempo hari, tak sengaja sempat beradu dengan ayam jago saya. Ayam cemani itu terkena patuk, dan dia sedikit luka. Darahnya hitam, Datuk. Benar!” 

”Kalau begitu, aku harus segera mendapatkannya.” 

”Tapi... sepertinya harus Datuk sendiri yang memintanya. Si Riza ini tampak sayang sekali pada ayamnya. Karena Datuk orang terpandang, mungkin ia juga segan kalau menolak permintaan Datuk.” 

Petang hari itu juga, Datuk dan tangan kanannya berangkat ke rumah Riza. Dari Sobari, ia mengetahui kalau ibu Riza sakit keras. Asmanya semakin parah sejak ditinggal mati suaminya. Riza pastilah membutuhkan uang untuk ibunya berobat. Belum lagi untuk menyekolahkan kedua adik perempuannya yang masih kecil. Datuk berani membayar mahal untuk ayam itu. Lamak di awak, katuju di urang!1 

Seperti kata Sobari, ayam itu ayam cemani yang sangat sehat. Tubuhnya padat seperti ayam jago petarung. Bulu-bulunya hitam mengilap tertimpa matahari senja. Paruhnya kecil tajam seperti mata badik dengan hiasan sepasang pial. Matanya cerdas menatap, di bawah jengger bergonjong enam seperti pucuk rumah gadang. Dengan ekor terjuraimegah, ia bertengger di atas pagar kayu. Kok! Mendadak ia membuka paruh, memamerkan bilah lidahnya yang berwarna hitam juga. Lalu ia melompat dan berlari ke arah rumah. Kaki-kakinya kokoh dan sekilas terlihat oleh Datuk tajinya runcing mematikan. Meskipun bukan ayam petarung, pastilah ayam ini kuat. 

”Maafkan saya, Datuk. Saya tidak mau menjual si Itam.” 

Begitulah penolakan Riza yang sudah dua kali didengarnya. Keras sekali pendirian anak itu. Persis seperti Rais, ayahnya sewaktu ia ingin menjadikan Rais sebagai pegawai untuk menjalankan koperasi miliknya. Usaha peminjaman uang harian pada penduduk sekitar dengan bunga yang lumayan menguntungkannya. Usaha yang melibatkan uang tunai seperti itu membutuhkan orang yang dapat dipercaya. Datuk tidak dapat berkeliling kampung sendiri, menawarkan pinjaman atau pun menagih utang harian dari rumah ke rumah. Ia butuh orang yang jujur dan berani. Dan, Datuk memilih Rais, karena Rais terkenal sebagai orang yang sangat jujur di kampung itu. Selain itu, Rais juga masih mempunyai utang pada Datuk dan Datuk berjanji untuk memberikan potongan bunga jika Rais mau membantunya. Tetapi Rais lebih memilih untuk tetap bekerja sebagai penambang kapur sampai Bukit Tui menguburnya. Dasar kepala batu! Diturunkannya pula sikap itu pada anaknya. 

”Kau tidak mau beli obat untuk ibumu? Kalau kau jual di Pasar Padang Panjang, paling laku 700 ribu. Aku bisa kasih kamu lima juta supaya kamu bisa bawa ibumu ke rumah sakit di Bukit Tinggi.” 

Sudah dua kali Datuk menaikkan tawaran. Pertama kali ia datang, ia menawarkan satu juta untuk Riza. Kedua kali, ia naikan tawaran menjadi dua setengah juta. Sekarang Datuk benar-benar heran jika Riza masih juga mau menolaknya. 

”Maafkan saya, Datuk. Saya tidak mau menjual si Itam.” 

Kalimat itu lagi. Dan, pagi itu, Datuk kembali pulang dengan tangan hampa. Sesungguhnya apa yang menjadi kegalauan Riza, tak lain adalah karena rasa sayangnya. Si Itam sudah seperti sahabatnya sendiri dan ayam itu memang seperti mengerti dirinya. Riza menemukan si Itam di aliran sungai kecil dekat Bukit Tui, seminggu setelah peristiwa mengenaskan yang menimpa ayahnya. 

Bencana memang tidak dapat diduga. Saat itu hari Minggu pagi dan ia sedang bermalas-malasan sambil membaca buku sewaktu ia mendengar gemuruh dari arah Bukit Tui. Lewat beberapa menit, barulah ia sadar kalau ayahnya pergi menambang di hari itu. ” 

Kok duduak marawuik ranjau, tagak maninjau jarah. Nak kayo kuek mancari, nak pandai kuek baraja2. Agar lebih dapat banyak kapur untuk kamu pergi kuliah,” kata ayahnya pagi itu. 

Ayahnya tahu, ia ingin sekali melanjutkan sekolah tinggi seni. Karena itu pula, ia memutuskan Rani, kekasihnya karena gadis itu menuntut untuk segera dikawini begitu lulus SMA. Bagi Riza, pencapaian diri itu perlu sebelum ia mulai membentuk keluarga. Ia tidak ingin hidup ala kadarnya. Paling tidak, ia dapat membawa keluarganya untuk lebih sejahtera. Untuk itu ia harus kuliah, dan ayahnya mendukungnya. 

Tetapi apa mau dikata, ayahnya pergi tak kembali. Benar-benar tak kembali meski dalam bentuk jenazah. Tim penyelamat tidak mampu menemukannya dan menyerah tiga hari sesudahnya. Riza pergi sendiri seminggu setelahnya. Menyusuri Bukit Tui dari pagi hingga petang, tanpa memedulikan tulisan larangan di sekitar tambang. Namun, bukan ayahnya yang ditemukannya, tetapi seekor ayam jantan hitam yang ditemuinya sedang mengorek pasir di dekat aliran sungai sebelah timur Bukit Tui. Segera dibawanya pulang ayam itu, karena dipikirnya ayam hitam itu dapat dijadikan obat untuk asma akut ibunya. Seseorang di pasar pernah berkata demikian, kalau ayam hitam dapat menyembuhkan segala macam penyakit. 

Di luar dugaan, ibunya menolak usulan itu. 

”Jangan musyrik,” katanya. ”Ibu hanya perlu obat.” 

Tapi ia tidak punya uang. Honornya sebagai penulis cerita di koran-koran hanya cukup untuk mengisi lambung. Dan kini, saat seorang datuk mampu membantu mengobati ibunya, ia malah telanjur sayang untuk melepas si Itam. 

Kokokokok! 

Kokok si Itam semakin melengking. Memutus lamunannya, Riza segera bangkit ke luar. Sekelebat pandangan mata dilihatnya bayangan berlari ke arah jalan. Lalu matanya terpaku ngeri. Dilihatnya si Itam tergeletak menyamping di dekat pagar kayu. Bilah lidahnya terjulur ke luar seakan ingin terus berkokok, tetapi yang keluar dari paruhnya hanyalah erangan rendah. Darah pekat menggenang di sekitar lehernya yang terkulai patah. Dua buah tajinya hilang entah ke mana. Nyeri mulai naik merambati hati Riza. Dari pandangan mata si Itam, ia melihat setitik cahaya, entah embun atau air mata. Dan, mata itu mengingatkannya pada sepasang mata yang lain, yang datang dari balik ingatan, semakin redup dan akhirnya menutup seiring lantunan azan subuh yang sayup. 

Catatan: 
1. Enak di saya, enak juga buat orang lain! 
2. Kalau duduk meraut ranjau, berdiri mengintai mangsa. Ingin kaya, uletlah mencari (uang). Ingin pandai, rajinlah belajar.

Angelina Enny, lahir di Lampung, 19 Juli 1978. Menempuh pendidikan terakhir di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Ia telah melahirkan buku fiksi "Siluet dalam Sketsa" (2013), antologi cerpennya segera diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Pernah menjadi peserta "Workshop" Cerpen Kompas 2015.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Angelina Enny
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Minggu 26 Februari 2017

0 Response to "Cemani yang Tak Mau Pergi"