Cinta Ibu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Cinta Ibu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 20:27 Rating: 4,5

Cinta Ibu

ENTAH sudah berapa kali ibu menyuruhku pulang tapi aku tak pernah menurutinya, meski permintaan itu dengan alasan kangen sekali pun. Gambaran tentang kedekatan ibu dan anak perempuannya tidak terjadi pada kami. Sebenarnya aku tidak pernah menghendaki begitu karena kenyataannya dulu kami akrab, terlebih menjelang dan sesaat setelah ayah pergi untuk selamanya. 
Ayah meninggal menjelang kelulusanku dari SMU. Sejak saat itu aku dan ibu kompak menjalani hidup hanya berdua saja. Saat mencari rejeki pun kami bersama-sama, membuka kios kelontong di sepetak tanah kecil dekat kampus UNS yang dibeli ayah dulu. Dari hasil toko itu kami melanjutkan hidup, bahkan aku bisa melanjutkan kuliah di jurusan yang kuidam-idamkan.
Jika toko sudah tutup, kami pulang bersama. Sampai di rumah biasanya ibu sibuk di dapur menyiapkan makan malam, sementara aku belajar atau mengerjakan tugas kampus. Setelah mandi, tibalah kami makan malam bersama. Pada saat seperti itu aku sering bertanya tentang ayah lalu ibu menceritakannya. Perbincangan kami selalu ditemani foto ayah yang terpajang di ruang dimana kami makan. Foto ayah yang terlihat gagah di masa mudanya. Karena cerita-cerita ibu itulah aku merasa bangga dilahirkan di keluarga yang bagiku begitu sempurna.
Dari sekian cerita ibu, cerita yang paling berkesan bagiku ketika ibu mengisahkan tentang perjuangan ayah meraih hati ibu. 
"Ayahmu menamai kisah ini sebagai keajaiban cinta," kata ibu waktu itu. 
Lalu ibu menjelaskan pengertiannya mengapa kisah itu dinamai ayah begitu. Katanya, dari hampir semua sisi penilaian manapun, apa yang ada pada diri ibu tidak ada yang cocok dengan apa yang ada pada diri ayah. 
"Tapi ayahmu nekat," kata ibu. "Ayah justru ingin membuktikan bahwa dia sungguh-sungguh ingin mempersunting ibu dan tak lama kemudian dia membuktikannya," kata ibu sembari tersenyum. 
Pada kesempatan lain  ibu juga menceritakan tiga alasan mengapa ayah begitu yakin menikahi ibu. Pertama karena ayah percaya akan karunia Tuhan. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan. Kedua, bagi ayah untuk sampai pada keputusan menikah bukan lagi mencari pasangan yang cocok tapi harus berani mencocokan diri untuk menuju perkembangan yang lebih baik. Dan yang ketiga karena ayah punya cinta.
"Kamu ingin dengar apa yang diucapkan ayahmu saat menikahi ibu?" tanya ibu padaku waktu itu. Lalu aku menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Mulai detik ini, kau jadi istriku, jadi belahan hatiku, jadi separuh nafasku dan inilah yang akan jadi awal dari anugerah-anugerah indah dari Tuhan yang akan kita terima. Dan aku menamainya dengan keajaiban-keajaiban cinta," kata-kata ibu menirukan perkataan ayah dengan gemetar. 
Aku yakin ketika ibu mengucapkan itu, kebahagiaan ada pada dirinya. Kisah sejenis itu sering diceritakan kepadaku. Dan sepertinya hidup ayah dan ibu memang baik-baik saja. Dalam pikiranku, semuanya dan selamanya akan diisi dengan anugerah dan kebahagiaan.
Tapi semua kisah indah itu seperti begitu saja menguar lalu menghilang setelah kehadiran lelaki itu. Berawal ketika aku sibuk mengerjakan tugas akhirku, setiap aku dari kampus dan mampir ke kios, lelaki itu sudah ada di sana lebih dulu. Kehadiran lelaki itu merusak ritme kehidupan kami. Acapkali kudapati lelaki itu ada di kios, aku langsung pulang. Seperti waktu itu, saat pikiranku terkuras untuk tugas akhir, ketika aku tiba di kios lagi-lagi lelaki itu sudah ada di sana. Aku jengkel dan langsung pulang. Ibu melihat gelagat ketidaksukaanku itu. Saat makan malam, ibu menanyaiku perihal sikapku. Aku tidak menjawab pertanyaan ibu tapi justru aku balik bertanya perihal lelaki itu. Ibu tak segera menjawab, ibu malah berdiri ke dapur entah mengambil apa. 
"Dia teman ibu," jawab ibu sekembalinya dari dapur.
Lelaki itu telah merusak suasana hatiku hingga sikapku jadi kaku dengan ibu. Dia seperti tiba-tiba datang di kehidupan kami. Pada kesempatan lain ibu justru mengutarakan niatnya hendak menikah lagi dengan lelaki yang tak pernah aku kenali sebelumnya itu. Sejak saat itu rasa-rasanya aku jadi benci kepada ibu, terlebih lelaki itu.
Oleh karenanya, begitu aku lulus kuliah lalu mendapatkan kerja di kota Metropolitan ini aku langsung pergi meninggalkan ibu dan tidak pernah pulang hingga sekarang. Aku juga tidak mendampingi ibu ketika menikah dengan lelaki itu. Bahkan pada saat aku mendapat kabar lelaki itu sakit dan ibu ingin bertemu denganku hendak menyampaikan sesuatu pun tak membuat hatiku luluh. Demikian juga ketika aku diberi kabar lelaki itu meninggal pun aku tetap tidak mau pulang. Pikirku jika aku bersedia pulang pasti akan memberi kesan bahwa aku telah menerima lelaki itu, dan aku tidak mau begitu.
Jika aku berkenan pulang mungkin saat lelaki itu benar-benar sudah tiada. Tentunya jika lelaki itu sudah tidak ada, ibu akan sendiri, dan menurutku akan kepada siapa lagi ibu akan ikut, jika bukan kepadaku. Hanya akulah satu-satunya kerabat yang masih ada. Aku meyakini kelak ibu akan memohon kepadaku agar sesekali pulang untuk menjenguknya. Tentunya ibu akan rindu kepadaku. Bukankah selalu begitu perasaan seorang ibu terhadap anaknya? Pada  saat itu ada kemungkinan aku bersedia pulang untuk menjenguknya. 
Kira-kira dua bulan setelah kematian lelaki itu, ibu mengirim surat kepadaku. Surat itu kuterima pagi hari, persis pada saat aku hendak berangkat kerja. Pengantarnya seorang pemuda yang menurut pengakuannya sangat senang bisa membantu ibu untuk mengantarkan surat itu. Surat yang agak aneh. Amplop surat itu besar, sebesar amplop yang biasa digunakan untuk mengirim berkas lamaran kerja. Begitu aku terima surat itu langsung kubawa dan kutaruh di dalam mobil. 
Benar kan, ibu pasti kangen padaku dan ujung-ujungnya memintaku pulang barang sebentar karena ingin bertemu denganku, batinku sembari mengemudi mobilku menuju kantor.
Seharian aku kelupaan surat itu. Jangankan membacanya, bahkan surat itu tak tersentuh olehku hingga sore. Baru malam harinya, waktu menjelang tidur aku teringat surat itu. Surat kuambil dan kubuka sembari tiduran di kamar. Dalam amplop itu aku dapati dua buah buku sertifikat kepemilikan tanah. Dua-duanya atas nama ayah; Himawan Tanujaya. Pertama tanah dimana ibu tinggal, dan yang kedua tanah dimana tempat berdirinya kios. Selain itu ada satu lembar surat yang panjang. Aku mulai membacanya.
“Buat anakku, Mawari.
Semoga kamu selalu diberi rahmat sehat. Ada beberapa hal yang ingin ibu sampaikan dan sebelumnya ibu minta maaf jika baru sekarang bisa melakukannya.
Kota Solo ini adalah tempat yang dulu ibu pilih untuk menenangkan diri. Di kota ini ibu ingin memulai kehidupan yang baru bersamamu tanpa dihantui kenangan yang dapat membuat ibu semakin terpuruk.
Dan di kota inilah ibu bertemu Himawan Tanujaya, yang kamu kenal sebagai ayahmu. Ibu menilai dia memang sangat mencintai ibu. Bukankah ibu dulu sering menceritakannya padamu tentang perjuangannya untuk meraih cinta ibu? Namun cerita itu belum lengkap. Ibu pernah mengatakan bahwa apa yang ada pada ibu hampir semuanya tidak cocok dengan kondisinya. Satu hal yang belum ibu katakan padamu. Sebelum ibu bertemu dengan Himawan Tanujaya, ibu telah mengandung dirimu. Oleh itulah jika dia mau menerima ibu dan bayi yang ibu kandung, alangkah sucinya cinta dia. Karena itulah ibu bersedia dipersunting olehnya.
Pada saat kamu lahir dan besar, sebenarnya dia sering memintaku untuk jujur padamu, mengatakan apa adanya kalau kamu bukan anak kandungnya. Hal inilah yang semakin meyakinkan ibu kalau dia memang lelaki sejati. Ibu bahagia dan bangga punya suami dia. Namun begitu, mengapa ibu tidak lantas menuruti untuk mengatakan kenyataan itu padamu, karena ibu ingat pesan dari Anjasmara Saputra, lelaki yang sebenarnya adalah ayah kandungmu.
Jauh sebelum ibu tinggal di kota ini, ibu telah menikah dengan Anjasmara Saputra. Dulu kami berjanji akan bersama sampai tua, suka duka akan kami jalani bersama. Tapi siapa yang bisa menerka masa depan? Tidak ada, kan? Demikian juga ibu. Belum genap dua tahun pernikahan kami, sebuah musibah menimpanya. Pesawat yang dia tumpangi sewaktu perjalanan kerja di luar negeri jatuh. Dalam berita itu, tak ada satupun penumpang yang selamat.
Ibu langsung memikirkan nasibmu. Kau akan lahir tanpa bapak. Tentu saja peristiwa itu mengguncangkan jiwa ibu. Kenangan manis bersamanya tak pernah berhasil ibu halau. Ibu tertekan. Karena pertimbangan keselamatanmu, ibu harus bangkit lalu memutus kenangan itu dengan pindah ke kota ini dan akhirnya bertemu dengan Himawan Tanujaya.
Ibu benar-benar tidak tahu dan mungkin tidak hanya ibu bahkan bisa saja sebagian dunia ini juga tidak tahu dan tidak pernah menyangka jika ternyata Anjasmara Saputra selamat dari maut itu. Dia terdampar di sebuah pulau dan ditemukan oleh penduduk setempat dalam keadaan koma. Ibu yakin hal itu dikarenakan besarnya tekat dia untuk terus hidup. Hidup untuk ibu dan kamu. Dia koma hampir selama tiga tahun dan anehnya selama itu tidak ada kabar yang memberitakan penemuan dia. 
Dia kesampaian menjumpai ibu di kota ini sewaktu kamu telah berusia lima tahun. Ibu pikir, waktu itu ibu sedang melihat hantu, tapi ternyata bukan. Dia benar-benar suami ibu. Kami saling melepaskan rindu, bahkan ibu hampir lupa kalau saat itu ibu telah jadi istri orang lain. Ketika ibu menceritakan keadaan ibu padanya, dia mengatakan bahagia. Katanya dia ikhlas ibu bersama dengan orang lain bahkan katanya kebahagiaan itu semakin besar setelah ibu mengatakan kalau Himawan Tanujaya adalah seorang lelaki dan suami yang baik. Bukti keikhlasan dan kerelaan dia bisa ibu tangkap melalui permintaannya; "Tak usah kau katakan pada Mawari bahwa dia bukan ayah kandungnya." Oleh karena itulah ketika ada ithikat baik dari Himawan Tanujaya menyuruh ibu untuk mengatakan kenyataan dirimu, ibu ragu-ragu melakukannya.

Itulah kenapa ketika Himawan Tanujaya telah pergi mendahului kita dan tak lama kemudian ibu menerima kembali Anjasmara Saputra di kehidupan ibu, ada kesan ibu dengan mudah melupakannya. Padahal sebenarnya tidak semudah itu. Semua itu ibu lakukan karena ibu ingin menebus kesalahan ibu terhadap ayah kandungmu, Anjasmara Saputra.

Mawari, anakku. Itulah cerita yang sesungguhnya. Sekarang ibu sudah lega bisa mengatakan hal ini kepadamu. Dan pastinya sekarang kamu tidak heran jika selama kita bersama tidak pernah kamu temukan tentang foto-foto masa lalu ibu, Ibu sudah lenyapkan semua. Juga tentang surat-surat keluarga yang tidak mudah kamu temukan, itu semua ibu sengaja simpan. Memang sesekali waktu surat-surat itu kamu pakai dan jika cermat diperhatikan sebenarnya keadaan ini bisa terbaca sedikit di sana tetapi mungkin kamu tidak pernah benar-benar menelitinya. Tapi andai kamu menanyakan hal itupun ibu sudah siap dengan cerita rekaannya. Oya, dua sertifikat ini sebaiknya kamu yang simpan saja.”

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yuditeha
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Solo Pos" edisi Minggu 5 Februari 2017 

0 Response to "Cinta Ibu"