Dengkur Babi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Dengkur Babi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:10 Rating: 4,5

Dengkur Babi

SETELAH menggasak ladang singkong milik Pak Kobot, sekawanan babi hutan duduk mengaso di bawah pohon trembesi. Perutnya yang buncit tergolek di atas dedaunan kering. Dari atas pohon trembesi bulan mengintip dari celah-celah daun. Sebentar-sebentar terdengar bunyi sendawa dan kentut babi yang sember seperti ember pecah. Bagaimana tak bersendawa, berbatang-batang singkong telah menjejali perutnya yang gendut seperti karung goni. Bayangkan, dalam waktu kurang dari dua jam—antara magrib dan isa—ratusan pohon singkong ludes digasaknya, hingga separuh ladang siap panen itu kini tampak rata, mirip bekas banjir. 

SEMUA penghuni hutan, dari orangutan sampai semut rangrang sudah maklum, kalau binatang yang paling rakus itu adalah babi. Gajah yang tubuhnya paling tambun memang paling banyak makannya, sekali makan daun-daun akan dicukurnya sampai gundul. Tapi binatang yang terkenal karena gading dan belalainya itu makannya tidak sembarang, melainkan pilih-pilih. Hanya jenis daunan tertentu yang dimakannya. Sedangkan babi, selain rakus, juga terkenal jorok. Sampah busuk pun digasaknya. 
Perut babi memang elastis, sehingga monyet menyebutnya perut karet, karena dijejali makanan sebanyak apa pun ususnya akan tetap nampung. Bila tak tersedia umbi-umbian, tanah atau sampah pun akan dimakannya. Sehingga Mak Kobot, istri Pak Kobot, pemilik rumah di kaki bukit itu, tak perlu repot-repot memikirkan tempat membuang sampah. Tinggal meletakkannya di bawah pohon jati di belakang dapur, kawanan babi dari hutan akan segera menyerbunya. 

Bagi babi, hidup itu yang penting kenyang, tak peduli dengan kualitas makanan, kotor atau bersih, semua disikatnya. Setelah kenyang, lalu tidur ngorok di bawah pohon dan semak-semak. Suara dengkurnya yang berisik dan ingar-bingar, mirip suara kikir, akan menggetarkan daun-daun kering dan reranting di dalam hutan. 

Bagi penghuni rimba lainnya, suara dengkur babi yang berisik kerap menjadi masalah, karena selalu mengusik tidur mereka. Jika sepuluh ekor babi tidur berkumpul di satu tempat, maka separuh lereng bukit akan terdengar ingar-bingar, seperti sedang berlangsung pembalakan liar yang menggunakan mesin senso, kata monyet yang suka melebih-lebihkan cerita. Oleh karenanya, saban malam, menjelang babi-babi itu akan beranjak ke tempat tidur, si kulsih yang lugu akan selalu mengingatkan babi, agar mereka tidur berjauhan, kecuali induk babi yang masih menyusui oroknya. 
  
Tetapi, dasar babi, binatang bebal, kalau tidak keras kepala bukan babi namanya, tapi mungkin keledai. Mereka tidak menggubris nasihat si kulsih yang telah berbaik hati mengingatkan. Mereka tetap saja tidur ngumpul di bawah pohon atau rongga semak-semak, sehingga suara dengkurnya yang berisik membangunkan binatang lainnya, termasuk monyet-monyet yang tidur memeluk dahan pohon di atasnya. Karena dongkol, monyet-monyet itu pun lantas kencing beramai-ramai dari atas pohon. Cairan hangat menerpa kepala babi-babi itu.  

“Siapa yang kencing?” teriak Babi sambil mendongak ke rimbun pohon trembesi yang gelap di atasnya. 

“Hujan…” jawab monyet, berbohong. 

“Oh, saya kira kencing!” kata Babi setengah mengeluh, lalu tidur lagi. Hal itu membuat beberapa ekor rusa tertawa cekikikan. Tapi Babi yang dungu tidak menyadari dirinya dibohongi dan jadi bahan tertawaan. Mereka percaya begitu saja pada lidah monyet yang licik.  

***
KAWANAN babi itu kini sedang mengaso sambil ngobrol di bawah pohon trembesi. Sebentar-sebentar terdengar suara sendawa dan kentutnya yang sember seperti ember pecah. Bagaimana tak bersendawa, berbatang-batang singkong telah malang-melintang di ususnya yang besar seperti karung. 

Jika pada waktu-waktu sebelumnya kawanan babi itu akan bercakap-cakap mengenai makanan dan kelangsungan hidup mereka di tengah habitat yang makin tergusur dan menyempit akibat ulah para pembalak liar dan developer yang membangun vila-vila mewah di lereng bukit, atau perusahaan tambang asing yang menghancurkan gunung dan bukit-bukit, tetapi peristiwa kematian anaknya di tangan seorang Pemburu sepekan lalu telah membuat percakapan mereka malam itu masih berselimut duka.  

“Menurut Nguk-nguk, siapa yang paling jahat di dunia ini?” tanya Babi betina pada Pejantannya. 
“Ya, tentu saja orang yang makan babi.” jawab Babi jantan, setengah menggerutu. 
“Tapi Undang-undang mereka membolehkan!” ujar si betina. 
“Undang-undang macam apa itu, kok melegalkan pembunuhan? Enak aja!” kata Babi jantan, berang, “Bagaimana kalau kita yang membuat aturan untuk menghalalkan darah mereka?” 
“Organisasi penyayang binatang kok tidak protes ya?” celetuk Tupai yang bertengger di cabang pohon kopi.

“Alaah, mereka hanya melindungi binatang kesayangannya,” ujar Babi jantan, “terhadap binatang buruk rupa macam kami ini siapa yang peduli?” 

“Benar! Malah mereka juga ikut makan.” hasut Monyet. 

Sanca yang tidur melingkar di pohon jati juga ikut menimpali, “Ekor saya masih buntung sampai sekarang karena diparang orang kampung, setelah mematuk anaknya sampai tewas. ”    

“Begitulah sakitnya perasaan saya waktu mereka menembak anak saya sampai mati!” sahut Babi betina, tersedak, menahan tangis. 

Mendengar curhat babi betina, semua yang ada di dalam hutan terdiam, seakan ikut merasakan kepedihan hati yang dirasakan oleh induk Babi yang baru saja kehilangan anak satu-satunya itu. 
“Sabar. Bikin lagi, sebagai gantinya.” saran Kucing, yang tidur meringkuk di akar pohon beringin. Ucapan kucing yang bernada porno itu disambut gelak-tawa oleh yang lain, sehingga menimbulkan ingar-bingar. 

Setelah suara tawa mereda, induk Babi melanjutkan, “Berarti orang baik itu siapa?” 

“Ya, orang yang tidak makan babi.” jawab Babi jantan. 

“Apa? Kalian ngomong apa? Orang baik?” tanya Kambing, jengkel, “Kamu lihat aku ini, seandainya aku tidak lari dari kota waktu itu, tentu aku sudah jadi korban pembunuhan massal.”
“Sudah, kalian diam saja, jangan bertengkar!” kata Burung Hantu di puncak trembesi.

Mataram, 23 Januari 2017

Adam Gottar Parra, lahir di Praya, 12 September 1967. Menulis cerpen di Harian Media Indonesia, Jawa Pos, Suara Pembaruan, Jurnal Nasional, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Bali Post, Majalah Basis, Kartini, Tabloid Nova, dll. Cerpennya juga dimuat dalam sejumlah antologi. AGP tinggal di Mataram, Lombok, NTB.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adam Gottar Parra
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 26 Februari 2017

0 Response to "Dengkur Babi"