Di Makam Ayah - Telolet Puisi - Sebelum Puisi - Sore bagi Penyair - Lelaki yang Mematikan Televisi - Jalan Daan Mogot | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Di Makam Ayah - Telolet Puisi - Sebelum Puisi - Sore bagi Penyair - Lelaki yang Mematikan Televisi - Jalan Daan Mogot Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:09 Rating: 4,5

Di Makam Ayah - Telolet Puisi - Sebelum Puisi - Sore bagi Penyair - Lelaki yang Mematikan Televisi - Jalan Daan Mogot

Di Makam Ayah

yang kubawa hanya sekantong plastik kembang
mawar merah dan putih
dan dua botol air perasan bunga
sementara magrib jatuh dengan tergesa
lebih cepat dari kerumun langkah
ada sekerumun burung terbang
pulang ke sarang
menembus langit dengan udara yang basah

dan aku sendiri
lelaki yang gemar meminang kesedihan
helai ingatan berjatuhan
seperti kusibak rerumputan kering
di pinggir makam

sebelum malam nyalang
saat lampu-lampu menyala
aku eja doa
yang masih bisa kubaca dengan gemetar

“aku tak lagi menangis,”
biarkan lengan kukuhmu selalu tumbuh
di tubuhku

hanya deru pesawat merebut liar
desah napasmu
dan membaca rindu
yang kerap tak tertempuh

2017

Telolet Puisi

”om telolet puisi, om...“

sebab puisi adalah bunyi yang bersembunyi
di gendang telinga
ia mendambakan harmoni
di setiap pengembaraannya

hanya kata-kata
membuka tuba cuaca
setiap denting
membungkus hening

pada guguran suara yang bagaimana
dirinya bisa sembunyi
sementara setiap rumah telah pengap
oleh lidah sunyi

”om telolet puisi, om...“

ia tak pernah yakin
akan ada seseorang yang mampu
sekadar merekam puisi
sebelum getar rindu pergi
tertikam

di batas malam
dari sebuah kota
dengan serbuk
cahaya di mata

2017 

Sebelum Puisi

dan aku membaca kata. sebelum puisi tertu-
lis. raung kota. semak rindu kerap berkibar.
sebuah pelayaran, dongeng yang membusa di
mata para leluhur. dengan tergesa ia menyim-
panku di sebuah lorong senja, di kejauhan ko-
ta dengan ujung jalan yang memanjang. segala
desis berjatuhan bagai gerimis. Atau catatan-
catatan legenda mematung di puntung rokok.
jauh di malam kelam.
di sana, musim selamanya redup, matahari
hanya hangat. Tak ada kata serapah atua bunyi
letusan. barangkali saat itu. aku masih bayi,
menghuni garba ibu dan menyimpan jejak
ari-ari di kepala. Lalu kau mencatatnya dengan
memberi tambahan semacam teks pidato un-
tuk membuka perayaan. Atau berita-berita yang
terlanjur kau hirup sepanjang tahun.

sebelum puisi.

2017

Sore bagi Penyair

sore bagi penyair
telah hilang dalam tafsir
dikulumnya belulang kata
dari kota yang fakir

kata-kata berhenti
di gigir jalan
seharian berkelahi dengan
sejumlah umpat dalam kalimat
kata-kata menjadi iklan
di sepanjang jalan kota

hanya gelambir gerimis
semakin tipis di matanya
dan ia berdiam di sudut jalan
menjaring cahaya lain
setelah matahari bersalin

2017

Lelaki yang Mematikan Televisi

setelah ini
ia akan melangkah
mematikan televisi
dan bersembunyi di balik cadar puisi

tapi berita-berita bergentayangan
seseorang dengan jamur umpatan di mulutnya
ia gemetar menekan tombol pengendali
selalu ada yang tertinggl
di dada
seperti debar melingkar mengingat sejarah

2017

Terompet Januari


di etalase gedung ia tiup terompet
ratusan kaki melangkah
di jalan
langit sudah hitam
dan bulan Januari telah digenggam

ia hanya melangkah
tanpa sempat bertanya
langit pecah
riak api cahaya
pendar di mata
tumpah

2017

Jalan Daan Mogot

senja selalu melingkar di sini
kerumunan orang pulang kerja
terkepung suara deru panjang
lampu merah menjelma nanah
di retina

tapi engkau terjebak di situ
bertahun-tahun
seperti candu
membaca arah dan tanda jalan
yang sama

kerap waktu berhenti
di pinggang dan kaki
jarak ke rumah
semakin lebar

kerumunan orang
memburu remah jalan
tersaruk

2017


Alexander Robert Nainggolan lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Bekerja sebagai staf Unit Pelaksana Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kelurahan Gondangdia, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Bukunya yang telah terbit berjudul Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324, Jakarta, 2012); Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi,Nulis Buku, 2012); Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012); dan Silsilah Kata (kumpulan puisi, penerbit basabasi, 2016). 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Alexander Robert Nainggolan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Miggu 19 Februari 2017

0 Response to "Di Makam Ayah - Telolet Puisi - Sebelum Puisi - Sore bagi Penyair - Lelaki yang Mematikan Televisi - Jalan Daan Mogot"