Dua Lelaki di Halte Bus | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Dua Lelaki di Halte Bus Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:43 Rating: 4,5

Dua Lelaki di Halte Bus

"CINTA membuat segalanya menjadi indah. Cinta pula menjadikan segalanya penuh darah. Cinta akan membunuh jiwa seseorang yang tak betah. Cinta menjadikan segalanya bagai api di atas kayu yang tak basah. Cinta membutakan mata tanpa nanah. Cinta tak lain penjara suci yang menjadikan segalanya berubah."

PUJANGGA mengatakan bahwa cinta bukanlah dilihat dari fisik, tapi dilihat dari hati dan perasaan. Tiap manusia pasti tidak ada yang sempurna. Dengan itulah kita saling melengkapi. Seseorang belajar untuk mengerti dan memahami perasaan orang lain. Bila itu bisa kita lakukan, cinta akan selalu menaungi kita. Jadilah yang terbaik untuk dirinya, karena dia akan berusaha menjadi yang terbaik untuk dirimu. Cinta tidka buta, tapi cinta melihat dan menerima dengan segala kekurangan dan kelebihan.

**
JIWAKU sejenak tersentak teringat kata-kata yang begitu mulia dan indah. Kata pujangga memang bermacam-macam. Tapi aku lebih terpanah dengan ungkapan yang satu ini, bahwa cinta itu tidak buta. Cinta bisa melihat segalanya. Dengan melihat, cinta akan mengerti dan memahami segalanya.

Pelan-pelan kubuka salah satu buku yang memang sengaja kusimpan foto seorang gadis yang pernah kucinta sejak dulu. Namun sayang, kisah cintaku berawal pahit dan memalukan meski akhirnya manis. Kupandangi sesaat. Aku hanya teringat wajahnya. Sungguh indah dan penuh makna kehidupan.

"Aku, lelaki yang tak pernah merasakan cinta kasih seorang gadis di masa muda," gumamku dengan menggelengkan kepala sembari menaruh foto rahasia itu.

Sejenak kurebahkan tubuhku di atas kasur. Aku menghitung jejeran-jejeran genteng rumah. Aku teringat sepucuk surat yang pertama kali kudapat dari seorang gadis. Dia gadis yang pertama kali singgah di hatiku. Namun, surat yang dia berikan bukan surat pernyataan cinta darinya. Tapi peniolakan cintanya melalui surat yang dirangkai dengan kata sederhana yang tak begitu indah.

Hatiku menjerit saat mengingat masa lalu itu. Tak ada masa depan lagi. Hidupku suram. Aku bagaikan berjalan dalam keadaan telanjang di hadapan orang-orang saat mengingat surat berduri darinya. Tapi aku yakin, dia mengirim surat mawar berduri mungkin demi menjaga jarak dan jari dirinya. Hatiku tak akan jauh dengan hatinya yang penuh bunga-bunga. Begitu bulat keyakinan hati dana perasaanku.

Keyakinanku tak sia-sia. Hati jika berbicara cinta, tentu memiliki ikatan dan sinyal yang sangat kuat. Akar-akarnya akan menancap kuat di dasar tanah-tanah keindahan. Aku baru merasakannya ketika hampir dua tahun setelah surat berduri itu tiba di tanganku. Ternyata benar, Atun juga memiliki kembaran perasaanku. Aku pun dilema dengan Emar, perempuan yang baru menjadi penggantinya. Lalu kuputus demi memiliki cinta pertamaku. Emar pun terdampar di pantai kesedihan dengan penuh keikhlasan dan tangisan.

**
LAMUNANKU hambar seketika. Aku kaget sesaat setelah Blackberry berdenting beberapa kali. Bayangan masa laluku, antara Atun dan Emar buyar seketika dan harus kusingkirkan. Lamat-lamat sebelum kubuka pesan itu, aku sudah mengira dari Atun. Kerinduan Atun begitu menggebu. Ia menelponku tak kuangkat, lantaran aku melamun terlalu asyik bersama masa lalu. Hingga Atun melalui pesan Blackberry memintaku untuk angkat teleponnya. Aku melirik ponsel yang sejak tadi kuletakkan di atas bantal.

"Halo, mas Aris kan?" Suara di sana seakan ragu dengan orang yang mengangkat ponselku. Padahal aku sendiri yang mengangkatnya

"Iya, ini aku dek. Ada apa sore-sore begini nelpon?" sergahku sekenanya merespon suara Atun dari seberang ponsel.

"Aku rindu mas," katanya.

Aku hanya terdiam mendengar ungkapannya yang sangat terasa begitu tulus, ramah, dan indah di telingaku. Aku tak memiliki banyak kata dan ungkapan untuk menjawabnya. Di sana Atun dengan semangat kerinduan bercerita tentang dirinya. Tentang aktivitas kesehariannya. Tentang apa saja yang ia lakukan. Aku dengan sepenuh hati menyimak penuh saksama bagai dosen yang ngisi materi kuliah saja.

"Mas, mas masih ada?" Suaranya tampak keheranan dari jauh menanyakan aku yang tanpa suara sama sekali.

"Iya dek. Aku mendengarkanmu." Aku sedikit meresponnya.

"Apa mas tak merasa rindu padaku?"

Pertanyaannya seakan mencongkel hati, perasaan, dan otakku. Aku bingung harus menjawab dari sisi mana kepadanya. Aku tak banyak paham tentang hati yang berkata dan rasa yang berbisik.

"Kalau rindu aku tak tahu seperti apa. Tapi aku selalu mengingat dirimu dek, dalam setiap kaki melangkah dan mata melihat. Aku tetap mencintaimu seperti dahulu kala." Di sana terdengar desahan nafas kecewa karena aku tak menjawab dengan tegas.

"Mas ini sudah mulai dulu tak pernah rindu padaku," imbuhnya kesal.

"Bukan seperti itu dek. Aku merindukanmu dengan cara yang berbeda, dengan caraku sendiri yang tak sama dengan lelaki lainnya," tuturku penuh nasehat.

Atun terdiam. Dari nada suaranya seakan puas dengan ungkapanku. Tak lama ia pamit, menutup ponsel setelah sekitar satu jam suara langit itu melantun di kabel-kabel ponselku. Meski aku tak pernah mengungkap rasa rindu pada Atun, aku tetap mencintainya. Aku tetap bersama iringan kenangan masa lalu yang lucu tentang surat mawar berduri itu. Jarak yang memisahkanku dengan Atun tetap terasa dekat. Kadang aku berceksok dengan kata-kata hanya karena aku tak mampu mengungkap rinduku padanya. Indah rasanya menyelami kata-kata dan perasaannya yang tulus mencintaiku.

**
USAI ponsel ditutup, perlahan aku menyalakan laptop dengan modem pengantar ke dunia gaib modern. Aku pun berkirim surat via email pada Atun tentang ungkapan-ungkapan perasaanku serinci mungkin. Aku berusap dalam email itu tentang perasaanku yang tak mampu kuungkap dengan kata-kata dan huruf-huruf yang mudah dipahami oleh pujangga, pemuda, penyair, dan ahli bahasa. Cinta dan rasa rinduku tak akan mampu diterjemahkan sedemikian rupa dengan bahasa orang lain.

Dalam email itu pula Atun meminta maaf atas kekhilafannya beberapa tahun silam, waktu menolak tetesan rasa dari kalbuku. Sejatinya ia malu dengan perasaan dan teman-temannya jika mencintaiku. Padahal tak ada yang tahu tentang surat itu kecuali yang membawa surat itu. Aku pun memakluminya.

Atun perempuan pertama yang kukenal. Sejak tetesan itu ditolak, aku melampiaskan dan mencipratkan tetesan itu pada Emar. Emar jadi korban pelampiasan cipratan perasaan suciku. Hingga ia harus terkulai saat Atun jujur jika dia mencintaiku sejak dahulu kala. Aku memutuskan Emar dan kembali pada Atun sebagai cinta sejatiku. Aku tahu, aku menjelma sesosok malaikat pertama kali di hati Emar. Namun tak ada daya untuk memegang, hingga aku menjadi Iblis yang menakutkan baginya saat aku dengan terus terang mau kembali ke pangkuan Atun. Aku merindukanmu Atun, dengan ungkapan yang tak bisa kuterjemah dengan kata-kata dan huruf-huruf yang mati.***


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iin Farliani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 5 februari 2017

0 Response to "Dua Lelaki di Halte Bus"