Elegi dari Bojonegara - Di Jembatan Pabean | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Elegi dari Bojonegara - Di Jembatan Pabean Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:58 Rating: 4,5

Elegi dari Bojonegara - Di Jembatan Pabean

Elegi dari Bojonegara 

Seperti dikirim mimpi yang salah.
Bukit-bukit di sekujur Bojonegara

berlumur darah.

Kini aku berumah di sini
duduk bersila memejam mata
di antara seribu biji debu yang menyatu
dengan asap pabrik dan angin lengket
dari pelabuhan yang uzur.

Bersamadi memanggil arwah-arwah
yang mengembara ke segala arah.

Jalan-jalan yang bergelombang
hanya akan mengantarkan
para peziarah di gunung Santri
pada kematian yang bersembunyi
pada kematian yang dinanti.

Di Jembatan Pabean 

Jalan melengkung
dan bagai ombak bergulung.
Mulus lembut
bagai kulit selimut

Kulewati pagi hari.
Angin dari bukit menusuk hati.
"Umur tak lagi."
Ia mengulangi.

Berbatang-batang bambu merunduk nyeri
kehilangan puji kehilangan matahari.

"Jasad akan mati."
Dari bukti yang tak terlalu tinggi
suara itu datang lagi.


Ardien Je, sukarelawan Rumah Dunia; pendidik di MTs Al-Khairiyah Karangtengah Cilegon/ Buku puisinya berjudul "EMpat Mozaik dari Laut" (2016).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ardien Je
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi Minggu 5 Februari 2017


0 Response to "Elegi dari Bojonegara - Di Jembatan Pabean "