Elegi dari Bojonegara - Di Jembatan Pabean | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Elegi dari Bojonegara - Di Jembatan Pabean Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:09 Rating: 4,5

Elegi dari Bojonegara - Di Jembatan Pabean

Elegi dari Bojonegara

Seperti dikirim mimpi yang salah.
Bukit-bukit di sekujur Bojonegara

berlumur darah

Kini aku berumah di sini
duduk bersila memejam mata
di antara seribu biji debu yang menyatu
dengan asap pabrik dan angin lengket
dari pelabuhan yang uzur

Bersamadi memanggil arwah-arwah
yang mengembara ke segala arah

Jalan-jalan yang bergelombang
hanya akan mengantarkan
para peziarah di gunung Santri
pada kematian yang bersembunyi
pada kematian yang dinanti.

Di Jembatan Pabean

Jalan melengkung
dan bagai ombak bergulung.
Mulus lembut

bagai kulit selimut.

Kulewati pagi hari.
Angin dari bukit menusuk hati.
"Umur tak lama lagi."
Ia mengulangi.

Berbatang-batang bambu merunduk nyeri
kehilangan puji kehilangan matahari

"Jasad akan mati."
Dari bukit yang tak terlalu tinggi
suara itu datang lagi.


Ardien Je, sukarelawan Rumah Dunia; pendidik di MTs Al-Khairiyah Karangtengah Cilegon. Buku puisinya berjudul "Empat Mozaik dari laut" (2016)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ardien Je
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 5 Februari 2017

0 Response to "Elegi dari Bojonegara - Di Jembatan Pabean"