Empat Puluh Lima Hari - Kelomang - Patah Hati - Enigma - Bibirmu Rasa Stroberi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Empat Puluh Lima Hari - Kelomang - Patah Hati - Enigma - Bibirmu Rasa Stroberi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:00 Rating: 4,5

Empat Puluh Lima Hari - Kelomang - Patah Hati - Enigma - Bibirmu Rasa Stroberi

Empat Puluh Lima Hari

hujan pertama yang jatuh di punggungmu ialah riwis yang
ceriwis. lalu smartphone kita bersigenggam. dan dunia njel-
ma percakapan yang aku kau terkutuk di dalamnya. lagi
dan lagi. candu dan candu lagi.
sampai kemudian kita pada rumah. di mana bara dan nyala
tertera di dinding-dindingnya.
kau menjelma tuan rumah. aku merupa puan rumah.
aih.
sepasang terang jadi sosok tiga pagi, ruang tamu, dan nya-
muk-nyamuk yang mengganggu.
di empat puluh empat hari selanjutnya, kita kian tenggelam.
dan terapung. dan tenggelam.
begini saja, kau menepi aku menepi. kau melelana pun aku
melelana. kita sama-sama. sebab kita memanglah sama;
punya vagina dan payudara.

akh!

Kelomang

menjelang hilang. menuju pulang. ada yang lengkap
lengang.
buku-buku belum selesai dibereskan. baju-baju belum pula
dirapikan. namun mantra-mantra telah usai dirapalkan.
mantra peredam nyeri; mantra pereda patah hati.
sebab detik telah napak di masa tenggang. dan entah, kem-
bali kapan sanggup diisi ulang.
menjelang hilang. menuju pulang. ada yang lengkap
lengang.
ya. sebab perpisahan ialah musti. dan ingatan jadi yang
paling jahat setelah ini.

Patah Hati

Selepas pulang, maaf, lontong opor dan kolesterol-koles-
terol lainnya, bulan ketujuh tak lagi nampak sok tabah.
sebab riuh tepuk tangan beralih pada panggung sepakbola,
pokemon go, dan theresa may. sebab pentas ialah perkara
duduk dan menunggu giliran. Sebab takdir selalu berpihak
pada Sophokles sang pemilik kisah ñ dan bukan Oidipus.
Selepas pulang, maaf, lontong opor dan kolesterol-koles-
terol lainnya, bulan ketujuh tak lagi nampak sok tabah.
sebab kini Ia jujur mengakui bahwa Ia adalah Juli.
Meski begitu, tetap saja, Ia retak sejadi-jadinya.
Sementara itu, di pojok belakang bangku penonton,
seorang gadis kecil sibuk bertanya-tanya; perihal
bagaimana bisa Ia jatuh cinta pada patah hati.
Sama seperti bulan ketujuh, Ia tengah retak sejadi-jadinya.
Ia tengah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.


Enigma #2

Pagi pekat. Ada asing di kedua bibir yang tertambat.
Malam tercekat. Dustai berahi yang kian nekat.

Enigma #3

Pelukan kita terjerat oleh hangat, dekat, dan nikmat
Ciuman kita tercekat pada resah, kalah, dan basah

Bibirmu Rasa Stroberi

; aku mau lagi


Sayang, Endonesya Jomblo
MERDEKA adalah jalan
MERDEKA adalah jalan-jalan
MERDEKA adalah jalan-jalan bersama pacar
MERDEKA adalah jalan-jalan bersama pacar ke ruang-
ruang kesenian
MERDEKA adalah jalan-jalan bersama pacar ke ruang-
ruang kesenian sambil meneriakkan kemanusiaan
MERDEKA adalah jalan-jalan bersama pacar ke ruang-
ruang kesenian sambil meneriakkan kemanusiaan dengan
masih menodong duit milik orang tua yang kemudian
dihabiskan

aku MERDEKA. sebenar-benarnya MERDEKA.

kamuSya?


Himas Nur, menulis puisi, esai, skenario film pendek, dan tugas akhir. Pemilik akun instagram@himasnur. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Himas Nur
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 19 Februari 2017


0 Response to "Empat Puluh Lima Hari - Kelomang - Patah Hati - Enigma - Bibirmu Rasa Stroberi"