Garizah - Mendedah Sunyi - Resonansi Kematian | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Garizah - Mendedah Sunyi - Resonansi Kematian Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:59 Rating: 4,5

Garizah - Mendedah Sunyi - Resonansi Kematian

Garizah

Longoklah ceruk hati sebelum cahaya
melesak ke dimensi akal
kawanan semut tiada silap mencecap mana
gulali ataupun mineral
bagaimana lambu melaju cepat bila
mengapung di selat dangkal?

Kata-kata takkan mati hanya karena bibir
mengatup begitu rapat
ajal hanya melarai roh dari jasad, bukan sari
kalimat
apatah ketika segala kitab dilenyapkan lantas
musnah pula hakikat?

Mari lecut sakhawat dalam dada hingga
asmaraloka kian amerta
meski kapas sudah meyumpal telinga dan tali
sebagai mahkota
terus tabuh genderang rindu agar esok
bergema madah cinta!

Yogyakarta, 20 Januari 2017

Mendedah Sunyi

Majal kini segala ketajaman makna atas imaji
dalam diri
karut begitu sarat dalam pikiran sepanjang
siang dan malam
ke mana hendak sembunyi bila pelipur justru
tiarap kini?

Oh, anak panah telah melesat meski tak tepat
sasaran
ia hanya mendedah bentang udara, lalu
sengap dalam sunyi
apa yang tersisa adalah gerundel dalam batin
tak keruan

Gairah mengeram hingga lafal pun terbata
saat meluah kata
pintu membekap lesak cahaya sekaligus lipat
bias bayang esensi
hidup tapi mati jauh lebih mengerikan dari
tragedi Troya

Yogyakarta, 20 November 2016

Resonansi Kematian

Arca ditatah atas ragam rupa, laun luruh
terkikis masa
pun asteroid nan jauh timbul tenggelam di
ujung mata
sungguh telah ditinggalkan segala sekutu
yang dipuja dulu kala

Percuma kobar api membakar diri bila
sumarah capai kulminasi
hanya nyala dan kepul membubung, lantas
majal lumat diri
murad menuntun si murid agar sentosa
hingga sabana maknawi

Agas berkerumun di kujur jasad sampai tanah
berlumur darah
lebur hala bayang, terbelam bersama angin di
antara zarah
cercah bak mata kapak mendedah jagat,
kelindan dalam madah

Yogyakarta, 26 September 2016


Anam Khoirul Anam, Lahir di Ngawi, Juni 1982. Karya-karyanya telah dipublikasikan di berbagai media massa lokal maupun nasional. Beberapa buku juga telah diterbitkan, salah satu di antaranya berjudul Dzikir-Dzikir Cinta (2006) serta beberapa kumpulan puisi, salah satu di antaranya Ode para Pecinta (2017).


Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Anam Khoirul Anam
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 5 Februari 2017

0 Response to "Garizah - Mendedah Sunyi - Resonansi Kematian"