Istri Sang Ilmuwan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Istri Sang Ilmuwan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:21 Rating: 4,5

Istri Sang Ilmuwan

TELEPON BERDERING. Marc sedang tak ingin mengangkatnya. Cuaca hari itu cukup panas, tidak biasanya di bulan Juli begini. Ia tergeletak di atas tempat tidurnya, dengan buku-buku berserakan di sekelilingnya. Siapakah yang mungkin meneleponnya? Ia menebak-nebak siapa yang ingin mengajaknya bicara. Tak seorang pun, terlebih lagi ibunya. Tapi kalau orang yang menelepon itu Michaël, anaknya? Pikiran tentang anak laki-laki itu membuatnya memutuskan untuk mengangkatnya. Deringan itu terhenti. Bersamaan dengan sapaan sambutannya. “Halo, ya! Aku mendengarkan.”

“Halo! Di sini Victoria Berger, halo!”

Hening. Nama itu tidak menimbulkan kesna apa-apa pada Marc. Yang pasti suara di seberangnya adalah seorang wanita. Bukan orang Perancis. Mungkin Inggris, atau Amerika.

“Ya, selamat pagi.”

“Marc?”

Dari aksennya, suara ini pasti seorang wanita Inggris. Tapi terdengar agak janggal juga. Toh, Marc tidak merisaukan hal ini. Ia memang pria yang mudah mengajak bicara siapa pun yang tak dikenalnya, namun termasuk tipe yang enggan mendengarkan perkataan lawan bicaranya. Hebatnya, tak seorang pun dari mereka yang lupa kepadanya. Ia seorang pria yang punya semangat tinggi. Meskipun suka sekali mengejek lawan bicaranya, ia baik hati. Orang-orang mengenalnya sebagai pribadi yang mengagumkan. Mungkin karena kedua bola matanya yang biru cemerlang, dan rambut pirang tebalnya yang seolah-olah laksana topi pet yang menyamarkan sebagian wajahnya.

Para sopir taksi tentu ingat kepada dirinya. “Monsieur, saya pernah mempekerjakan (?) Anda di Opera tiga tahun lalu. Anda pergi ke Passy untuk mengunjungi ibu Anda. Ya, ya, itu Anda. Ah, saya! Saya seorang fisionomis1.” (siapa yang ngomong?) Marc begitu berwibawanya sehingga ia berlagak mengenal sopir taksi itu. “Apa bintang Anda? Oh ya! Anda percaya? Tapi saya ingat, Anda pernah meramal masa depan saya. Pisces, bintang saya, Pisces, bulan dalam Taurus, Saturnus di rumah ketujuh.” (ini siapa yang ngomong?)

Marc menjawab sapaan Victoria Berger seraya menambahkan bahwa ia sangat senang mendengar suaranya lagi. Tapi di mana sebenarnya ia pernah mendengar suara ini? Ia yakin ia mengenali wanita itu, ia yakin ia pasti pernah mengenalnya.

“Sulit sekali menemukanmu. Nomor teleponmu tidak ada di buku direktori. Aku sampai harus menelepon ke semua orang yang memakai embel-embel nama Elia.”

“Ah?”

Sampai akhirnya seorang ibu-ibu memberikan wanita itu nomor teleponnya yang benar. Tapi dengan nada amarah yang tertahan, karena terkesan ia tak ingin memberikan nomor itu. Marc menghela napas. Untuk dua alasan. Pertama, tak ada gunanya nomor teleponnya terdaftar di baris merah sampai-sampai orang-orang bernama Elia yang harus menemukannya. Kedua, ia merasa kesal karena belum dapat mengingat kenangan akan Victoria Berger.

“Sejak kapan kau ada di Paris?”

“Tapi, Marc, aku baru saja datang, masih di stasiun, di dalam kabin telepon ini. Aku hampir mati kepanasan karena harus menelepon ke sana kemari sebelum akhirnya aku bisa mendengar suaramu. Tidakkah kau mengira mungkin saja aku akan mendadak datang ke tempatmu, sendirian di kota ini, tanpa meneleponmu dahulu?”

Marc mengeluarkan sehelai kain sapu tangan putih lebar dari celana panjang abu-abunya, lalu menyeka wajahnya. Suara wanita itu begitu merdu. Bagaimana aku bisa melupakan wanita ini, yang punya ide sinting di kepalanya, yaitu menemuiku, padahal cuaca hari ini sebegini panasnya?

“Kau begitu baik. Di mana kau sekarang, Victoria?”

“Aku di Stasiun Gare du Nord, dan aku merasa kepanasan tapi tak mengapa, yang penting akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Oh Marc, aku benar-benar gila!” ujarnya bertubi-tubi.

Marc kembali menyeka wajahnya. Ia memang senang bersikap ramah kepada siapa saja. Melukai hati seseorang tidak pernah terlintas di pikirannya. Jikalau pun itu terjadi, dirinya akan dipenuhi penyesalan yang tak terhingga. Namun ia juga seorang pemalas, ia tak suka keluar-keluar, pergi ke tempat-tempat baru, berjalan-jalan tak menentu. Hampir semua urusannya dilakukan melalui telepon.
“Marc, bisakah kau ke sini?”

“Tapi aku tidak yakin. Sekarang?”

Ia cepat-cepat mencari-cari alasan. Jeleknya ia tak menemukan satu pun yang tepat. Ke sana, sekarang? Cuaca hari ini panas, tapi tampaknya alasan itu tak cukup. Ia ada janji dengan seseorang. Sepertinya wanita itu takkan mempercayainya. Suara wanita itu yang merdu akan berubah tersayat-sayat. Dan ia sendiri akan terus menyesalinya sepanjang malam. Akibatnya ia takkan bisa tidur nyenyak. Padahal suhu seperti ini lebih baik baginya untuk tidur daripada bolak-balik saja di atas kasurnya.

“Di mana kau ingin aku menemuimu?”

“Oh Marc! Aku tak begitu mengenal Paris. Aku ada di Gare du Nord. Di seberang ada sebuah kafe, Chez Max. Aku tunggu di sana saja. Oh Marc! Aku telah berbuat gila!”

Marc meletakkan kembali gagang teleponnya, lalu menyembunyikan kepalanya di antara kedua belah tangannya. Siapa Victoria ini? Kalau-kalau dia orang gila? Marc sudah banyak mengenal orang gila. Mantan istrinya sering mencelanya. “Setiap kali ada orang sinting mampir malam-malam ke rumah ini, tujuannya pasti untuk menemuimu. Dan aku harus bagaimana, orang-orang sinting tidak lebih menyebalkan daripada orang-orang yang waras. Jangan acuhkan mereka!” teriaknya suatu kali. “Atau kau akan menjadi sama sintingnya dengan mereka.”

“Tapi Louisa sayang, aku memang sudah gila. Tergila-gila kepadamu, misalnya.”

Namun tatapan wanita itu berubah dingin, mengeras, sekeras baja. Victoria pasti sinting juga, sampai ia mungkin mau menikahiku. Sama sintingnya seperti Louisa dulu.

Marc memanggil taksi. Ia berusaha mengingat-ingat menyusun kembali serpihan memorinya. Seseorang yang tidak tinggal di Perancis, dan aksen yang terdengar ringan ini, walaupun terkadang janggal, pastilah ia sudah lama mempelajari bahasa Perancis, karena tak ada satu katanya pun yang salah terucap.

“Ke Gare du Nord, s’il vous plaît!”

Hanya Michaël satu-satunya hal terbaik dari perkawinannya. Aku menarik perhatian wanita-wanita gila. Tapi Victoria tidaklah gila. “Aku telah berbuat gila,” dan wanita itu tertawa, lepas, renyah. Adalah suatu hal yang menyenangkan bagi para wanita yang memiliki tawa yang menarik. Jika ia gila, ia takkan mengakui apa yang telah dilakukannya itu adalah hal yang gila. Kegilaan macam apa?

Mungkin seharusnya aku ganti baju dulu. Marc tampak tidak puas dengan penampilannya dalam celana panjang abu-abu belel dan kemeja garis-garis. Santai, seperti yang dikomentari oleh para wanita, bahkan oleh ibunya sendiri. Dan ibunya menambahkan, “Kau seharusnya menikahi anak gadis pemilik binatu,” karena ia sering kali mengotori baju yang dikenakannya, tanpa ia pedulikan. “Toh nanti juga hilang kena air,” begitu alasannya.

Louisa sendiri adalah anak seorang pedagang perhiasan, yang menjual aneka perhiasan murahan. Ia selalu merasa tersinggung tatkala Marc mengatakan tidak menyukai perhiasan-perhiasan itu. Marc masih bisa bertoleransi terhadap hampir semua perhiasan itu, terkecuali yang bentuknya sangat buruk. Sebagai tukang gambar, Marc tahu apa yang ia suka, dan itu bukanlah perhiasan yang dijual oleh ayah Louisa.

Kisah mereka berakhir dengan perceraian, setelah enam tahun hidup bersama sebagaimana layaknya pasangan suami istri, yang penuh dengan celaan, namun terkadang juga diselingi dengan rasa cinta. 
Bangunan Stasiun Gare du Nord sudah kelihatan. Marc mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya. Lembaran uang itu dibentuknya menjadi gumpalan-gumpalan, tak lupa dengan sejumlah besar tip. Sopir taksi itu pun segera teringat kepadanya. 

Tak lama, tatapannya beralih ke sebuah papan bertuliskan “Chez Max”. Bagaimana ia akan mengetahui siapa wanita ini sebenarnya? Dan jika ia tidak mengenal wanita ini sama sekali? Mungkin saja penampilannya telah berubah. Itu suatu hal yang wajar.

Marc berada di dalam kafe, dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya, tubuh yang agak dibungkukkan sehingga orang-orang mengatakan bahwa Marc memang punya kekuatan kharisma yang luar biasa. Wanita itu segera berdiri.

Ia berkata, “Marc, sudah sekian lama kutunggu saat-saat seperti ini.” 

Beberapa detik dalam keheningan, bayangan masa lalu itu berkelebat dalam ingatannya. Victoria adalah istri seorang filsuf bernama Jules Berger, yang ia temui pada suatu acara kolokium bertema Majunya Kesadaran Dunia Filsafat Barat setahun yang lalu. Marc baru menyadarinya, saat itu ia diminta untuk menjadi fotografer.

Victoria adalah seorang wanita terhormat, istri seorang ahli filsuf yang mempelajari filsafat-filsafat ajaran Maine de Biran2 yang disegani. Gaya rambutnya yang ditata sedemikian rupa, hasil karya para perias salon profesional, tak mampu memadamkan kecantikannya yang sempurna. 


Marc bergumam, “Tapi Victoria, bagaimana kau bisa ….”

Wanita itu memotong perkataannya, meraih lengannya, mempersilakannya duduk, menatapnya dengan kedua mata cokelatnya yang terpoles indah dengan maskara. Apa ia benar-benar berambut pirang? Marc bertanya-tanya. Wanita yang bermoral, tidaklah seksi. Ia membenci pikiran ini, pikiran yang memburu khayalan akan tubuh Victoria yang tinggi dan berkulit putih halus. Ia adalah istri seorang profesor filsafat moral.

“Aku di sini, Marc, dan bahagia.”

Ia tertawa, bagaikan tawa anak gadis tanpa dosa.

“Sungguh sinting, Marc, aku kabur, kabur.”

Pada saat itu Marc baru menyadari dua kopor besar berdiri di belakang kursi yang diduduki Victoria.
“Kau membawa kedua kopor besar ini sendiri?” tanya Marc dengan mimik ngeri.

“Oh! Betapa beratnya, apalagi di saat cuaca seperti ini, dan lagi, ke mana aku akan pergi? Marc, tahukah kau kalau aku kabur dari rumahku! Bahkan aku tak tahu alamatmu, tapi aku merasa yakin aku pasti dapat menemukanmu.”

Tangannya menggenggam lengan Marc. Tangan itu lebar, kontras dengan jari-jarinya yang tipis memanjang, namun tampak bengkak karena udara yang panas. Ia harus melakukan diet karenanya, tapi tidaklah sesuai untuk ukuran tangannya. Marc ingin tangan itu segera pergi dari lengannya. Ia merasa kedua mata Victoria yang sebesar biji almond itu menatap lurus ke arahnya, sehingga Mac tidak membalas menatapnya. 

Aku kalah, pikirnya.

“Kau tahu, sejak setahun yang lalu aku selalu memikirkanmu. Capricornus dan Sagitarius. Aku telah membaca semua buku-buku itu. Kau memang mengatakan hal-hal yang benar. Kegemaran akan petualangan, perjalanan, filsafat. Semua itu ada pada diriku. Eksotisme. Ya, persis sekali, tak seorang pun yang mengerti tentang diriku sepertimu. Terlebih dia. Kalau saja aku tidak menikah dengan pria sepertinya, sang hutan perawan Amazon. Tapi dia, ia mencintai rumahnya. Di sana hanya ada orang-orang yang membosankan, topik pembicaraan selalu tentang yang itu-itu saja. Ia selalu dihormati oleh siapa pun, kecuali aku. Konferensi-konferensi yang dihadirinya pun tak lagi memikatku. Sepertinya, aku menikahinya hanya untuk menemaninya ke acara konferensi-konferensinya. Aku mengikuti semua seminarnya, aku ingin memahaminya. Ia paham betul segala macam filsafat, sampai aku tak sanggup membungkamnya, dan membuatku terpana. Tapi, Marc, kau tahu berapa lama kita bisa mempertahankan kebusukan dan kepicikan ini? Ia tak pernah melihatku, tidak sepertimu. Kau mengerti bagaimana caranya memperlakukan seorang wanita. Aku langsung mengetahuinya, Marc. Saat acara makan bersama, kau duduk di seberangnya. Namun kau tidak seperti yang lainnya. Bukan ia yang tertarik kepadamu, tapi aku. Itulah sebabnya aku ke sini.”

Louisa benar, pikir Marc. Ia bertanya-tanya apa reaksinya bila melihat mereka berdua. Genggaman tangan wanita itu di lengannya semakin erat.

“Marc, tataplah aku.”

Ia mematuhinya. Ia tatap wajah rupawannya dan kulitnya yang mulus. Ia memang telah berdandan dengan segala daya upaya. (Mana yang Victoria, mana yang Marc?) Menakjubkan. Marc merasa letih.

Sekali lagi, namun bukan pada situasi puncaknya. Hanya untuk mengingat kembali, menggambar wajah-wajah para pembicara kolokium itu dalam ingatannya. Terngiang-ngiang nada cemoohan seorang ibu. “Kau takkan pernah menemukan wanita secekatan, seteratur, dan sepintar Louisa.”

Apa yang akan dikatakan ibunya Victoria? (ibunya Victoria, atau “ibunya tentang Victoria?”)
“Victoria, apa suamimu tidak mengetahui kepergianmu?”

Meledaklah tawa wanita itu kuat-kuat. 

“Aku tak peduli apa yang ia pikirkan. Paling ia hanya akan menyesali bahwa tukang masaknya telah menghilang.”

“Victoria, di mana kau belajar bahasa Perancis? Bahasa Perancismu sangat fasih.”

“Di Mesir, Darling. Apa aku belum pernah mengatakan kepadamu bahwa aku dibesarkan dalam sebuah keluarga besar asal Mesir? Tentu saja semua orang berbicara dalam bahasa Perancis, dan perawat (pengasuh?) kamilah yang mengajari kami bahasa Inggris. Sebelum ini aku tak pernah dibebani pekerjaan rumah tangga, bahkan pekerjaan yang ringan sekalipun, tapi dengan dia! Ia mengira sisa hidupku dihabiskan hanya untuk menyiapkan makanan untuknya, dan ia selalu mengeluh masakanku tak bercita rasa. Dia yang tak tahu selera!”

“Tahukah kau … aku tersentuh saat mengetahui kau langsung meneleponku begitu kau sampai di Perancis.”

“Tapi Marc, kedatanganku bukan karena itu.”

Victoria menarik kembali tangannya dan berbalik. Profilnya begitu menawan dengan hidungnya yang mancung bak lukisan.

“Untukmulah aku kemari, sejak percakapan kita dulu, aku selalu memikirkan suatu saat akan datang ke sini dan menemuimu. Tidakkah kau mengerti?”

Marc kembali menyembunyikan kepalanya di antara kedua lengannya. (?) Ia berusaha keras mengingat kenangan Victoria bersama suaminya, seorang spesialis Maine de Biran. Mereka adalah pasangan dengan kepribadian masing-masing yang kontras: ia cantik, tinggi, elegan, mengenakan kalung mutiara di sekeliling lehernya, dan gaun dengan belahan tinggi; sedangkan suaminya, pendek, dengan kacamata yang bertengger di batang hidungnya, dan usia yang tentu saja lebih tua dibandingkan dirinya (siapa?). Mereka tak punya anak. Marc bertanya-tanya, semenjak pertemuan pertama mereka yang sungguh unik, bagaimana dirinya bisa memikat hati Victoria yang kemudian seolah-olah terhipnotis untuk membuang segalanya, dan mengejarnya hingga ke Gare du Nord, hanya dengan membawa dua buah kopor di tangan?

Ia memang bersikap ramah ke semua wanita, menatap mereka dengan ketajaman matanya, dan mengajak mereka berbicara dengan gaya yang sungguh memesona. Dengan bakat astrologinya ia dapat mengatakan segala hal yang bersifat rahasia mengenai mereka, dan sangat memahaminya. Hal inilah yang membuat jengkel Louisa. Hentikan kekonyolanmu itu! Tutup mulutmu! Jangan menatap mereka seperti itu! Menggoda para wanita memang hal yang mudah untuk Marc. Sebaliknya, jarang dari mereka yang mampu memikat hati Marc.

Ia membuat fragmen-fragmen kecil gambar Victoria di kepalanya. Leher yang agak jenjang. Kokoh. Apa yang dilakukannya di dalam kafe kumuh seperti ini?

Marc menatapnya. Kedua bola mata yang lonjong di hadapannya tampak semakin lembap karena keinginan untuk menaklukkannya. Ia memutuskan untuk mengeluarkan alasan yang tepat dari mulutnya. Apakah suaminya mengetahuinya? Hanya dari surat yang ditinggalkannya? Apakah ia menyadari bahwa ia telah berbuat salah? Apakah suaminya pantas ditinggalkan seperti itu?

Pikiran Marc melayang lagi kepada pria bertubuh pendek dengan cacat miopi di matanya itu. Kedua matanya yang bulat tajam menghiasi wajahnya yang terlalu pucat, punggung yang bungkuk, kata-katanya yang lancar mengalir, kepandaiannya yang terkadang terkesan meremehkan, aksennya yang janggal dalam segala bahasa yang diucapkannya.

Victoria, apa yang kau pikirkan saat kau memutuskan untuk menikahinya? Suaminya sangat komunikatif dalam berbicara, suaminya mempunyai segala jawaban atas semua pertanyaan, dan mempunyai murid-murid yang menghormatinya, yang segan kepadanya, dan mengikuti ajaran-ajarannya. Dan ia telah memilih Victoria. 

Marc terdiam sesaat, lalu ia bertanya, “Kau sudah tahu kau akan tinggal di mana?”

Senyuman di wajah wanita itu pudar. Ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi dengan ekspresi wajah dingin. Tampaknya ia sudah mengerti apa maksud Marc. 

“Aku yakin ia akan lebih menghargaimu sekarang.”

“Tapi bukan itu yang aku mau,” balas wanita itu kesal.

Mugkin aku telah membuatnya jengkel, pikir Marc.

MARC MENGANTARNYA masuk ke dalam stasiun. Keduanya mencari jadwal keberangkatan kereta yang berikutnya ke Brussels.

Wanita itu berjalan seperti tak sadarkan diri. Semua kekuatan yang ada pada dirinya sirna sudah. Rambutnya yang tertata rapi kini tampak berantakan. Lipstik yang terpoles di bibirnya memudar. 

Wanita itu naik ke dalam gerbong kereta tanpa menoleh ke belakang lagi. Marc mengangkat kedua kopor yang berat itu dengan perasaan bersalah. Besok pagi, sang ilmuwan paruh baya itu akan kembali menerima wanita itu dalam pelukannya, meskipun ia telah membuat semangat hidup wanita itu sempat surut. Marc menatap kepergian kereta itu. Victoria duduk di dalam kompartemennya, di dekat jendela, dalam diam, dan terpaku. Ia bahkan tak melambaikan tangannya ke arah Marc.

Setahun kemudian, Marc kembali bertemu dengan Tuan dan Nyonya Berger dalam sebuah kongres bertemakan Kematian di Dunia Barat. Victoria menghampiri Marc, seraya berkata, “Kau tahu, aku telah melupakan semuanya. Merci.”

Catatan:
1. Maine de Biran = filsuf Perancis yang hidup pada abad ke-19
2. Fisionomis (physionomiste) = seseorang yang mempunyai keahlian menebak karakter dan sifat orang lain hanya dengan melihat raut wajahnya.

Rujukan:
[1] Judul asli : La Fougue De La Femme Du Savant
[2] Disalin dari karya Francine Cicurel yang dialihbahasakan oleh Dina Mardiana
[3] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Femina" edisi No. 15/XXXI 10 – 16 April 2003

0 Response to "Istri Sang Ilmuwan"