Karena Ayah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Karena Ayah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:07 Rating: 4,5

Karena Ayah

TIDAK! Seharusnya jemari kasarku ini memegang jarum tajam dan ebnang. Tidak harus benang emas. Yang penting kuat. Harusnya kusulami sendiri, sayatan, kebekuan, luka dan sejenisnya. Tambal dan sulam yang seharusnya kukerjakan sendiri dengan sepenuh kesadaran. Dan tidak seharusnya aku mengeja, membaca, atau mengomentari luka orang lain. Gila! Jika aku terbahak dan bangga. Hati mengeras angkuh. Kemudian membusungkan dada dan bergumam, "akulah sempurna itu."

Terlambat! Saat kusadari gelas cantik kristal ini hancur. Bagaimana dapat kubenahi? Waktu kupunguti saja puingnya mengiris dagingku. Hingga daging terdalamku. Perih! Darah yang semestinya mengalir segar dari luka ini, justru mengental hitam. Seperti hendak mengabarkan kepadaku, seperti apa warna segumpal daging dalam dadaku.

Sekarang aku baru paham, jika universitas bunda itu penting. Bahkan mengalahkan universitas-universitas komersil. Yang katanya mampu mencetak generasi top. Top menyanyi tanpa suara? Top makan tanpa mengunyah? Top dalam melenyapkan yang bukan haknya? Ya, top melenyapkan berlembar-lembar kertas bernomor seri di dalam loker-loker. Mereka seperti telah belajar dan diajari filosofi rayap. Atau entah mereka kesehariannya melihat pemandangan yang dilukis kedua orangtuanya, di kanvas nyata di depan kedua matanya. Sehingga aktivitas menggerakkan jemari dalam sunyi, menjadi senandung merdu yang digemari anak-anak yang dulu sama sekali tidak tahu bahwa masih banyak senandung indah di luar sana yang bisa dipelajari, bersama-sama.

Bukan senandung yang memunculkan degup jantung menyakitkan. Atau mengerikan ketika disuarakan. Aku nyaris enggan bernapas lagi, ketika setiap hari ikut dalam barisan lagu yang seperti mampu membangkitkan sleuruh mayat yang baru disemayamkan. Bahkan membangkitkan mayat yang sudah membumi ratusan tahun. Sungguh menakutkan menurutku. 

"Bagaimana lagi?"

Aku tidka bisa berbuat apa-apa. Tiap kali aku berusaha bicara, lidah ini berasa besi. Sangat kaku.

"Kamu itu bocah kemarin! Sudahlah tidak usah ikut campur urusan dewasa! Yang penting seluruh kebutuhanmu terpenuhi. Tanpa kamu harus bersusah-payah seperti anak-anak di luar sana!" bentak ayah panjang lebar malam itu.

"Ayah kerja tidak kenal waktu untuk siapa coba? Kamu malah tidak menghargai kerja keras Ayah sama sekali."

Akhirnya aku meminta maaf untuk semua prasangka burukku terhadap ayah. Walau ada nyanyian lain yang kadang menghentak, namun aku berusaha mendengarkan lagu yang selama ini didoktrin ayah kepadaku.

Aku tidak mau prasangka ini justru membuat celah, yang membuat kamiseperti orang asing, satu sama lain. Dan aku sebagai anak, merunduk tunduk. Tentunya sebagaimana yang telah menjadi keyakinan orang timur. Benar atau salah, orangtua tetap saja benar. Menjadi tabu jika seorang anak sampai keluar koridor yang diciptakan orangtua. Hanya karena meluruskan kesalahan ucap orangtua, seorang anak mendapat gelar dan predikat 'durhaka.'

***
LANGIT pucat pasi. Matahari tetap pada kodrat dan tugasnya. Rumah mewahku begitu ramai. Tidak seperti biasanya.

"Maafkan Ayah, Nak," katya ayah begitu sosoknya berdiri di hadapanku.

Suaranya terdengar lemas dan parau. Aku hanya diam mendengarkan monolog hatiku. "Mungkin Ayahku koruptor!"

Ketakutanku pun terjadi. Mami sesenggukan menghambur ke arahku. Kepiluan memenuhi mataku. Mataku membasah. Tapi ekor mataku tidak salah melihat. Berlyana, kekasihku yang kukenal sebagai kekasih yang baik, setia, pun perhatian dan peduli, membalikkan badan. Mengurungkan niat masuk ke dalam rumahku, setelah sejenak bercakap dengan seorang polisi di depan gerbang. Lepas. Hilang!

Satu memetik angin, seisi rumah menuai badai. Perih! 


Selly Ibrahim. Tukangan DN 2/723 Tegal Panggung, Danurejan, Yogyakarta.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Selly Ibrahim
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 19 Februari 2017


0 Response to "Karena Ayah"