Keluarga yang Menanti Hujan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Keluarga yang Menanti Hujan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:08 Rating: 4,5

Keluarga yang Menanti Hujan

HUJAN menjadi hal paling bahagia bagi semua anggota keluarga di rumah ini. Menikmati tetes-tetes air yang jatuh berlebihan dari langit. Terkadang membuat genangan yang akan membekas berminggu-minggu di halaman. Begitu pula saya akan duduk manis di kamar ini setiap hari, menunggu hujan, membaca ramalan cuaca, terkadang pula mendengarkan siaran berita cuaca dari radio atau teve. 

Orang-orang di dalam rumah ini pun begitu, semua menyukai hujan. Juga membaca koran yang sama, siaran radio dan teve yang sama. Tapi kami yang berada di dalam rumah tak pernah bicara tentang hujan bersama, kami punya cara berbeda. Bapak di ruang kerjanya, sendiri menunggu hujan. Ibu di dapur seharian menunggu hujan. Adik pun begitu, sepulang sekolah lalu menunggu hujan. Terkadang adik juga menunggu hujan di kelasnya saat sekolah. Berkali-kali nilainya merah karena tak pernah mengerjakan tugas sekolah karena terlalu sibuk menunggu hujan.

Kami semua setiap hari menunggu hujan, saat malam datang kami tidur. Tapi sebenarnya kami tidak tidur, kami terjaga saat menunggu hujan datang. Sudah sebulan ini kami tidak bertemu hujan.

Pekerjaan bapak tersendat satu bulan ini karena tak ada hujan. Ibu pun begitu, tak memasak apapun kalau tak turun hujan. Begitu pula saya, tak akan menuliskan apapun karena tak ada hujan satu bulan ini. Kami begitu menyukai hujan, beda tipis dengan penikmat hujan tapi sebenarnya kami semua suka. 

Saat di ruang makan, kami tak pernah berbicara apapun tentang hujan. Hanya saja kami sering melaporkan kegiatan kami masing-masing.

”Bapak, Adik butuh uang untuk ujian.“

Bapak terdiam, tertunduk kepalanya, bibirnya kaku tak menjawab.

***
”BAGAIMANA bisa hujan tak turun sama sekali sebulan ini,“ gumam ibu yang sedari tadi mondar mandir di dalam rumah.

Tak ada yang menyela atau menambahi ucapan ibu. Begitu pula ketika salah satu dari kami bergumam tentang hujan tak akan ada yang menimpali atau menambahi. Sebab semua pasti akan sama, sibuk menunggu hujan masing-masing.

Keluarga ini, seharusnya diberkahi hujan setiap hari, sebab menunggu adalah hal yang begitu runyam dalam benak kami, setiap hari pasti kami selalu memasang wajah kusut, murung dan terkadang wajah kami penuh dengan amarah karena sudah tak sabar, terkadang saya pun ingin menggugat Tuhan tentang hujan.

“Seharusnya Kau turunkan hujan Tuhan, berkahilah hujan, kami sudah lama menunggu. Sedangkan ibadah yang mana lagi yang tak kami lakukan?”

Tapi entah bagaimana hujan di langit sana bekerja, mereka sudah tak turun lagi semenjak hujan terakhir di bulan Juni lalu. Padahal seharusnya hujan datang agar menjadi berkah untuk kami, memberikan bahagia kepada kami, agar bapak bisa bekreja lagi sebab sawahnya terlalu kering jika tak ada hujan. Apalagi ibu, sudah sebulan ini tak masak nasi, sebab uang belanja tak ada lagi kata bapak. Sedangkan adik, ia tak dapat belajar jika tak ada hujan yang menemani, sebab ia percaya bahwa hujan adalah sebuah berkah dalam belajarnya semenjak ia mendapat nila tertinggi di kelasnya. Saya pun begitu, nikmat mana yang tak saya terima saat hujan? Ribuan puisi elegi hujan dapat terbuat dalam sehari, dan pasti banyak orang yang akan berlomba-lomba meminta dan ingin membacanya. Begitulah saya, seorang penyair yang tengah merindukan hujan sebagai nyanyian dan menjadi berkah kenikmatan sendiri.

Seharusnya Tuhan tahu, seharusnya hujan pun mengerti betapa keluarga ini sedang menunggunya. Bayangkan, setiap malam kami rela mengeluarkan kaki kami keluar jendela agar ketika hujan datang saat malam kami terbangun karena tetesan air darilangit itu.

Tapi sudah sebulan ini tak ada hujan, yang turun hanya sepuluh kali masuk angin yang saya dapat, adik lima kali, pun bapak dan ibu berkali-kali, sebab terlalu tua dan rentan terhadap penyakit.

Tentang ibadah, kami pun berharap dengan istisqa’ dapat menambah permohonan kami agar turun hujan.

***
SUATU ketika saat kami terlelap saat menunggu hujan, kaki kami keluar jendela sebagai upaya menunggu. Jendela-jendela kami terbuka masing-masing. Saya mengorok, adik mengentut tak henti-henti, ibu dan bapak pun berkali-kali glegekan akibat angin yang masuk begitu banyak.

”Aduuuh….”

Terdengar suara adik mengerang kesakitan. Selanjutnya suara bapak, lalu ibu pun mengerang kesakitan. Saya setengah sadar merasa seperti ada air yang menetes dari langit.

Saya langsung beranjak menyadarkan diri lalu melihat apakah benar tetesan air di kaki saya adalah hujan, tanpa memperdulikan erangan bapak, ibu, adik yang masih terdengar.

Saya melongo melihat anjing penjaga yang bersimbah darah di mulutnya serta meneteskan lendirnya di kaki saya. Anjing penjaga itu seperti sedang menatap makanan bergizi di hadapannya dan siap menyantap lahap.

Pagi harinya kami sekeluarga mengerang kesakitan bersama-sama. • (k)

Achmad Fathoni: Aktif di Pelangi Sastra Malang. Tinggal di Jalan Bromo No 46 Pujon Lor malang.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Achmad Fathoni 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 12 Februari 2017

0 Response to "Keluarga yang Menanti Hujan"