Kepada Penyair - Pendongeng Tua - Peladang - Jam Tangan - Lidah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kepada Penyair - Pendongeng Tua - Peladang - Jam Tangan - Lidah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:44 Rating: 4,5

Kepada Penyair - Pendongeng Tua - Peladang - Jam Tangan - Lidah

Kepada Penyair 

Papas kesunyian yang gelap, sebab
ia tetap sangat dingin dan berbatu
di baris-baris okupasi dan waktumu
Sehabis-habis kata menenggak cairan rindu
mematah dahan resah meluruh daun gagu
ia menitip cuaca tak ramah, atau cupak lebam membiru

Kalungkan di lehernya pesan ibu
yang masih merawat insan cinta
yang terbunuh oleh kebusukan itu. Lalu,

biarkanlah saja ia mengelana tanpa suara 
menusuk jauh ke ketandusan cita-cita
ke kehilangan mata angin dan spektrum warna
: muasal moyangnya menumpahkan cahaya
2017

Pendongeng Tua

Anak-anak kampung itu telah menanti
sungai sohor di bibirmu mengalir

--menangkap ikan-ikan perihal
dengan jari jemari penakar jeluk

dan simburan hari.
"Semua itu akar
yang merambat di dahi
hingga sebuah pohon di masa depan
menggugurkan daun-daunnya sebagai akar
lain lagi."

Kau tak suka menukar senyum
dengan bayang-bayang pelawa
yang telah sejauh mimpi

Mengalirkan sungai--setiap kali
Menjaganya seorang diri
2017

Peladang

Sudah angin masih pula hujan
malam berkabar pesan waktu, hingga
kunyalakan lilin-lilin gaib, kutaburkan
bubuk yang ditumbuk dari bayangan-
bayangan terbakar itu di ladang warisan
demi menumbuhkan hasrat memahamimu.

Peladang adalah mempelai hari-hari yang
tak selalu beranjang mawar atau hanya
batu. Kesepian yang tegap menawarkan selimut
kutolak secara lembut. Rokok, kopi, ubi dan
percakapan dengan dan tentanku, seperti seni
rahasia yang diulang-ulang--kadang sehangat tungku
2017

Jam Tangan

Dalam petualangannya, ia menjumpa
nama dan nama berdebat serta saling berlomba
siapa yang kelak paling Purnama

Hingga ke dalam rumah kontrakan ketika dirinya
dilepas dari tangan dan digeletakkan di atas meja,
ia mengira : Ami dan Yova masih memperebutkan piala
yang tersembunyi di sudut dada pemiliknya.

Kini, setiap baterei usang diganti yang berdetik ria
ia betapa ingin melangkah lebih tampan
ketimbang sisi-sisi peristiwa yang 
telah menjadi kuburan kenangan.

Ia berdoa saja untuk kekecewaan
yang terus dipergilirkan selama usia
agar supaya selamat sampai ke ujung malam
2017

Lidah

Sejak kecil aku telah
belajar jurus tata krama indah :
jangan mudah meludah
atau menyerapah

"Jika ada yang senang membuat orang lain susah,
membuat oranng lain marah, maka mengalahlah,
bersabarlah, hingga cuaca kembali cerah,"
kata anjuran yang sulit disanggah

"Mudah meludah dan menyerapah
sungguh, rendah. Lebih depan
sampah daripada manah," tambah
petuah yang tak gampang dibantah.

"Coba, pada siapa kau meludah--
selalukah si pukimak atau bedebah?
Bagi apa kau menyerapah --
sungguhkah peristiwa yang berdarah?"

: membuat embun suka berkerumun
di daun telinga itu, parkit mencangkung
pada pita suara itu. Wahai, sepasang bibirku,
bisakah aku menuruti ajaran yang guru?

Kemudian, beginilah :
kadang aku hanya aku yang gegap tapi
berserah, rindu tapi gelisah, diam tapi gairah,
kadang aku hanya aku yang ejawantah.
2017


Arwinto Syamsunu Ajie, lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 3 Maret. Buku puisinya yang sudah terbit adalah Tubuh Penuh Catatan (2012).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arwinto Syamsunu
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu 5 Februari 2017


0 Response to "Kepada Penyair - Pendongeng Tua - Peladang - Jam Tangan - Lidah"