Kotak Amal | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kotak Amal Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:23 Rating: 4,5

Kotak Amal

LEPAS  salat Jumat, seluruh jamaah Masjid At Tayyibin berkumpul untuk membuka kotak amal bersama-sama. Warga Dusun Tanjung Raya memiliki kebiasaan rutin di setiap Jumat di penghujung bulan. Para kaum lelaki yang hadir di majelis akan membuka dan menghitung uang di kotak amal untuk kemudian digunakan bagi keperluan merawat masjid satu-satunya di dusun mereka.

NAMUN pada Jumat kali ini, smeua yang hadir terpana manakala dibuka ternyata kotak itu sudah kosong. Sungguh, seperti dirajam duri hati Wak Sobari, bagaimana tidak, semua mata tertuju padanya, seolah ia adalah biang musabab dari raibnya seluruh uang amanat umat.

Selama ini, tidak pernah ada yang berani mencuri uang di kotak amal itu. Uang yang rutin diisi jemaah itu selalu terkunci dengan aman. Tadinya uang itu akan digunakan untuk membayar tagihan listrik, membeli sajadah baru, dan seperangkat alat pengeras suara yang sudah lama rusa. Namun tampaknya rencana itu akan batal, sebab uang di kotak berbahan kayu jati itu sudah raib entah kemana.

Perasaan Wak Sobari gelisah. Dari ucapan-ucapan yang berdesing di telinganya warga sepakat, uang itu lenyap akibat dirinya yang lalai menjaga masjid hingga pencuri bisa leluasa mencurinya. Bahkan, Haji Badrun, terang-terangan mengatakan dirinya tidak becus menjadi marbot. Hati wak Sobari teriris-iris. Padahal, ia sudah menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.

Rasa-rasanya tak ada cacat cela pada tugas Wak Sobari selama ini. Setiap hari ia menyapu lantai, melipat sajadah dan setiap tiga hari sekali, ia menjemur sajadah-sajadah itu diterik matahari agar tidak berdebu. Ia tidak ingin jamaah tak nyaman beribada jika kondisi masjid tidak bersih. Lelaki yang sudah senja itu juga tidak pernah alpa mengisi bak tempat berwudhu. Ia juga memukul bedug setiap waktu salat tiba. Semua itu dilakukannya tanpa pamrih dan imbalan--meski ia tidak menampik jika ada beberapa jemaah bersimpati dan memberinya uang sedekah.

Ia meyakini sedekah tersebut adalah rezekki dari Rabb-nya, halal, dan tidak membuat rugi masjid yang dijaganya. Bahkan, seringkali, apabila uang yang diterimanya berlebih, ia memasukkannya sebagian secara diam-diam ke kotak amal. Maka dari itu, Wak Sobari sedikit kecewa jika warga menuduhnya. Mereka bahkan tak memandang barang sedikit pun pekerjaannya mengurus masjid seorang diri. Wak Sobari bukan bermaksud mengungkit yang telah ia lakukan, tapi sebagai manusia, hati siapa yang tak luka jika dihina?

Sebenarnya, Wak Sobari tidak pernah membayangkan hidupnya akan menua menjadi marbot. Namun nasib kurang mujur menggiringnya melakoni tugas itu. Sebelum menjadi marbot, ia menggarap sebidang tanah milik Haji Hasyim, tapi ketika Haji Hasyim meninggal dunia, anak tertuanya meminta tanah itu kembali. Wak Sobari tidak bisa menolaknya, karena tanah tersebut memang bukan miliknya. Namun yang bisa ia berikan hanyalah sebagian dari luas tanah yang dulu diberikan Haji Hasyim, setengah lagi dari tanah tersebut telah ia jual untuk biaya pengobatan Nurhayah--istri yang tidak bisa memberinya seorang anak, namun sangat dicintainya.

Betapa berat hati Wak Sobari melepas seribu kenangan yang melekat pada tiap jengkal tanah yang sudah menjadi kebun itu. Jasad Nurhayah pun terkubur di sana. Namun, Wak Sobari tak punya pilihan. Tanah dan kebun itu memang bukan miliknya. Mendapati tanah itu sudah terjual sebagian, anak tertua Haji Hasyim marah besar. Ia merasa tanah warisan orangtuanya dijual tanpa izin, padahal Wak Sobari menjual tanah tersebut atas izin Haji Hasyim ketika orangtua berhati malaikat itu masih hidup.

Hidup sebatangkara, tak punya tempat tinggal, akhirnya mengantar Wak Sobari ke pintu masjid At Toyyibin. Hanya di tempat itu ia bisa menumpang tanpa perlu membayar dan menyusahkan sanak kerabatnya. Wak Sobari setuju saja ketika jemaah menunjuknya menjadi marbot menggantikan marbot lama yang meninggal karena sakit. Tidak terasa sudah hampir lima belas tahun ia menjalankan tugas itu tanpa kendala. HIngga tak tahu entah mengapa tiba-tiba saja ada kejadian seperti ini.

Berpuluh pasang mata jemaah menghakimi Wak Sobari. Tentu saja tatapan mata itu membuat ciut hatinya. Ia tak mungkin membela diri, meskipun sedikit banyak semua itu terjadi bukan salahnya, tetapi lelaki bertubuh kering itu memilih untuk diam saja. Kasak-kusuk merebak di dalam masjid, menghasilkan gumam yang bergema di didingnya.

Uang di kotak Jumat itu amanah yang mestinya dijaga, tak seharusnya Wak Sobari ceroboh meletakkannya, begitu gerutu warga menyudutkan Wak Sobari. Namun, Wak Sobari meletakkan kepercayaan penuh pada siapapun yang bertandang ke masjid. Masjid adalah rumah Allah yang suci, tak mungkin ada yang berniat keji, demikian kepolosan hati Wak Sobari.

"Ini musibah. Kita tidak menghendaki hal ini terjadi, tapi kita juga tidak bisa menimpakan kesalahan pada Wak Sobari," kata Ustadz Himawan.

"Tapi dia yang jadi marbot masjid ini, tentu hanya dia yang tahu ke mana uang itu," ucap Haji Badrun. Perkataan lelaki gemuk berpeci putih ini serentak disetujui jamaah.

Merah muka Wak Sobari karena malu. "Anggaplah ini kelalaianku. Tapi aku bersumpah demi Allah, aku tak mengambil uang itu."

Haji Badrun terkekeh. "Mana ada maling yang mau mengaku. Kotak itu selalu dekat denganmu, tentu saja tidak ada orang lain yang bisa mengambilnya kecuali dirimu."

Perkataan tajam itu disambut tawa jemaah. Wak Sobari menunduk masygul. Ia tak mau berdebat. Biarlah Allah yang menjadi saksinya, demikian bisik hati Wak Sobari. Diamnya lelaki tua itu, membuat kasak-kusuk berisi sindiran menusuk hati belesatan kembali.

"Sudahlah. Kita tak memiliki bukti bahwa pelakunya Wak Sobari. Dalam agama, kita dianjurkan bertabayyun sebelum menjatuhkan tuduhan pada seseorang," ujar Ustadz Hikmawan menenangkan keriuhan.

"Kalau begitu, geledah saja kantung bajunya atau bilik tidurnya," celetik seseorang dari belakang kerumunan.

Ustadz Hikmawan mengucap istigfar, "Saya rasa itu tak perlu..." katanya dengan pandangan haru pada Wak Sobari. Imam muda masjid itu tak sampai hati melihat lelaki tua di sampingnya dihakimi sedemikian rupa.

"Tidak, Ustadz. Lakukan saja permintaan mereka. Aku ikhlas jika itu adalah cara untuk membuktikannya," terdengar lirih jawaban Wak Sobari. Lelaki renta itu merogoh sakunya dengan tangan gemetar, lalu mengeluarkan semua isinya. "Hanya ini," ucapnya sambil menunjukkan seuntai tasbih.

"Biliknya belum kita periksa!" seru salah satu warga.

"Ini sudah keterlaluan," kata Ustadz Hikmawan geram. Ia hendak bangkit dan membentak, namun urung sebab lengannya keburu deicekal.

"Lakukan saja," ucap Wak Sobari. "Untuk menemukan kebenaran, hal itu memang perlu dilakukan."

Seperti mendapat angin, beberapa lelaki menuju bilik Wak Sobari yang terletak di dekat bedug. Mereka membongkar barang-barang miliknya hingga acak-acakan.

"Apakah kalian menemukan sesuatu?" tanya Ustadz Hikmawan. Orang-orang yang tadi memeriksa bilik Wak Sobari menggeleng.

"Meski bukan dia pelakunya, tapi hilangnya uang itu akibat kelalaiannya. Saya meminta Wak Sobari diganti saja. Dia sudah tua, tidak layak mengurus masjid sebesar ini." Haji Badrun kembali bersuara.

"Iya setuju! Setuju!" sahut beberapa orang di belakangnya.

Wak Sobari merasakan jantung tuanya berdebur keras. Nasibnya sebagai marbot masjid telah ditentukan. Wak Sobari memilih pasrah pada keputusan mereka.

Ustadz Hikmawan mendesah. Lelaki itu diam sejenak. Seolah ada sebongkah batu mengganjal tenggorokannya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Warga telah sepakat. Ustadz Hikmawan menatap wajah renta Wak Sobari dengan hati diliput harui. Ia merasa lelaki tua itu tidak pantas diperlakukan seperti manusia tercela.

"Allah sedang mengujimu, Wak. Bersabarlah," bisik Ustadz Hikmawan.

"Kau bisa tinggal di rumahku. Kebetulan aku tinggal seorang diri, aku akan senang jika Wak Sobari mau."

Wak Sobari tersenyum getir, "Terima kasih. Aku masih punya saudara di kampung tetangga. Aku akan tinggal di sana saja," tolak Wak Sobari halus.

"Ya sudah kalau begitu. Kalau Wak Sobari butuh apa-apa, temui saja aku. Insya Allah pintu rumahku selalu terbuka."

Lelaki tua itu mengangguk, "Terima kasih."

"Satu lagi, wak," ucap Ustadz Hikmawan seraya menggeser duduknya agar lebih dekat pada Wak Sobari. "Aku merasa Wak menyembunyikan sesuatu. Aku tidak percaya Wak tak tahu ke mana raibnya uang itu. Wak pasti tahu siapa pelakunya, tapi Wak sengaja menutupinya."

Lisah Wak Sobari kelu. Ia tiba-tiba teringat kejadian sore kemarin, ketika hujan turun begitu deras, seseorang menyelinap ke dalam masjid. Dari balik pintu biliknya, Wak Sobari melihat Haji Badrun mengambil kucni kotak amal yang ia letakkan di atas mimbar. Lelaki yang selalu berpeci putih itu kemudian membuka kotak dan memasukkan sesuatu ke saku baju. Wak Sobari yakin, Haji Badrun-lah yang mencuri uang itu. Lelaki itu masih menaruh sakit hati padanya. Namun Wak Sobari tak bisa mengatakannya, lelaki tua itu terbayang wajah mendiang Haji Hasyim, ayahanda Haji Badrun yang begitu dihormatinya.***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adam Yudhistira
2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi Minggu 12 Februari 2017




0 Response to "Kotak Amal"