Kulit Iman - Menunggu Pagi - Di Pidie Setelah Subuh Dikumandangkan - Rubayat Tahajud | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Kulit Iman - Menunggu Pagi - Di Pidie Setelah Subuh Dikumandangkan - Rubayat Tahajud Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:34 Rating: 4,5

Kulit Iman - Menunggu Pagi - Di Pidie Setelah Subuh Dikumandangkan - Rubayat Tahajud

Kulit Iman

di tanah yang telah ditanami sebuah tiang bendera
di atasnya merah putih berkibar
atas nama apakah kita mengibarkannya?

di tanah yang juga peninggalan nenek moyang
di atasnya masjid dan gereka dibangun untuk tempat
menyembah dan beribadah
atas nama apakah kita membangunnya?

di tanah yang juga ada hak milik pengusaha dan pemerintah
di atasnya gubuk reot dan bangunan kumuh tempat orang-
orang pinggiran mengais rupiah
atas nama apakah kalian membongkarnya?

di tanah yang juga jauh dari ramai kota metropolitan
ada sekolah dan sarana yang setiap hari kebanjiran tengge-
lam sampai dada
atas nama apakah kita diam hanya melihat dari berita tele-
visi?

di tanah yang katanya juga tempat terakhir
dininabobokan
ada para malaikat menunggu sebuah kedatangan
atas nama apakah kau akan melawan jari jemarimu bersaksi
sendiri?

di tanah yang telah tumbuh sebuah kedalaman
yang lahir lebih dulu sebelum kebatilan
ada seorang musafir yang membacakan sebuah khotbah
tentang nasibnya
lalu atas nama apaka kalian mengubahnya menjadi
pertumpahan darah
dan saksi atas duka matamu sendiri?

di tanah yang bau akan sebuah kemerdekaan
telah lahir anak-anak dengan nama bangsa dan agama di
tangannya
atas kelakuan siapakah mereka menjadi kelaparan dan sakit
sebab gizi menjauh dari kehidupan mereka?

Menunggu Pagi

Aangin di jendela, musim terlambat datang
setengah dari kisah mengambang di memori
jam berputar mengejar bayang-bayang hari
malam merambati kata yang terpasung di dada
mendebarkan usia puisi yang tergeletak tak bisa kutulis lan-
jutkan

ada kalimat panjang dan koma
ada titik mengarahkan berhenti sejenak
tinta pena masih penuh, jangan berhenti.

dingin rasanya di luar, di dalam hanya detak jam dan siuman
buku di rak kamar
aku membaca, puntung rokok semakin berserakan di terpa
angin
malam ini puisi harus tetap aku tulis sebelum matahari belajar
mengaji pada kumandang subuh

aku ingin berlari sejengkal dari masa sulit
menjenguk kata yang dirindukan puisi dan tubuhku
segelas susu di meja adalah rasa dahaga
buatan perempuan yang aku nikahi sebab restu ayah dan
puisinya

ternyata pagi masih lama sayang
aku telah berdoa sepanjang ela napas
mimpi menetas dari lubang tidurku
beranak waktu yang cepat berlalu dan bertemu
hingga pesta kangen berganti kelamin menjadi rindu
yang tak cukup hanya satu pelukan dan ciuman
namun menyentuh sesuatu hingga pagi pukul sepuluh

Di Pidie Setelah Subuh Dikumandangkan 

hanya lebam mimpi belum usai
roh tak kembali dari perjalanan, tersesat
teriakan, tangisan, suara ternak pun tak terdengar dari be
lakang gubuk tua itu

desember pidie menjelma sebagai penanda ucapan selamat
tinggal untuk sanak saudara
arah jam di titik 05.03.06 waktu telah menjadi takdir
tepat di tenggara sigli juga utara meureudu
airmata menetes berkali, bumi pertiwi menampung ribuan
mata airmata
ya, airmata

seperti apa tanahmu sekarang pidie?
anyaman bambu, gedung bertingkat, mal juga perkantoran
telah menutup usia lebih awal dari kata-kata
dan kata terakhir dari doamu telah pulang membawa kisah
kisah anak-anak yang melukis kotamu menjadi surga tanpa
nama

di sebuah masjid di samalanga, bireuen
aku membaca sebuah tanda kuasamu
tiada lagi kumandang itu, yang setiap waktu membangunkan
mata untuk kembali membuka doa-doa

hanya lebam puisi dan luka yang bisa aku tulis sebelum se-
muanya tiada
sebab sehabis tanahmu pilu berdarah duka
aku tetap di sini dengan tajam asma-asmanya

Rubayat Tahajud

sepertinya malamnya adalah waktu # di mana sepi sunyi doa
mengadu
putaran tasbih bukan sekali # tetap berkali bersama barzanji
di bawah doa ada tawadu # di atas doa ada madu
sebab manis hidup terasa ada # waktu segenggam dosa
berbeda

seperempat malam ada akhir # penutupan doa mengalir
biarkan langit putih tembaga # mengejar subuh pagi duha
kita bukan hanya hamba nista # merasa tak pantas ada di
surga
lebih baik ada di neraka # yang membakar badan dosa-dosa


Kurliyadi. Jalan Pemuda Raya RT 003 RW 005 No 77 Kelurahan Kranji Bekasi Barat

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kurliyadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 12 Februari 2017

0 Response to "Kulit Iman - Menunggu Pagi - Di Pidie Setelah Subuh Dikumandangkan - Rubayat Tahajud"