Ledhek dari Blora 05 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ledhek dari Blora 05 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:57 Rating: 4,5

Ledhek dari Blora 05

AKU tersenyum. Karena seumur-umur baru kali ini opname di rumah sakit. Pasien dimandikan perawat memang bukan hal yang istimewa. Aku hanya pernah dengar cerita dari teman-teman yang pernah opname. Konon rasanya sangat sensasional. Andaikata mereka sedang tidak sakit, mungkin lebih sensasional lagi. Kalau tidak sakit mana mungkin perawat itu mau memandikan mereka.

Perawat itu akhirnya keluar kamar karena aku hanya etrsenyum dan tidka menjawab pertanyaannya.

Rupanya ada orang yang ingin mencederai diriku. Tidak bermaksud membunuh. Kalau itu yang diinginkan dengan mudah orang itu membuat nyawaku melayang. Tinggal kepalaku dikepruk pakai batang kayu atau batu besar hal itu sudah bisa mengantarku ke akhirat. Jika ingin melampiaskan dendam dan memuaskan nafsu amarahnya bisa juga orang itu menusukkan benda tajam tepat ke ulu hatiku. Dalam hitungan menit nyawaku pun melayang. Kalau ingin dramatis dan jadi berita  di koran-koran bisa saja dia malah memenggal kepalaku.

"Selamat siang saudara Sam," sapa seseorang dengan nada suara tegas dan monoton.

"Tidak begitu parah?" tanyanya.

"Ya beginilah," jawabku.

"Tidak pusing?"

Aku menggeleng.

"Kalau begitu boleh kami mengajukan beberapa pertanyaan?"

"Silakan," jawabku.

"Maaf, kami harus membuat laporan atas peristiwa yang menimpa Saudara. Kami ingin Saudara menceritakan kronologis dari awal sampai Saudara mendapat musibah. Sekali lagi maaf, kami hanya menjalankan tugas selaku pelayan dan pengayom masyarakat."

AKu lirik pangkat polisi itu. Sudah lumayan. Ajun Komisaris Polisi. Mungkin jabatannya sudah Kanit atau Kepala Unit.

"Sore itu aku hanya bermaksud putar-putar saja, sekadar nostalgia naik motor ke randublatung. Dulu ada teman di sana. Tapi ternyata sudah pindah. Nah dalam perjalanan kembali ke hotel aku salah mengambil jalan. Mesti belok kanan dan ketemu jalan raya arah Jepon. Namun yang kuambil justru belok kiri. Ternyata jalan itu melewati pinggir hutan jati."

"Saudara tidak sedang melakukan semacam investigasi?" tanya polisi penuh selidik. Pertanyaan standar untuk mengorek keterangan dari seseorang.

Aku menggeleng.

"Di kartu nama Saudara tertera alamat sebuah penerbitan?"

"Aku hanya sering nongkrong di kantor itu dan ngobrol bersama teman-teman wartawan."

"Jadi profesi Saudara yang sebenarnya itu apa?"

"Penulis free lance."

"Maksud Saudara? Baru pertama kali ini kami mendengar profesi semacam itu."

"Yang perlu Bapak ketahui, aku hidup dari menulis. Menulis apa saja. Ya features, artikel, opini, karya fiksi, kadang menjadi ghost writer. Semua halal."

"Ghost writer. Apa itu?"

"jadi penulis biografi seseorang namun nama penulisnya tidak dicantumkan. Yang tertera di buku ya nama orang tersebut. Seolah-olah dia menulis sendiri biografinya. Sekali waktu menuliskan novel atas nama orang yang membayar. Juga opini di koran, membuatkan sambutan tokoh-tokoh masyarakat. Begitulah kerja seorang ghost writer," paparku. Polisi itu langsung merekam lewat tablet di tangannya.

"Kembali pada kisah Saudara. Setelah melewati jalan di pinggir hutan jati, apa yang Saudara temui di jalan?"

"Jalan rusak parah. Niatku mau berbalik arah. Namun belum sempat berbalik keburu tiga orang begal menghadangku. Mereka tidak bicara apa-apa langsung memukul kepalaku dengan batang kayu. Begitu aku terjungkal, ada yang langsung menendang dan memukul. Akhirnya aku tidak sadarkan diri dan tahu-tahu sudah terbaring di kamar ini."

"Barang-barang berharga apa saja yang hilang?"

"Dia buah handphone, kartu ATM, dan mungkin uang senilau tiga ratus ribu. KTP dan STNK masih ada di dalam dompet. Apakah Bapak yang menyelamatkan?" tanyaku pura-pura.

"Anggota kami yang menyelamatkan," jawab polisi itu diplomatis. "Jadi hanya itu barang milik Saudara yang hilang?"

"Ya."

"Kami beritahu untuk Saudara, mudah-mudahan bermanfaat. Ada dua hal yang sangat sensitif di Kabupaten Blora ini. Pertama, tentang pencurian kayu jati. Kedua, pencurian minyak mentah. Jangan sekali-kali melakukan investigasi soal itu jika Saudara belum tahu lika-likunya. Sebulan yang lalu ada wartawan daerah yang dibunuh. Mayatnya diterlantarkan di tengah hutan jati. Baru seminggu kemudian mayatnya kami temukan. Sekujur tubuhnya penuh luka bacok senjata tajam."

"Ohhh...."  (bersambung)-c


Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Budi Sardjono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 19 Februari 2017

0 Response to "Ledhek dari Blora 05"