Ledhek dari Blora 06 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ledhek dari Blora 06 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:18 Rating: 4,5

Ledhek dari Blora 06

"DIA koresponden koran besar yang terbit di Surabaya. Memang oleh kantor pusat ia diberi tugas untuk emlakukan investigasi kebakaran hutan jati di Sektor XII. Sebab diduga hutan itu sengaja dibakar oleh oknum-oknum tertentu setelah isinya habis dijarah. Tiga bulan yang lalu juga ada wartawan yang meninggal dan mayatnya kami temukan tak jauh dari sumur pengeboran minyak."

"Ya, ya," kataku mengangguk-angguk.

"Jadi sekali lagi saya ingatkan kepada Saudara dan teman-teman wartawan lain, jika mau melakukan investigasi di Blora lapor dulu kepada kami. Nanti jika perlu kami beri pengawalan secukupnya."

Aku tersenyum dalam hati. Itu bukan investigasi namanya, Pak Polisi! Tapi anjangsana. Investigasi itu kami lakukan secara diam-diam. Kalau perlu semut dan nyamuk pun tidak tahu jika kami sedang melakukan investigasi.

"Kami kira sudah cukup. Kalau ada hal-hal yang belum Saudara ungkapkan, bisa teelpon saya sewaktu-waktu," kata polisi itu sambil menyodorkan kartu nama.

"Itu sudah menjadi tugas kami selaku pelayan dan pengayom masyarakat. Selamat siang Saudara Sam. Semoga lekas sembuh!"

Polisi itu mengulur tangan. Kami lalu berjabat tangan. Sekilas aku menangkap sorot matanya dan percaya bahwa dia etrmasuk polisi jujur dan bisa dipercaya.

***
TIGA kali tubuhku dibersihkan dengan washlap oleh Nirmala Jati. Memang sensasional. Karena begitu washlap menyenggol bagian yang luka dan belum mengering perihnya minta ampun. Beberapa kali aku meringis kesakitan. Tapi justru itu dipakai pintu masuk Nirmala untuk mengajak bercanda.

"Kok meringis? Keenakan ya?" candanya.

"Enak-enak perih," jawabku sambil meringis. Mungkin dia memang sengaja menyentuh bagian tubuh yang terluka agar aku meringis-ringis.

"Menurut dokter dua hari lagi Mas Sam sudah boleh pulang," kata Nirmala.

Sore itu aku sengaja jalan-jalan di selasar rumah sakit dan berhenti di ruang raja perawat. Hanya ada Nirmala. Dua temannya sedang melayani pasien mengganti botol infus.

"Ya, ya. Aku juga lagi menunggu transferan uang dari Jakarta. Kira-kira habis berapa untuk biasa rawat inap, jasa dokter dan obat-obatan?"

"Saya tidak tahu persis Mas. Yang tahu bagian keuangan. Nanti menunggu laporan dari bagian perawatan dan medis. Terus mau pulang ke Jakarta?"

Aku menggeleng.

"Lalu?"

"Masih beberapa hari lagi di Blora."

"Oh. Ada urusan yang belum diselesaikan?"

Aku mengangguk.

"Nirmala asli Blora?"

"Ya. Kakek moyangku asli Blora. hahaha... Kenapa Mas?"

"Kalau begitu pernah dengar nama Sriyati? Ledhek terkenal kira-kira empat puluh tahun yang lalu."

"Emm... saya belum lahir. Mungkin seangkatan dengan nenek saya."

"Nenekmu juga seorang ledhek?"

Perawat itu mengangguk.

"Siapa namanya?" tanyaku.

Tiba-tiba telepon kamar jaga perawat berdering. Nirmala langsung mengangkat. "Ya, ya, sebentar nggih Bu, saya akan segera datang," katanya menjawab telepon dari seberang.

"Seorang pasien minta disuapi. Dia jarang dibezuk keluarganya. Nanti kita sambung lagi ya Mas?" berkata begitu ia langsung ebrdiri dan berjalan cepat menuju bangsal rawat inap khusus wanita. Kembali ke kamar aku ingat kata-kata polisi. Masalah sensitif di Blora hanya dua, yakni kayu jati dan minyak mentah. Hasil hutan dan tambang minyak itu sebenarnya sudah bisa membuat rakyat Blora makmur sejak dulu. Tapi kenyataannya jauh panggang dari api. Pada zaman dulu untuk bisa makan ada rakyat kecil yang terpaksa mencuri-curi kayu jati. Mereka benar-benar kepepet. Namun dalam perkembangan kemudian mereka justru dimanfaatkan oknum-oknum yang rakus. Mencuri tidak sekadar untuk bisa makan, namun karena diwajibkan harus setor sejumlah uang kepada oknum-oknum tersebut.

Seiring perkembangan zaman kasus-kasus pencurian pun dilakukan dengan lihai. Meski begitu dengan mata telanjang orang mudah mengenali. Modus yang sering digunakan sebenarnya sangat vulgar. Andaikata aparat punya niat membasmi mereka, hal itu mudah dilakukan. Modusnya babat dulu isi hutan di bagian tengah. Tidak lama kemudian sisa-sisa pohon yang ada lalu dibakar. Laporan kepada pimpinan dengan mudah dilakukan. Sekian pohon habis terbakar!

Begitu juga untuk kasus-kasus pencurian minyak mentah. Modusnya mudah dilacak. Tapi karena rapatnya barisan yang tutup mulut, maka kasus-kasus pencurian minyak itu jarang terungkap. Layak kalau sampai ada wartawan yang dibunuh karena berusaha mengungkap jaringan pencurian minyak itu. Sekali terungkap dan diberitakan media massa, rezeki mereka bisa morat-marit.

Hmm. Dengan mudah ditengarai bahwa di tanah kelahiran Samin Surosentiko itu ada dua mafia. Mafia kayu jati dan mafia minyak mentah.  (bersambung)-c


Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Budi Sardjono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 26 Februari 2017

0 Response to "Ledhek dari Blora 06"