Ledhek dari Blora 03 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ledhek dari Blora 03 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:42 Rating: 4,5

Ledhek dari Blora 03

KARSO masih sempat mengedipkan matany aketika akan masuk ke dalam. Sementara aku langsung menuju warung dan pesan wedang jahe.

Hmmm. ’Kampung perkutut‘. Kenangan yang unik. Mungkin tiada duanya. Semua itu masih kuingat jelas. Ketika tiba-tiba gerimis turun, aku segera meninggalkan Kali Lusi. Dari hulu sana terdengar suara petir menggelegar, disusul kilat seperti membelah langit di atas Blora. 

”Hotel Puspa Warna!“ pintaku kepada tukang becak yang sudah menunggu di tepi jalan.

***
BLORA sejak dulu bukan hanya dikenal sebagai kota penghasil kayu jati terbaik di Pulau Jawa, juga pernah menyandang predikat sebagai Kota Ledhek di provinsi Jawa Tengah. Di Kecamatan Jepon, dulu, hampir tiap malam ada pertunjukan tayub. Semalam bisa dua sampai empat tempat pertunjukan. Masing-masing grup sudah punya penggemar. Biasanya mereka juga punya ledhek idola. 

Beberapa kali nama Jepon muncul di cerpen-cerpen berseting Blora karya sastrawan besar kelahiran kota ini. Dulu pertunjukan tayub bisa menjadi ajang pamer para pedagang kayu jati. Karena lewat pertunjukan itu dia bisa mempertemukan orang-orang yang sangat ’berkepentingan‘ dengan hutan jati. Meski dalam kehidupan sehari-hari mereka seolah-olah saling bermusuhan, namun dalam pertunjukan tayub itu mereka bisa bersama-sama menikmati ciu Bengkonang yang mereka pesan langsung dari pembuatnya di Sukoharjo. 

Tidak sulit membedakan status para pengibing itu. Yang mendapat sampur paling awal biasanya tuan rumah, disusul orang-orang yang mereka hormati. Mereka yang dikenal sebagai benggol maling dan anggotanya biasanya mendapat giliran paling akhir. hampir semua yang hadir sudah kena pengaruh minuman berkadar alkohol tinggi itu. makin malam makin banyak yang mabuk, bahkan sampai ada yang jatuh menggelosor begitu saja di tanah. Orang-orang bukannya menolong, justru menertawakan ramai-ramai.

Malam itu setelah dari Dusun Tingkul aku terus ke Randublatung. Orang yang kucari, Sersan Mayor Purnawirawan Darpo Yatno, sudah pindah ke sana tiga tahun lalu. Menurut tetangga yang kutanya, Darpo pindah ke sana tiga tahun lalu. Menurut tetangga yang kutanya, Darpo memang beberapa kali pindah tempat tinggal. Orang itu seperti dikejar rasa takut. Berusaha menyembunyikan identitasnya. Ia sering mengaku bukan purnawirawan TNI, tapi pensiunan tata usaha sebuah sekolah.

Orang-orang seperti Darpo ada di mana-mana. Merasa bersalah terhadap sejarah masa lalu, merasa dicari-cari orang yang tidak dikenal dan mengaku diancam, bahkan ada yang sampai bunuh diri!

Setelah bertanya puluhan kali, akhirnya tempat tinggal Darpo kutemukan. Laki-laki itu tunggal di Dusun Ledok Abang, wilayah pinggiran Kecamatan Randublatung. Dari seseorang yang tidak mau disebut namanya aku mendapat informasi kalau Darpo setahun yang lalu kena serangan stroke. Tapi sekarang sudah hampir pulih. Meski tidak bisa seperti dulu lagi, kalau berjalan kaki kanan diseret, namun ia sudah bisa bicara agak lancar. 

Hati-hati sekali ketika aku mengetuk pintu rumahnya. Rumah tembok yang belum diplester. Pintunya besar dan lebar terbuat dari kayu jati.

”Sampeyan siapa?“ tanya seorang lelaki kekar ketika membukakan pintu.

Aku menyebut nama komplit dan memberikan selembar kartu nama. 

”Dari pers?“ tanya lelaki itu.

”Bukan. Hanya penulis free lance saja,” kilahku.

”Ini ada alamat penerbitkan di Jakarta?”

”Hanya sekadar numpang alamat saja. maklum di Jakarta tinggal di tengah perkampungan kumuh dan padat penduduk. Malu aku menyebut namanya,“ kilahku lagi.

”Mau apa mencari Pak Darpo?“

”Ya sekadar ingin bertemu saja. Jika beliau berkenan, ada beberapa pertanyaan yang ingin kuajukan.“
”Pertanyaan apa? Tentang partai politik, keamanan, atau masalah kedinasan Bapak dulu?“

Aku menata napas. Tidak ada tawaran untuk masuk dan duduk di kursi.

”Jika tidak penting, silakan kembali saja!“ kata orang itu dengan nada ketus.

”Ini penting!” sahutku.

”Pertanyaan tentang apa?”

”Tentang seorang ledhek yang dulu sangat terkenal namanya, tidak hanya di Jepon, juga di Blora. Juga kelompoknya. Nama ledhek itu Sriyati. Dia anggota tayub Jati Budaya pimpinan Pak Juwahir.“
”Bapak tidak tahu!“ tukas orang itu.

”Bukankah Pak Darpo dulu pernah bertugas di Jepon?”

”Itu sudah lama. Bapak pasti sudah lupa!“

”Emmm… siapa tahu Pak Darpo masih ingat.  (bersambung)-c


Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Budi Sardjono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 5 Februari 2017

0 Response to "Ledhek dari Blora 03"