Ledhek dari Blora 04 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Ledhek dari Blora 04 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:32 Rating: 4,5

Ledhek dari Blora 04

LAKI-LAKI itu menggeleng. Ia mencopot jaketnya lalu melempar ke kursi. Kedua tangannya dipenuhi tato. 

”Silakan Sampeyan pulang saja. Jangan ganggu Bapak dengan hal-hal yang ingin ia lupakan. Bapak sudah tua, akhir-akhir ini sudah sakit-sakitan.“

”Bagaimana kalau besok pagi aku ketemu beliau? Hanya satu pertanyaan yang ingin kuajukan.“
”Tentang Sriyati.”

”Ya.”

Laki-laki itu menghela napas. ”Saya tidak bisa memberi jawaban apakah besok Bapak mau menemui Sampeyan. Sekarang silakang pulang!” katanya ketus.

”Besok pagi boleh kemari?”

Laki-laki itu tidak menjawab. Ia langsung menutup pintu!

Aku mencium gelagat tidak mengenakkan. Penolakkan! Jadi benar dugaanku bahwa Darpo pasti tahu banyak tentang Sriyati. Mungkin juga ledhek-ledhek lain yang mengalami perlakukan ketika negeri ini dihantam huru-hara politik. Mereka tidak tahu apa-apa tetapi telah jadi korban karena kobaran rasa amarah dan curiga yang berlebihan. Mungkin saja memang ada yang salah. Meski belum pernah dibuktikan di ruang sidang pengadilan.

Pelan-pelan motor kupacu dalam kecepatan tidak lebih dari 30 km/jam. Kutinggalkan Randublatung pada saat gerimis mulai turun. Aku harus hati-hati karena jalan berlobang di sana-sini. Dulu pernah diaspal, tapi sekarang sudah rusak parah. Karena tiap hari dilewati truk-truk pengangkut kayu jati.

Dari kaca spion aku bisa melihat bahwa jauh di belakang ada mobil ukuran besar. Mungkin truk atau minibus. Hal itu tampak dari nyala lampunya. Ketika mobil itu bukannya melaju di tengah jalan, justru ikut melaju di pinggir. Secara reflek aku menarik gas agar laju motor semakin cepat. Mobil itu sengaja mengejarku. 

Dugaanku benar. Aku tidak hapal medan. Beberapa kali hampir jatuh karena roda motor terperosok ke lobang yang agak dalam. Mobil itu terus mengejarku. Sopirnya mungkin sengaja ingin menabrakku dari belakang. 

”Tuhan, di mana Engkau? Lindungi dong!“ doaku singkat.

Mobil itu tiba-tiba berada di kananku. Ketika kulirik ternyata minibus. Kaca jendela sengaja tidak ditutup. Kembali aku menarik gas. Namun malang, di depanku ternyata jalan makin rusak. Aku keliru mengambil jalan pulang. Karena waktu berangkat jalannya tidak separah ini.

”Mampus kamu!“ teriak suara dari dalam minibus.

Kepalaku seperti dihantan potongan kayu ukuran besar. Helm yang kukenakan mungkin pecah. Laju motor tidak bisa kukendalikan. Aku jatuh tersungkur. Kepalaku menatap tumpukan kayu di tepi jalan. Segalanya jadi gelap.

***
Plantungan, Kendal

KETIKA membuka mata aku sudah terbaring di ranjang rumah sakit. Kepalaku masih terasa pusing. Ada perban di dekat ubun-ubun. Pipi kanan memar. Lutut kaki kiri juga memar. Untung tidak retak. 
Aku mulai menata napas dan memulihkan kesadaran mengontrol seluruh aktivitas organ-organ tubuh. Ini salah satu cara mengurangi rasa sakit. Pengendalian pernapasan. Konsentrasi pada pikiran. Hanya butuh waktu sekitar tiga menit, akhirnya aku bisa menguasai situasi dan kondisi tubuh. Setiap rasa sakit kucari sumbernya, lalu pelan-pelan kurasakan sehingga rasa sakit itu memuncak sampai ubun-ubun. Hanya dalam hitungan detik rasa sakit mulai berkurang.

”Maaf, Mas Sam terasa mau muntah?“ tanya seorang perawat. Wajahnya cukup manis. Kulitnya agak kehitaman tapi bersih.

Mas Sam? Dari mana dia tahu namaku?

”Tidak muntah tadi?“ ulang perawat itu. Namanya Nirmala Jati. Bisa kubaca dari nama yang ada di dadanya yang tidak begitu besar itu.

Aku menggeleng.

”Hanya luka lecet-lecet di kaki dan tangan, juga di bagian kepala. Jatuh dari motor?“

”Ya, Suster,“ jawabku.

”Tapi pesan dokter, Mas Sam belum boleh duduk. Harus terbaring dulu.“

”Tidak boleh ke toilet?“

Perawat itu menggeleng.

”Kalau aku mau pipis dan buang air besar?“

”Di sini saja. Nanti tinggal pencet bel ini akan ada perawat yang membantu.“

”Akh!” keluhku.

Nirmala Jati terus membuat catatan. Nama yang indah. Nirmala artinya intan, dan jati kayu terbaik. Mungkin maksud orangtuanya jati mutiara. Jati pilihan.

”Di luar kamar ada dua polisi yang berjaga. Nanti akan ada yang mau bertanya kepada Mas Sam,“ kata perawat itu. Ia mengangguk dan mau beranjak pergi.

”Aku tidak boleh mandi, Suster?“ tanyaku mengurungkan niatnya.

”Nanti kami yang memandikan.“

”Suster?“

”Ya. Kenapa?“   (bersambung)-c


Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Budi Sardjono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 12 Februari 2017

0 Response to "Ledhek dari Blora 04"