Madubun dan Cerita Kematiannya | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Madubun dan Cerita Kematiannya Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:36 Rating: 4,5

Madubun dan Cerita Kematiannya

KETIKA kau membaca cerita ini, Madubun sudah mati, barangkali sebulan yang lalu.Cerita ini dibuat berdasarkan catatan seorang bekas pengikutnya yang paling setia. Perempuan lulusan sebuah universitas di Bristol, Inggris, yang kepadanya Madubun banyak mengisahkan perjalanan hidupnya. Dengan detail kekaguman yang luar biasa, dalam tulisan tangan yang rapih, perempuan itu mencatatnya di buku tulis bersampul peta dunia. Dan dua hari setelah peristiwa di Kota Suci, kepada penulis cerita ini perempuan itu menyerahkan buku catatannya lewat seorang kurir. Dalam surat pendek yang tampak ditulis tergesa-gesa, ia meminta agar penulis cerita ini menyimpan buku tersebut. Ia tak mengatakan alasan mengapa buku itu diserahkannya kepada penulis cerita ini. Kami memang sudah lama saling mengenal meski tidak bisa disebut berteman. Menulis cerita berdasarkan catatan pribadi seseorang tentu bukanlah ide yang baik. Tapi itu baik juga dilakukan supaya kau mengetahui siapa sebenarnya Madubun dan cerita di balik kematiannya. Lebih penting lagi, seperti tulis perempuan itu dalam suratnya, agar kita tahu betapa menyusahkannya menjadi manusia.


SUATU hari dalam hidupnya sebagai penjahat, Madubun diserang penyakit ganas.  Penyakit jahanam itu bukan hanya ganas, tapi juga aneh. Setelah beberapa kali melakukan operasi, penyakit itu membuat para dokter dan ahli pengobatan jadi terlihat bodoh. Jangan lagi menyembuhkan, menemukan di mana penyakit itu bersembunyi saja mereka tidak becus. Sementara, seperti hewan pengerat, penyakit itu setiap hari terus menggerogoti tubuh Madubun.

Seperti penderitaan Ayub, kurang dari setahun, Madubun jatuh miskin. Semua orang  meninggalkannya sendirian, bahkan termasuk anak-istrinya. Tapi Madubun tetap tak mau menyerah meski ia merasa sudah sampai di ujung hidupnya. Lalu ia pergi ke Kota Suci untuk menghabiskan ujung hidup yang tersisa itu. Di Kota Suci Madubun ingin mati juga dikuburkan, agar orang-orang menganggapnya mati dalam kebaikan, bukan sebagai penjahat.

Pada suatu malam di puncak sekaratnya, Madubun melihat malaikat pencabut nyawa masuk ke pondoknya yang kecil dan kotor. Malaikat itu datang sebagai lelaki berselubung kain hitam, berjalan setenang orang suci. Berdiri di sisi ranjang, ia berkata dengan suaranya yang lembut dan mulia, sehingga Madubun merasa lelaki berselubung kain hitam itu bukanlah malaikat pencabut nyawa. “Anakku, hanya ada satu jalan yang bisa membawamu keluar dari jalan kematian.”

Madubun tidak tahu siapa dia dan mengapa ia memanggilnya seperti itu. Tapi, walau tetap merasakan takut yang luar biasa, Madubun sedikit gembira karena lelaki berselubung kain hitam itu bukan malaikat pencabut nyawa. Ia datang membawa harapan. “Dan jalan itu bisa kau dapatkan, Anakku, sepanjang kau bersedia hidup sebagai pendeta, sebagai paderi dan imam,” katanya.

Sambil menahan sekarat, Madubun mengangguk. Lalu lelaki berselubung kain hitam itu meletakkan telapak tangannya, beberapa inci di atas keningnya. Dari bekas luka di telapak tangan lelaki berselubung kain hitam itu, meneteslah darah, menetesi kening Madubun, sebelum ia pergi sambil berkata, “Darah di keningmu sebagai perjanjian, Anakku. Jika kau mengingkarinya, jalan kematian akan datang padamu.”

Jadi, begitulah mulanya. Sejak itu, ada tanda hitam di kening Madubun. Tubuhnya mulai pulih dan sejak itu selama bertahun-tahun ia mulai mempelajari kitab-kitab kebajikan, berguru kepada orang-orang saleh. Berkelana dan menyepi. Hanya memakan jenis makanan tertentu berupa sayuran dan biji-bijian. Menghentikan makan sebelum merasa kenyang, pantang meminun anggur dan mencari kekayaan, apalagi bersenggama. Tak boleh sebuah kata pun keluar dari mulutnya melainkan kebenaran yang diucapkan dengan cara yang lemah-lembut.

Madubun nyaris gila menjalani semua itu. Mati-matian ia berlatih dan mematuhi semua pantangan yang dianggapnya bodoh itu. Berkali-kali ia melarikan diri, melepas jubah yang membuatnya merasa lebih mirip badut dalam rombongan sandiwara. Ia pergi meninggalkan Kota Suci dengan kegembiraan yang meluap-luap. Tetapi, belum separuh perjalanan dari gerbang Kota Suci, penyakit jahanam itu kembali menyerang tubuhnya. Ia memungut jubahnya dan kembali ke Kota Suci. Akhirnya, Madubun merasa harus menyenang-nyenangkan hatinya. Setiap hari, Madubun mencoba percaya bahwa ia merasa bahagia, setidaknya karena masih bisa hidup.

Setelah meninggalkan Kota Suci, sebagaimana dalam kisah para sufi, Madubun mengembara ke banyak tempat. Dan entah bagaimana mulanya, Madubun menemukan banyak orang mengelilinginya, menjadi pengikut dan jemaat, menyebutnya guru dan imam. Di hari upacara peribadatan, orang-orang itu mendengar setiap ucapan Madubun bagaikan kaum yang sedang mendengar perkataan seorang nabi yang sudah lama mereka tunggu kedatangannya. Setelah itu, mereka akan berebut mencium ujung jubah Madubun. Bagi mereka, Madubun bukanlah orang yang dikutuk menjadi pendeta, melainkan manusia yang tercerahkan.

Pernah suatu hari ia berkata, “Saudara-saudara, saya bukan siapa-siapa, jangan saudara-saudara mengikuti saya. Saya hanya orang yang dikutuk menjadi pendeta untuk menyelamatkan hidup saya sendiri. Saya tidak tahu apa pun tentang keselamatan hidup, apalagi iman saudara-saudara.” Seseorang bangkit dan berkata penuh hormat, “Seperti Tuan Imam selalu ajarkan. Keselamatan hidup harus dimulai dari diri sendiri, sebelum menyelamatkan hidup dan iman orang lain yang bahkan itu bukanlah urusan kita, selain hanya berupa seruan.”


KEHADIRAN para pengikutnya memang membawa perubahan dalam diri Madubun. Ia jadi gelisah memikirkan hasrat-hasrat yang terlarang dalam dirinya sebagai pendeta. Dan semua hasrat itu kini begitu dekat. Hasrat yang harus dihindarinya ketika menatap lereng dada perempuan jemaatnya. Hasrat kata-kata yang harus dipadamkannya kecuali kebenaran yang diucapkan dengan lemah-lembut. Hasrat kekayaan yang harus ditinggalkannya kecuali jubah.

Di tengah semua kenikmatan yang begitu dekat itu, lama-kelamaan Madubun melihat jubah pendeta yang dipakainya tak lebih dari pakaian seorang budak. Budak yang tak boleh berhasrat pada apa pun. Budak yang hanya hidup untuk menjalankan kewajiban. Budak yang selalu diawasi dengan ancaman kutukan berupa penyakit dan kematian yang mengerikan.

Ketika selama tujuh hari tujuh malam menyendiri, Madubun berkesimpulan perjanjiannya dulu dengan lelaki berselubung kain hitam itu telah menyeretnya ke dalam kematian yang lebih mengerikan ketimbang kematian akibat penyakit jahaman itu. Penderitaan akibat penyakit jahanam itu telah membuatnya masuk perangkap. Penyakit jahanam dan kematian kini tak lagi mengerikan, melainkan keindahan, jalan menuju kebebasan manusia dari perangkap. Setelah menyepi itu, Madubun memulai ajarannya tentang kematian.

“Kehidupan manusia tak lebih dari sebuah penjara yang dipenuhi hasrat, sehingga manusia hidup di dalamnya sebagai budak. Hanya kematian satu-satunya jalan menuju pembebasan. Di situlah kesejatian hidup yang sebenarnya.” Madubun berkata dengan suara yang lemah namun terdengar agung.

Tak lama kemudian Madubun merestui beberapa pengikutnya melakukan pembebasan, menempuh jalan kematian, masuk ke dalam api suci. Pada beberapa jemaat perempuan yang dipilihnya, Madubun lebih dulu memberi pemberkatan dengan menyetubuhi mereka. Madubun meluapkan hasratnya dan menunggu datangnya kembali penyakit jahanam itu dengan penuh harga diri.

Ketika orang-orang di Kota Suci menudingnya mengajarkan ajaran sesat, lewat kata-katanya yang lembut Madubun menyerukan pengikutnya melakukan perang suci. Mereka menyerbu Kota Suci dan membakarnya. Di tengah kobaran api yang membakar Kota Suci itulah, Madubun bersama pengikutnya melakukan upacara kebebasan menuju jalan kematian. Mereka melompat ke dalam api dengan kebahagian yang meluap-luap.

Beberapa orang yang menyaksikan peristiwa itu mengatakan, setelah api padam, di antara puing dan mayat-mayat, mereka melihat ada orang aneh yang seluruh tubuhnya diselubungi kain hitam. Ia berjalan dengan darah yang terus menetes dari kedua telapak tangannya.


Ahda Imran lahir di Payakumbuh, 10 Agustus 1966. Selain sebagai penyair dan esais, ia pernah menulis naskah drama dan monolog. Karya-karyanya, antara lain, kumpulan puisi 70 Puisi: Penunggang Kuda Negeri Malam dan Rusa Berbulu Merah; Monolog Inggit Garnasih.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahda Imran
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi 4-5 Februari 2017

0 Response to "Madubun dan Cerita Kematiannya"