May dan Revolver Tua | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
May dan Revolver Tua Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:23 Rating: 4,5

May dan Revolver Tua

DOR... dor...

Suara itu memaksa May membuka mata. Ia tergagap bangun, dengan spontan meraba sesuatu di bawah bantal. Oh masih ada, desahnya lega. Benda itu tetap di tempat, tidak panas, tidak berasap. Enam peluru masih utuh dalam lubang masing-masing.

Tok... tok...

Suara yang datang dalam tidurnya menyerupai letusan revolver, rupanya hanya suara ketukan pintu. May menyibakkan rambut panjangnya yang kusut, sembari berusaha berpikir jernih. Siapa yang datang sepagi ini? Rumah ini tak dapat dilalui mobil. Jalan setapak hanya dapat dilewati sepeda motor, itu pun harus ekstra hati-hati saat musim hujan.

Tok... tok...

May gagal menemukan titik terang di kepalanya. Tak ada janji. Tak ada catatan. Agak muskil orang kesasar meminta kopi pagi ke rumah ini. Untuk berjaga-jaga, ia menyematkan revolver tua itu ke perutnya, menyelip di antara celana tidur. Revoler yang dibelinya dari lelaki berasap di belakang bar tengah kota, seminggu sejak ibunya berpulang. Alasan membeli revolver itu absurd. May merasakan ada bahaya mengintip di sekeliling. Kadang berupa pertanyaan: di mana kau simpan warisan-warisan itu. Kadang ketakutan berupa tamu tak diundang mewakili beberapa developer. Mereka sering tiba-tiba muncul dan menanyakan kapan rumah ini mau dijual? Mau harga berapa? Akan dibangun vila-vila dengan fasilitas lapangan golf, lapangan tembak serta pacuan kuda di kawasan ini.

May terhuyung berjalan menuju pintu dengan baju tidur melambai-lambai. Ia mengintip, lalu membuka pintu sedikit.

“Hei!!” Wajah seorang perempuan menyembul di antara daun pintu.

“Kau? Kita tidak sedang membuat janji kan?” jawab May ketus, sebentuk penolakan halus. Tamu itu perempuan dempal dengan bibir menghitam oleh asap rokok, melirik revolver yang terbuka, mengundang perhatian di selipan celana tidur nyonya rumah.

“Kamu menelponku semalam, dalam keadaan mabuk,” suara tamu yang bernama Ina pelan, namun cukup tegas ditangkap May.

"Kalau kau tak mau menerimaku, aku akan pulang,” kata Ina dengan wajah datar. May melonggar, dibukanya pintu agak lebar. Begitu perempuan bernama Ina memasuki ruang tamu, ia memastikan lebih dulu bahwa tak ada penguntit atau pengintai. Begitu dirasa aman, ia mengunci pintu, lalu menyilakan Ina duduk di kursi tamu usang, kursi rotan yang beberapa bagian telah masai dimakan usia.

“Kopi? Teh?” May menatap sekilas pada Ina.

“Kopi hitam jika tidak keberatan.”

May melayang ke dapur di balik ruang tamu. Ina mengelilingi ruang tamu dengan sepasang matanya yang selalu waspada. Ruang tamu ini nol daya tarik. Tak ada pernak pernik, bunga atau sentuhan perempuan. Hanya empat buah kursi rotan dan meja tamu tanpa taplak. Bufet jati tua berisi buku-buku lama yang sudah berdebu. Jam dinding tua, serta radio transistor besar jaman entah. Ia berkunjung ke sini terakhir kali sembilan tahun lalu, saat May masih gadis.

May muncul dengan dua cangkir kopi dalam mug. Ia meletakkan kopi hitam di hadapan Ina, dan di depannya sendiri kopi susu. Aroma arabika yang digoreng menyisakan bau gosong di hidung Ina. Tapi pagi sedingin ini layak dicairkan oleh secangkir kopi, apapun rasanya.

“To the point,” May membuka percakapan dengan revolver yang masih di perutnya. Ina menatap May dengan wajah tanpa isi.

“Kau semalam menelpon, katamu butuh tenaga taktis. Karena aku sedang menganggur, bolehlah.” Suara Ina tegas patah-patah, efisien. May menghirup kopi susunya, sedikit lebih lama. Ia menatap pekat pada wajah Ina yang tidak mengandung unsur-unsur kecantikan. Sedikit kerutan, tanpa make up, rambut ala Demi Moore. Cara bicaranya mengesankan ia telah terbiasa menghadapi orang lain, apa pun pekerjaannya. Gerak-geriknya tangkas meski badannya tidak langsing. Kesan yang ditangkap May, Ina telah bekerja keras selama ini. Ia mendekatkan wajahnya ke depan Ina, lalu membuka bibir dengan suara rendah.

“Aku ingin kau merampok kantor pegadaian,” Ina terhenyak. Batal menghirup kopi kedua kalinya, tetapi ia bersikeras tampil datar.

“Pegadaian yang mana?” Ina bertanya seperti ular mendesis.

"Kota Angin di bawah sana,” jawab May datar namun yakin.

“Ada tujuan khusus?”

“Berlian ibuku ada di sana,” Ina terdiam. Memikirkan ruam mendadak di kepalanya. “Delapan tahun lalu aku menggadaikan berlian itu. Warisan almarhumah ibu. Tapi hingga kini aku tak mampu menebusnya. Maka yang kulakukan hanya membayar bunga setiap bulan.”

“Sepanjang delapan tahun?” tanya Ina dengan mata melebar. May mengangguk. “Selama delapan tahun aku bekerja membanting tulang hanya untuk membayar hutang, sama sekali tak ada untuk menabung atau bersenang-senang.”

“Pertanyaanku mungkin agak mendasar, mengapa kau menggadaikan berlian warisan?”

“Tidak bisa kujawab.”

“Kalau begitu maaf, aku tidak bersedia melakukan pekerjaan ini.”

May menyedot kopi susunya. “Maaf, ini terlalu pribadi...” Ina menatap May lurus-lurus, mendesah.
“Baiklah, aku permisi.” Ina berdiri, sekali lagi meneguk kopi hitamnya, lalu merapikan jaket kumalnya, membuat May sedikit keder.

“Sebenarnya apa urusanmu bertanya ini-itu, pekerjaanmu adalah eksekusi sesuatu, bayaran, lalu pergi.”

“Barangkali orang lain, ya. Aku tidak. Alasan bagiku sangat penting, itulah yang mendasari keputusanku mengambil pekerjaan.”

“Duduklah. Kopimu belum habis.” Kalimat yang landai seperti dua sahabat lama semestinya. Ina tersenyum tipis, kembali duduk. Kadangkala yang dibutuhkan manusia hanya teman bicara, gumam Ina dalam hati.

“Kau sudah tahu dari wujud rumahku. Semua ini melambangkan aku.”

“Kau kesepian, sedikit mabuk, kehilangan cahaya, tak punya selera.”

“Ya. Tepat.” Mereka sama-sama mereguk kopi. Lalu saling pandang.

“Berlian itu kugadaikan untuk biaya pesta pernikahan.”

“Aku sudah menduga. Walaupun tidak mewah, pestamu cukup besar.”

“Harga yang harus kutebus untuk sebuah status; Istri.”

May tersenyum sinis.

“Seharusnya pihak keluarga mempelai pria turut berbagi biaya pernikahan,” renung Ina di antara ruam kopi.

“Sekarang pernikahan ialah bisnis, tergantung siapa yang memiliki kepentingan paling besar.”

“Dengan kata lain, suamimu tidak punya kepentingan?

“Seharusnya ada, jauh lebih besar malah.”

“Lantas?”

“Pernikahan ini adalah untuk Ayahku. Judul yang tepat adalah, Menantu Untuk Ayah. Bukan Suami Untuk May.”

“Aku menikah hanya butuh beberapa ratus ribu di KUA.”

“Apakah kamu lupa? Aku bungsu, dan satu-satunya anak perempuan dari tiga bersaudara. Usiaku saat itu nyaris empat puluh.”

“Banyak jomblo akut zaman sekarang, mereka tidak gila sepertimu.”

“Pesta itu untuk ayahku yang merana sejak ibu berpulang. Lagi pula kupikir, perkawinan akan mengubah ekonomi keluarga.”

Ina tertawa keras. Tawa itu menggema ke seluruh bangunan tua ini.

“Perkawinan adalah dua beban yang disatukan secara legal melalui lembaga resmi pemerintah dan agama. Perkawinan sama sekali bukan taman firdaus tempat kau mencari istana.”

Retorika singkat itu membungkam May sekali lagi.

“Untung kau belum punya anak.”

“Anak? Mana mungkin?”

“Maksudmu?” telisik Ina lebih dalam. May menghembuskan napas.

“Dia tak pernah meniduriku.”

Bibir Ina membentuk huruf O. Sengit matanya tak mampu mencerna kalimat itu.

“Tak pernah bercinta? Haha! Absurd sekali kalian.”

“Ya, silakan tertawa. Inilah kami.”

"“Menikah dengan modal menggadaikan berlian, tapi tak pernah bersetubuh?” Ina mengerutkan kening. Ditatapnya wajah yang selalu tampil ceria dalam acara-acara arisan, reuni, atau kumpul-kumpul lainnya. Wajah ceria yang biasanya tak menampilkan masalah sama sekali. Tapi kali ini....

“Sudah kubilang, ini adalah mantu untuk ayah,” desaunya lirih.

“Lelaki macam apa yang tak pernah meniduri istrinya?”

“Lelaki yang tidak doyan perempuan.”

“Oh. My God.”

Ina benar-benar berjuang agar bola matanya tidak melompat keluar dari kelopaknya. “Kamu tidak sedang membual kan?”

“Aku lelah.”

“Kenapa kalian tidak bercerai?”

“Ingat, dia menantu untuk ayah.”

Ina menatap dalam-dalam wajah May yang tampak putus asa. Berkabut. “Kalau kau memang tak punya uang untuk menebusnya, ikhlaskan saja. Biarkan pegadaian menjual asetmu. Kau bebas.”

“Masalahnya, sudah tiga kali aku didatangi ibu dalam mimpiku, menanyakan perhiasan itu.”

“Jadi apa sebenarnya masalah di sini? Membayar hutang, menceraikan suami, atau lari dari mimpi?”

“Pertama, ceraikan suamimu. Kau bebas masalah dan sakit hati.”

“Bagaimana dengan ayahku? Apa aku harus merusak masa tuanya dengan berita perceraianku.”

“Ok, nomor dua, jual rumah ini, tebus berlian itu, bayar hutang lainnya, kau beli rumah susun di pinggir kota.”

“Hei, tulisan di depan itu jelas. Ini rumah bersejarah! Kalau aku menjual atau mengubah bentuk bangunan cagar budaya, harus seizin pemerintah kota. Ada undang-undangnya.”

“Solusi ketiga, pinjam uang pada orang, tebus berlian itu, lalu jual perhiasannya untuk membayar hutang yang tadi, beres semuanya.”

“Tidak. Itu bukan solusi, arwah ibu akan datang lagi.”

Ina menatap May gusar. Ia tak melihat celah barang secuil pun untuk solusi. Sisa kopi hitam diteguknya, lalu kehampaan menjaga jarak keduanya hingga berpuluh-puluh menit selanjutnya.

Ina melihat jam tua di dinding. Dengan hati-hati berkata, “Maaf. Aku tidak punya solusi keempat atau kelima dan seterusnya. Permisi.”

Ina bangkit, mengancingkan jaket, meninggalkan May yang tampak kosong. Ia menutup pintu dan menoleh sekali lagi pada nyonya rumah. Sebenarnya dia cantik, hanya kurang piknik.

Dor...

Terdengar suara revolver meletus.

2017


Wina Bojonegoro, cerpenis, dan penggerak dunia literasi. Buku cerpennya; Mozaik Kota Kenangan (2016).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wina Bojonegoro
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 12 Februari 2017 

0 Response to "May dan Revolver Tua"